Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Interpolasi dalam Kakawin Ramayana

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 04 November 2013
di Kuliah Umum - 0 komentar

29-10-2013 10.00 Ruang Chairil Anwar, Fakultas Ilmu Budaya Unair

Kuliah Tamu: Surat Sita dan Masalah Interpolasi dalam Kakawin Ramayana Jawa Kuna

 

Salah satu rangkaian acara dalam rangka ulang tahun ke-25 tahun Program Studi Sastra Indonesia Unair adalah kuliah tamu Jawa Kuna yang menghadirkan dosen tamu Prof. Dr. Willem van der Molen. Beliau adalah seorang pakar sastra Jawa Kuna yang memperoleh gelar guru besar luar biasa dari Universitas Indonesia, dan mengajar di Universitas Leiden, Belanda, sejak tahun 1983 hingga 2008. Karyanya yang utama adalah desertasinya yaitu Javaanse Tekskritiek dan proyek pemetaan naskah koleksi Merapi-Merbabu.

“Filologi adalah hobi, bidang saya, tapi ketika disebutkan keahlian, saya sendiri masih meragukan keahlian saya karena masih dalam proses belajar,” ujar Pak Molen membuka perkuliahan. Interpolasi dalam kajian filologi berarti pemalsuan, dapat berupa penyisipan kata, kalimat, dan sebagainya dalam suatu naskah. Salah satu naskah Jawa Kuna yang dicurigai mengandung interpolasi adalah naskah kakawin Ramayana.

Mulanya Pak Molen memaparkan dua pendapat dari para filolog yang telah mengkaji masalah interpolasi dalam kakawin Ramayana. Yang pertama ada Prof. Dr. E.M. Uhlenbeck, guru besar Universitas Leiden, Belanda, yang curiga akan uraian (semacam wejangan berupa pidato) tentang nasihat bagaimana menjadi raja oleh Rama kepada adiknya, Lesmana. Di sini terdapat kejanggalan karena Rama sendiri saat itu belum menjadi seorang raja.

Setelah meneliti hal tersebut, Prof. Dr. E.M. Uhlenbeck menemukan bahwa metrum di sarga 3 menyimpang karena banyak struktur metrum yang berlainan, bahkan tidak dikenal. Dan ketika uraian Rama tersebut dihilangkan, dari segi cerita lebih mulus dan sarga 3 tampak sesuai kaidah. Sehingga beliau menarik kesimpulan bahwa uraian Rama tersebut merupakan interpolasi oleh penyalin yang berkepentingan sehingga membuatnya berbeda dari aslinya.

Kemudian pendapat kedua berasal dari kecurigaan Prof. Dr. W. Aichele dari Hamburg (Surabaya-nya Jerman, kata Pak Molen) akan interpolasi pada kakawin Ramayana tersebut yang berupa surat Sita. Di  sarga 11 bait 18 dan sarga 11 bait 19 diceritakan Hanoman memberikan permata beserta surat dari Sita. Prof. Dr. W. Aichele mencurigai cerita yang menjadi tidak masuk akal karena surat Sita yang menyebut Hanoman, padahal harusnya sebelumnya Sita tidak tahu mengenai Hanoman yang akan mengunjunginya. Dan ketika surat Sita tersebut tidak dianggap, cerita dapat tetap berjalan mulus, sehingga beliau menyimpulkan bahwa surat Sita merupakan interpolasi penyalin.

Pak Molen juntrung membantah kedua pendapat tersebut. Pada pendapat pertama beliau memiliki gagasan baru, yaitu kecurigaan bahwa bisa saja sarga yang ada memang variasi dari penulis naskah tersebut. Kemudian pada gagasan kedua yang menyatakan surat Sita merupakan interpolasi, beliau berpendapat bahwa surat Sita tersebut memang diperlukan dalam naskah Ramayana. Permata yang diberikan beserta dengan surat Sita merupakan bentuk identitas yang menyatakan bahwa Hanoman adalah mata-mata Rama dan merupakan tanda bahwa Sita sudah ditemukan, namun dalam cerita tersebut ada perlu lain sehingga harus ada surat karena hal tersebut tidak dapat disampaikan oleh permata saja.

Kemudian Pak Molen menyatakan bahwa adanya waktu penulisan surat Sita, yaitu pada saat setelah bertemu Hanoman, sehingga surat tersebut menjadi masuk akal. Pada cerita juga terdapat kekhawatiran Sita apabila tidak dapat kembali pada Rama, sehingga dalam suratnya Sita menerapkan ilmu retorika yaitu meyakinkan pembaca (Rama) bahwa dia tulus. Hal ini diperkuat dengan adanya bukti arsip bahwa surat Sita ditulis pada daun lontar dan terdapat prasasti yang menunjukkan adanya surat yang dikirim.

Sebelum memulai sesi tanya-jawab dan diskusi, Pak Molen berpesan agar mahasiswa hendaknya teliti dan kritis dalam menghadapi naskah kuna itu sendiri, juga pada gagasan-gagasan para ahli, termasuk pendapat beliau.

Apa motif dari interpolasi seorang penyalin?

“Sampai sekarang, memang motif dalam interpolasi belum dapat diungkapkan karena belum menjadi kajian mendalam.”

Mengapa Bapak tertarik mempelajari epos Ramayana yang berbahasa Jawa Kuna, sedangkan orang Indonesia asli saja jarang ada yang mau mempelajarinya?

“Saya tidak tahu mengapa saya tertarik...” diikuti gelak tawa seluruh peserta kuliah, sedang Pak Willem tersenyum simpul sebelum kemudian melanjutkan, “ya ini ada unsur bercanda, tapi saya serius. Kadang saat kita tertarik pada suatu bidang, kita tidak memerlukan alasan.”

“Saya tidak tahu mengapa saya tertarik pada kajian sastra, utamanya Indonesia, kemudian Jawa Kuna, yang pasti bukan sastra Inggris. Ketika belum banyak yang mau mempelajarinya, saya merasa tertarik begitu saja.”

“Menghadapi teks Ramayana adalah tantangan untuk saya, saya tidak bilang novel-novel yang kekinian lebih dangkal, tidak, tapi memang dari segi fungsi sudah lain. Dalam epos-epos ada pengalaman manusiawi yang kaya. “

“Mungkin suatu saat jika pertanyaan ini kembali ditanyakan, jawaban saya akan berbeda. Pengalaman atau sesuatu yang lain, yang baru, yang saya dapatkan dari membaca teks tersebut, membuat alasan saya akan terus berbeda.”

 “Mengenai orang Indonesia yang belum banyak tertarik pada kajian filologi, saya rasa karena pada tingkat pendidikan dasar memang belum diperkenalkan, orang Indonesia cenderung masih memperhatikan yang modern.”

Mengapa banyak naskah Indonesia dibawa ke Belanda?

“Ya, itu jadi alasan nantinya kalian bisa ke Belanda,” canda Pak Molen. “Sebenarnya ada dua hal. Ada orang Belanda yang datang sebagai turis, tidak tahu apa-apa mengenai naskah dan ketika menjumpainya menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh dan unik sehingga membawanya untuk artefak saja.”

“Tapi ada seorang tokoh abad ke 19, van der Dijk, beliau yang menyusun kamus Jawa Kuna-Belanda pertama yang membutuhkan waktu kurang lebih 20 tahun, itu di Bali, dan saat itu belum ada perpustakaan, sehingga harus menyalin teks dari kelompok-kelompok masyarakat, dan hanya pada saat upacara saja. Bisa dibayangkan betapa sulitnya.”

“Ini bukan hadiah atau perampokan, tapi hasil karya serius untuk filologi. Banyak filolog Indonesia yang tidak tahu bahwa naskah tidak hanya ada di Leiden, beberapa naskah asli maupun salinan sudah ada di perpustakaan nasional di Salemba, Jakarta.”

Lucky Ariatami (121211132041)

bersama Prof. Dr. Willem van der Molen

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    91.926