Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Teori Sastra Klasik

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 10 October 2013
di Teori Sastra - 0 komentar

Dalam menganalisis suatu karya sastra, seorang peneliti tidak hanya membutuhkan kemampuan ilmu sastra, daya kreativitas, wawasan, imajinasi, dan intuisi yang mendukung suatu studi sastra, tetapi juga membutuhkan teori yang berfungsi sebagai alat yang menentukan cara kerja dalam menganalisis suatu karya sastra tersebut. Berikut ini teori sastra klasik yang merupakan dasar dari berbagai teori yang terus dikembangkan.

1. Teori Mimesis

Teori mimesis (mimetik) merupakan teori yang paling klasik dalam teori sastra, yang mencoba menjelaskan hubungan antara karya sastra dengan kenyataan. Teori mimesis menjelaskan hubungan karya sastra sebagai imitasi dari lingkungan/semesta/kenyataan (universe).

Jelas bahwa teks sastra memang tidak lepas dari dunia nyata, tapi teks sastra tersebut adalah ‘dunia baru’ yang telah dikreasi melalui konvensi dan inovasi oleh pengarangnya. Dunia empirik tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, hanya dapat mendekati lewat mimesis, peneladanan, pembayangan, atau peniruan.

Diawali dengan dialog yang dilakukan oleh Plato dalam bukunya Republic, yang mencoba dalam salah satu bagiannya mengkonsepkan teori seni bahwa sastra sebagai imitasi/tiruan dari kenyataan. Pemikiran Plato tentang seni kemudian ditentang oleh muridnya yakni Aristoteles, yang tidak lagi meletakkan karya sastra semata-mata sebagai tiruan. Ia menganggap bahwa dalam proses imitasi itu terdapat kreativitas (berupa gagasan, renungan, imajinasi dsb.) penciptanya (artist/authors), sehingga perlu diinterpretasi lebih jauh.

Dalam buku M. H. Abrams (1958:6) dinyatakan bahwa ada empat elemen situasi total karya sastra (four elements in the total situation of a work of art), yakni: the work (karya sastra); the artist/authors (pengarang); universe (semesta/alam/lingkungan/kenyataan); dan the audience (pembaca).

Dapat disimpulkan bahwa teori mimesis menitikberatkan pada seberapa jauh realitas ditransformasi dalam suatu karya sastra, sehingga mengkongkretkan pemahaman atau makna-makna implisit dalam karya tersebut dan mencoba menangkap pikiran/kreativitas baru untuk kehidupan. 

2. Teori Ekspresif

Menurut M. H. Abams, teori ekspresif menitikberatkan kajiannya pada pengarang (authors) selaku pencipta karya sastra, khususnya yang berkait dengan maksud/tendensi/niatan pengarangnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa wilayah kajian teori ekspresif terletak pada karya sastra dan pengarang.

Dalam proses interpretasi, pengarang menjadi penentu pemberian makna apa yang dapat dikonkretkan. Gejolak jiwa apapun yang dialami pengarang dianggap mempengaruhi dan tertuang dalam karyanya sehingga biografi dan pemikiran-pemikiran pengarang menjadi penting.

Arah penginterpretasian dan pemaknaan seperti ini dalam hermeneutika lebih mengikuti cara-cara yang dilakukan hermeneutika tradisional. Jadi, faktor eksternal di luar teks yakni pengarang menjadi penentu makna sebuah teks yang dikaji, sehingga peneliti perlu memahami kembali niat pengarang karena di dalamnya ada maksud pengarang, dan tak ada teks yang objektif.

3. Teori Pragmatik

Teori pragmatik menitikberatkan kajiannya pada pembaca (bukan berarti mengabaikan teks). Teori ini berasumsi bahwa setiap teks yang dihadapi telah terkandung nilai sehingga setelah dibaca karya sastra tersebut memberikan makna yang berdampak kepada masyarakat pembaca.

Analisis berdasarkan teori pragmatik ini cenderung pada apa yang akhirnya didapatkan dan dirasakan oleh pembaca setelah menghadapi karya sastra. Namun pembaca cenderung dianggap pasif karena hanya menggali nilai yang telah terkandung (telah ada) dalam teks. Sehingga pembaca bukanlah sebagai penentu makna melainkan makna dianggap telah dengan sendirinya ada dalam karya sastra, dan pembaca hanya mengungkapkannya.

Dalam pemanfaatan teori pragmatik, data yang diperlukan ada dua yaitu data yang terkait dengan teks, yakni teks yang mula-mula dibaca oleh pembaca yang memanfaatkan teori ini; dan data yang terkait tentang pembaca, yang membaca teks dan merasakan dan mendapatkan manfaat atas teks yang dibaca. Kedua data tersebut mutlak ada dalam pemanfaatan teori ini.

4. Teori Objektif

Teori ini disebut juga sebagai teori intrinsik dan ekstrinsik karena menitikberatkan pada analisis teks itu sendiri sebagai objek kajian yang penting, tanpa melihat keterkaitannya dengan pengarang, semesta, dan pembaca.

Teori ini membuat kajian yang dilakukan cenderung berada dalam lingkup kajian internal teks (intrinsik dan ekstrinsik) dan tidak melibatkan unsur eksternal teks dalam proses pemahaman teks dan pengungkapan nilai/makna.

Fokus teori objektif adalah intrinsik dan ekstrinsik; intrinsik merupakan wujud/bentuk yaitu menekankan pada kajian relasi antarunsur yang membentuk teks, dan ekstrinsik merupakan isi yaitu aspek-aspek yang muncul dalam teks. Teori objektif inilah yang nantinya dikembangkan dan dikenal sebagai teori struktural.

 

Untuk menentukan teori apa yang akan digunakan dalam dalam menganalisis suatu karya sastra, maka peneliti harus memahami setiap kekurangan dan kelebihan teori-teori tersebut, sehingga peneliti dapat menentukan teori yang paling representatif. Peneliti dapat menggunakan sepenuhnya, sebagian, atau beberapa bagian teori berdasarkan kebutuhan. Perlu ditekankan bahwa teori bukan segala-galanya, karena dalam proses analisis tetap diperlukan pengkritisan peneliti, dan triangulasi serta modifikasi atas teori dalam pemanfaatannya.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    91.896