Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Buku Favorit: Bilangan Fu

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 24 March 2013
di Sastra Indonesia - 0 komentar

Bilangan Fu karya Ayu Utami sejauh ini merupakan novel sastra favorit saya. Novel ini bertokohutamakan Yuda, seorang pemanjat tebing yang mengakui dirinya skeptis, peragu dan kurang peka, yang kemudian berkenalan dan menjalani persahabatan dengan Parang Jati yang intelek dan bijaksana, namun amat misterius. Meski Yuda menyukai memanjat tebing, tetap saja ia anak kota yang hidup 'normal' jika dibandingkan dengan perjuangan hidup Parang Jati. Mereka sama-sama kritis namun mempunyai cara pandang yang berbeda mengenai alam. Parang Jati dengan kekurangan dan kelebihannya, serta kepekaannya mampu memahami hidup lebih dalam, berpikir kritis, dan mengedepankan laku kritik. Sedangkan Yuda yang mulanya amat tidak peduli dengan orang di sekitarnya, semenjak bersahabat dengan Jati, lambat laun terbuka pikirnya untuk tidak serta merta menilai sesuatu dari permukaannya saja. Perbedaan ini yang kemudian menjadi daya tarik untuk mengikuti kisahnya, petualangan bahkan perjuangan hidup Jati yang kritis dengan Yuda yang rasional.

Ayu Utami membagi buku ini menjadi tiga bab; Modernisme, Monoteisme, dan Militerisme. Yang tiap babnya merupakan kritik terhadap paham itu sendiri. Berlatar Sewugunung, mulanya Yuda yang sejatinya anak kota amat kontra dengan adanya siaran di televisi yang ia anggap sebagai pembodohan, dan segala ritual adat ia anggap sebagai takhayul belaka. Namun persahabatannya dengan Jati banyak mengubah pola pikirnya. Ia mulai menerima kebudayaan dan kepercayaan itu sebagai sesuatu yang memang harus ada untuk menyelamatkan bumi, Jati menyebutnya dengan agama bumi. Sisi positif dari kepercayaan-kepercayaan tersebut adalah akan menimbulkan keseganan dengan alam, yang kemudian manusia akan lebih menghargai alam, merawatnya dan tidak mengeksploitasinya. Sedangkan sisi negatifnya apabila kepercayaan tersebut disalahgunakan untuk kekuasaan semata. 

Perdebatan antara kepercayaan tersebut dengan agama yang meyakini adanya Tuhan yang satu (monoteisme) dianggap Parang Jati sebagai sesuatu yang dalam prakteknya, beserta modernisme (monoteisme tersebut) akan menjadi agen globalisme yang menghancurkan kebudayaan lokal. Karena memang dalam kenyataannya, monoteisme, dalam menegakkan kebenarannya sendiri kerap memakai bahasa kekerasan. Begitu pula dengan adanya militerisme.

Banyak jawaban (juga pertanyaan yang kemudian muncul tak keruan) yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Ayu Utami, meski buku ini beliau akui sebagai hasil fantasi belaka, turut memberi bukti, fakta, apa yang terjadi sesungguhnya dalam masyarakat kita. Beliau sertakan pula kisah dari Babad Tanah Jawi, kutipan kitab perjanjian, dan sebagainya. Riset yang dilakukannya selama 4,5 tahun menghasilkan novel yang mengkritik paham masyarakat umum selama ini dan Ayu menawarkan cara pandang lain yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Menurut saya, buku yang bagus adalah buku yang dapat membuat saya ingin sesegera mungkin menyelesaikannya sampai akhir karena penasaran, sekaligus ingin 'awet-awet'  karena sayang kalau kisahnya harus berakhir. Dan hal tersebut saya alami ketika membaca Bilangan Fu.

 

*sebelumnya pernah ditulis di akun goodreads (31 Januari 2013)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    91.940