Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Budaya Patriarki melalui Peran dan Relasi antara Tokoh Utama Lelaki dan Dunia Kulinari dalam Filosofi Kopi, Madre, dan Smokol

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 14 August 2019
di Semiotika - 0 komentar

Lucky Ariatami

NIM 121211132041

Budaya Patriarki melalui Peran dan Relasi antara Tokoh Utama Lelaki dan Dunia Kulinari dalam "Filosofi Kopi", "Madre", dan "Smokol"

Prolog

Cerpen karya sastrawan Indonesia sering kali menawarkan suatu kebaruan dalam struktur maupun temanya. Salah satunya yaitu tiga cerpen yang memberikan porsi utama pada dunia kulinari dan diterbitkan dalam satu dekade terakhir: "Filosofi Kopi", "Madre", dan "Smokol". Dapat dikatakan demikian sebab dunia kulinari memberikan napas pada cerita sehingga apabila segi kuliner dalam cerita dicabut, cerita tidak mungkin berlanjut.

"Filosofi Kopi" merupakan nama sebuah kedai kopi yang dijalankan sendiri oleh kedua pemiliknya yaitu Ben dan Jody. Melalui sudut pandang penceritaan Jody, diceritakan betapa Ben—seorang barista terandal di Jakarta, yang sangat idealis dan menganggap kopi dan aspek filosofisnya yang paling penting— terhenyak karena racikan kopi terbaiknya kalah nikmat dengan kopi sederhana dari pelosok desa.

"Madre" sendiri adalah nama sebuah adonan biang yang menjadikan sebuah usaha toko roti sangat terkenal, namun perkembangan zaman membuat toko roti klasik di Jakarta ini bangkrut. Harapan pun muncul ketika madre diwariskan kepada Tansen, seorang pemuda yang kontra dengan rutinitas dan hidup dari upah serabutannya di Bali. Melaui Tan de Bakker, Tansen menemukan kebahagiaan dalam keluarga barunya.

"Smokol" merupakan penamaan untuk makan tanggung di antara sarapan pagi dan makan siang. Diceritakan tokoh Batara senang sekali menyelenggarakan smokol dengan hidangan-hidangan yang eksperimental. Batara berkeyakinan bahwa rasa bahagia adalah perasaan kenyang sebab itulah yang selalu dihadirkan oleh mendiang Omanya, tapi pada suatu hari ia harus menghadapi fakta bahwa di luar sana banyak orang kelaparan yang membuatnya kecewa akan Oma Sjanne.

Melalui kulinari, secara implisit ketiganya memang membicarakan hal-hal esensial dalam kehidupan, khususnya kehidupan di Indonesia yang meliputi kekeluargaan, pluralitas, bahkan etnisitas. Namun, selain segi kulinarinya, jika dilihat melalui sudut pandang pemilihan tokoh dan penokohannya akan ditemukan pula pola yang sama pada ketiga cerpen ini. Salah satunya adalah pemilihan tokoh utama laki-laki dengan masing-masing kelihaiannya dalam bidang kulinari—yang telah go public. Maka tulisan ini akan berfokus pada fakta teks yang semacam itu untuk mengungkap makna implisit yang terkandung dalam ketiga cerpen.

Tinjauan Pustaka

Sebelumnya, Bramantio dalam "Sastra dan Kulinari: Evolusi dari Gastronomi ke Gastrosofi" telah mencoba mengungkap makna kulinari yang diusung dalam ketiga cerpen tersebut. Melalui semiotika Barthes, ketiganya dimaknai sebagai miniatur Indonesia yang memiliki harapan bahwa Indonesia memiliki generasi muda yang dengan semangat globalnya tetap memiliki kesadaran untuk menerima, menggali, dan memelihara nilai-nilai filosofis leluhurnya, dan jiwa Indonesia salah satunya terkandung dalam kulinari yang menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Dari pemaknaan itu, saya pikir memang yang ingin dicermati dalam analisis tersebut adalah pemaknaan postif dari pengusungan dunia kulinari dalam ketiga cerpen sehingga belum menyinggung "sisi lain"-nya. Maksudnya, jika karya sastra pada hakikatnya memang menawarkan berbagai makna, maka seperti sebuah koin yang memiliki dua sisi, "Smokol", "Filosofi Kopi", dan "Madre", saya asumsikan memiliki "sisi lain" bila ditanggapi dengan cara pemaknaan dan pemanfaatan teori yang berbeda.

Seperti yang diketahui, selama ini "wilayah dapur" merupakan wilayah domestik yang dalam budaya patriarkal "dihuni" oleh para perempuan. Namun dalam ketiga cerpen tersebut, diceritakan wilayah tersebut telah melampaui batas domestiknya menjadi wilayah publik dan menariknya, peran utama yang diceritakan memiliki bakat dalam mengolah makanan didominasi oleh para tokoh laki-laki.

Seperti yang telah diuraikan di awal, tulisan ini akan berfokus pada pemilihan tokoh dan penokohannya, salah satunya adalah pemilihan tokoh utama laki-laki dengan masing-masing kelihaiannya dalam bidang kulinari untuk mengungkap makna yang terkandung dalam ketiga cerpen berkaitan dengan peran domestik-publik. Untuk mewujudkan analisis tersebut akan dimanfaatkan teori semiotika Riffaterre yaitu dengan melihat pola varian, model, dan pada akhirnya menyimpulkan matriks dalam ketiga cerpen untuk kemudian memaknainya.

Filosofi Kopi

Ben dan Jody pemilik kedai Filosofi Kopi, memiliki ketertarikan dan kepribadian yang berbeda. Ben diceritakan sebagai laki-laki yang sangat terobsesi dengan kopi, ia pun belajar meracik kopi sampai ke luar negeri dan disebut-sebut sebagai salah satu barista terbaik di Jakarta. Jody sendiri lebih berbakat dalam manajemen keuangan dan promosi kedai. Keduanya diceritakan saling mengisi kekurangan masing-masing hingga memiliki hubungan kekeluargaan. Puncak konfliknya adalah saat Ben mengetahui adanya racikan kopi tiwis milik Pak Seno dari seorang lelaki yang mengatakan bahwa racikan terbaiknya sekadar "lumayan". Di saat Ben terpuruk dan putus asa, Jody mengingatkannya akan ilusi kesempurnaan yang selama ini dikejarnya melalui sebuah kalimat yang merupakan filosofi kopi tiwus: walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.

Afrizal Malna(2015) mengungkapkan bahwa Dee dalam Filosofi Kopi menggunakan kopi sebagai metafor bagaimana tubuh urban membangun dunianya antara kerja keras, penelitian tentang kopi, hingga membangun kafe sebagai narasi bagaimana budaya tentang kesempurnaan terus diinvestigasi dengan cara yang ekstrim. Tetapi saat muncul kenyataan bahwa ada "kopi tiwus", tidak hanya ilusi mengenai kesempurnaan yang porak-poranda, tapi juga ruang urban sebagai ruang para pendatang untuk mewujudkan semua hal yang dianggap mewakili kesempurnaan, sehingga cerpen ini dimaknai sebagai peruntuhan dinding bipolar antara desa dan kota untuk keberagaman.

Interaksi Ben dan Jody yang membuat kedainya dapat kembali berjalan dapat dianalogikan sebagai peran ibu dan ayah dalam sebuah keluarga. Ketika keluarga Filosofi Kopi dengan Ben sebagai ibunya, menemukan bahwa Ben's Perfecto, anaknya, bukanlah anak yang paling sempurna, Jody sebagai ayah menyadarkan Ben akan ketiadaan kesempurnaan itu sehingga menghasilkan sebuah pencapaian "keluarga bahagia".

Madre

Tansen, seorang pemuda yang menjalani kehidupannya dengan bekerja serabutan, dihadapkan pada kenyataan silsilah keluarga yang selama ini tidak diketahui. Ia yang mulanya tidak mau ambil pusing dengan warisan toko rotinya, berubah menjadi laki-laki yang peduli pada nasib toko roti tersebut dan menemukan kekeluargaan melalui para pegawainya.

Tansen diceritakan dapat langsung membuat roti di kesempatan pertamanya yang diajari oleh Pak Hadi, kemudian ia bertemu dengan Mei yang hendak membeli adonan biangnya sebab ia pernah membunuh adonan biang keluarganya, namun Tansen tak jadi menjualnya. Mei pun membuat kontrak kerjasama sehingga Tan de Baker dapat kembali beroperasi dengan bantuan Fairy Bread.

Di sini, analogi kekeluargaan kembali dihadirkan. Ketika keluarga Tan de Baker bangkrut, Tansen sebagai ibu yang mengayomi bersama Mei sebagai bapak yang memanajemen produksi berhasil menyelamatkan Tan de Baker dengan Madrenya sehingga menjadi "keluarga bahagia"

Smokol

Batara alias Batre adalah seorang koki andal yang selalu menyelenggarakan smokol. Diceritakan ia sangat terobsesi dengan smokol sehingga menyajikan hidangan dengan cara yang eksperimental dan cenderung mengawinkan berbagai jenis makanan dari berbagai waktu dan tempat. Namun pada akhirnya dia menemukan realita bahwa kebahagiaanya melalui kuliner tidak sepadan dengan adanya orang-orang yang mati kelaparan di luar sana.

Berbeda dengan kedua cerpen sebelumnya, "Smokol" merefleksikan sebuah "kegagalan keluarga" saat Oma Sjanne berperan sebagai sosok ibu dari Batara, sosok yang menjelma keibuan karena pengaruh Oma Sjanne, mengulangi kesalahan yang sama melalui keserakahannya dalam menyajikan hidangan.

Batre yang sangat lihai memasak di akhir cerita diceritakan semakin kurus karena kesedihannya itu. Batre sendiri sebenarnya dapat pembaca temui pula pada Cala Ibi sebagai seorang teman pemberi buku tulis pada tokoh utama yang diceritakan melalui ingatannya (Amal, 2004:130-132). Diceritakan di dalamnya bahwa Batre telah melakukan pengembaraan. Mengingat bahwa beberapa cerpen karya Nukila Amal memang berkaitan dengan Cala Ibi, saya pikir penghadiran Batre di dalamnya tidak terlalu berkesan untuk dirinya sendiri, kecuali pada tokoh utama Cala Ibi yang diberinya sebuah buku.

Saya pikir "Smokol" pada akhirnya merupakan kritik atas pemerintahan. Melalui Batara sebagai gastronom yang dapat mencipta hidangan yang sampai diibaratkan menjadi sebuah dunia merupakan simbol atas kekuasaan tertinggi, yang dapat dipersempit lagi merupakan presiden; dengan kelompensmokol yang dapat disuruh-suruh olehnya, dan meski riuh berpendapat tidak mengubah apapun merupakan simbol atas petinggi negara dalam sistem pemerintahan; dan Oma Sjanne merupakan gambaran pemerintahan sebelumnya yang luput mengenai keadaan suatu wilayah di luar kota besar (terdapat sindiran dalam narasinya, "... Ia manusia paling riang gembira sekelompok ini, bahkan sekota Jakarta..."(hal.8)

Simpulan

"Smokol", "Filosofi Kopi", dan "Madre" menghadirkan realitas geliat dapur yang selama ini sebagai wilayah domestik menjadi publik disebabkan oleh interaksi antartokoh. Interaksi tersebut terwujud melalui kegiatan yang tidak sekadar "memasak" tapi memikirkan filosofinya dan membuat hidangan lebih bermakna sehingga mempererat rasa kekeluargaan di antara para tokohnya. Namun, meski para tokoh yang berkecimpung dalam wilayah tersebut didominasi oleh laki-laki diketahui bahwa peran-peran yang dijalani adalah peran keibuan (yang selama ini menjadi sterotip dalam wilayah domestik) sehingga dapat disimpulkan bahwa ketiga cerpen tersebut tampaknya saja ingin mendobrak budaya patriarkal melalui tokoh laki-laki yang memasuki wilayah domestik, tetapi rupanya tidak demikian. Hal tersebut diperkuat dengan adanya sosok perempuan yang malah mengacaukan kondisi di dalam wilayah tersebut (seperti Oma Sjanne dan Mei). Sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa ketiga cerpen ini menguatkan budaya patriarkal sebab mewujudkan tokoh laki-laki yang bisa menguasai segala bidang baik domestik maupun publik.

 

 

Varian

 

Tokoh dan Penokohan dalam  Cerita

Fokus Cerita

Latar Cerita

 

Tokoh Utama

Tokoh Andalan

Tokoh Tambahan

Tokoh Lataran

"Tradisional"

"Modern"

Filosofi Kopi

Ben: barista ambisius yang selalu mengejar kesempurnaan, tapi pada akhirnya menerima bahwa kesempurnaan pun dapat ditemukan dalam kesederhanaan

Jody: teman sekaligus manager kedai Filosofi Kopi

Seorang lelaki yang pernah meminum kopi tiwus dan memberi tahu Ben dan Jody bahwa itu kopi terenak

Pak Seno: penanam, pemberi nama, dan peracik kopi tiwus

Minuman kopi

Warung Pak Seno, Jawa Tengah

Kedai Filosofi Kopi, Jakarta

Madre

Tansen: freelancer yang tidak ingin terikat pada rutinitas tapi pada akhirnya menemukan "rumah" dan "keluarga"

Mei: pernah membunuh adonan biang neneknya, dan ingin menebusnya dengan membantu Tansen menghidupkan kembali Tan de Bakker

Pak Hadi: tangan kanan kakek Tansen, penjaga Tan de Bakker serta yang mengenalkan  dan mengajari Tansen membuat roti

Bu Cory, Bu Sum, Bu Dedeh, dan Pak Joko: pegawai Tan de Bakker

Adonan biang

Tan de Bakker, Jakarta

Fairy Bread, Jakarta

Smokol

Batara: seorang gastronom yang memiliki penghayatan lebih atas makanan dan pada akhirnya menemukan realitas lain di luar "negeri"nya

Oma Sjanne: mendiang oma(nenek) Batara yang menginspirasi Batara untuk selalu memasak

TV: media yang membuat Batara tahu bahwa kenyataannya ada yang kelaparan di luar sana

Kelompensmokol yaitu Syam, si kembar Anya dan Ale: sahabat Batara yang selalu hadir saat smokol

Smokol (makan tanggung di antara sarapan pagi dan makan siang)

Tomohon, Sulawesi Utara

Jakarta


Referensi:

Amal, Nukila. 2004. Cala Ibi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

________. 2009. "Smokol". Dalam Ninuk Mardiana Pambudy (Ed.), Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Bramantio. 2010. "Metafiksionalitas Cala Ibi: Novel yang Bercerita dan Menulis tentang Dirinya Sendiri". Dalam Zen Hae (Ed.), Dari Zaman Citra ke Metafiksi: Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ. Jakarta: KPG.

________. "Sastra dan Kulinari: Evolusi dari Gastronomi ke Gastrosofi" (Online), (https://www.academia.edu/8897618/Sastra_dan_Kulinari_Evolusi_dari_Gastronomi_ke_Gastrosofi, diakses pada 12 November 2015).

Dee. 2012. Filosofi Kopi. Yogyakarta: Bentang.

________. 2011. Madre. Yogyakarta: Bentang.

Djoko Damono, Sapardi. 2009. Sastra Bandingan. Ciputat: Editum.

Malna, Afrizal. 2015. "Bungkusan Urban: Hantu di Belakang Hantu". Makalah dipresentasikan dalam Seminar Sastra, Seni, dan Budaya Urban di FIB Unair, 19 November 2015.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    88.173