Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Antara Sihir Perempuan dan Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 29 June 2016
di Apresiasi Sastra - 0 komentar

 Sihir Perempuan (2005) karya Intan Paramaditha adalah satu kumpulan cerpen sastra Indonesia yang lahir selama satu dekade lalu dengan kekhasan tema dan gaya kepenulisannya. Beberapa telaah yang pernah membahas kumcer ini menitikberatkan pada kentalnya tema mistis serta intertekstualitas cerpen dengan mitos dan dongeng baik lokal maupun internasional, serta kaitannya dengan tema keperempuanannya[1]. Beberapa aspek tersebut ternyata dapat kembali dijumpai dalam kumcer Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang (2015) karya Guntur Alam.

Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang(selanjutnya disebut MPMK) memiliki pola yang serupa dengan Sihir Perempuan. Apalagi, dalam satu dari kedua puluh satu cerpennya, terdapat pesan penulis bahwa cerpen tersebut ditulis untuk Intan Paramaditha. Cerpen yang merupakan dekonstruksi dari dongeng Putri Salju dengan judul "Gadis Buruk Rupa dalam Cermin" memang tampaknya sangat terinspirasi oleh "Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari".

Cerpen-cerpen dalam MPMK memang cenderung lebih singkat bila dibandingkan dengan sebelas cerpen dalam Sihir Perempuan. Mayoritas cerpen dalam MPMK menggunakan alur linear dan teknik bercerita melalui perspektif tokoh utama, berbeda dengan Sihir Perempuan yang alur dan tekniknya lebih beragam.

Sihir Perempuan selalu bermain-main dengan setiap unsur pembentuk ceritanya. Sudut pandang yang ditawarkan beragam dan beberapa cerpennya terkesan interaktif karena melibatkan pembaca sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan kata ganti "kau". Berbeda dengan MPMK yang lebih banyak menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu.

 


Untuk mempermudah dalam membandingkan MPMK dan Sihir Perempuan, akan disajikan tabel yang berisi unsur-unsur cerita yang paling menonjol dalam keduanya, untuk selanjutnya melalui unsur tersebut dapat dibicarakan secara mendalam.

 

 

No.

Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang

1

2

3

4

1.

Peri Kunang-kunang

 

2.

Tem Ketetem

 

3.

Malam Hujan Bulan Desember

 

 

4.

Maria Berdarah

 

 

5.

Gadis Buruk Rupa dalam Cermin

 

 

6.

Tamu Ketiga Lord Byron

 

7.

Dongeng Nostradamus

 

 

 

8.

Boneka Air Mata Hantu

 

 

9.

Tentang Sebatang Pohon yang Tumbuh di Dadaku

 

 

 

10.

Dongeng Emak

 

 

11.

Almah Melahirkan Nabi

 

 

 

12.

Kastil Walpole

 

 

 

13.

Hari Tenggelamnya Van der Decken

 

 

14.

Sepasang Kutu, Kursi Rotan, dan Kenangan yang Tumbuh di Atasnya

 

 

15.

Lola

 

 

16.

Kota Southcott

 

 

 

17.

Kematian Heartfield

 

 

 

18.

Tiga Penghuni dalam Kepalaku

 

 

 

19.

Hantu Seriman

 

20.

Anak Pintaan

 

 

 

21.

Lima Orang di Meja Makan

 

 

 

No.

Sihir Perempuan

1

2

3

4

1.

Pemintal Kegelapan

 

2.

Vampir

 

3.

Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari

 

 

4.

Mobil Jenazah

 

 

5.

Pintu Merah

 

 

 

6.

Mak Ipah dan Bunga-bunga

 

7.

Misteri Polaroid

 

8.

Jeritan dalam Botol

 

 

9.

Sejak Porselen Berpipi Merah itu Pecah

 

 

10. 

Darah

 

 

11.

Sang Ratu

 

 

 

Keterangan:

  1. Perempuan sebagai tokoh sentral
  2. Terinspirasi dongeng dan mitos lokal
  3. Terinspirasi dongeng dan mitos asing
  4. Bercerita tentang kisah cinta

 

 

 

 

 

 

Melalui tabel tersebut dapat dirumuskan ada empat hal yang paling menonjol dan senantiasa berulang dan akan dianalisis lebih lanjut untuk mengungkap maknanya.

Perempuan Sebagai Tokoh Sentral dan Bercerita Tentang Kisah Cinta

Sihir Perempuan dan MPMK di permukaan terlihat sebagai dua karya yang sama-sama menyuarakan keperempuan melalui kisah cinta, tetapi rupanya dalam MPMK perempuan tidak diberikan peran untuk "menolong dirinya sendiri" dengan cara yang anggun, melainkan selalu yang kejam, jahat, dan keji secara terang-terangan. Berbeda dengan Sihir Perempuan yang menghadirkan perempuan, keperempuanan, melalui problematik kisah cinta maupun keluarga, yang menyelesaikan persoalannya sendiri sampai tuntas dengan cara yang anggun.

Contohnya pada "Hari Tenggelamnya Van der Decken" yang merupakan kisah cinta antara ayah dan anak perempuannya yang menyebabkan bencana, di sini konflik terselesaikan oleh tokoh laki-laki dan tokoh perempuan tidak dapat berbuat apapun, juga dalam "Hantu Seriman" yang berkisah tentang kecintaan orang tua kepada anaknya, tapi perempuan, Sarina, diceritakan dianiaya oleh suaminya dan tidak berbuat apapun, dan akhirnya menjadi hantu.

Berbeda dengan Sihir Perempuan, salah satunya melalui "Mak Ipah dan Bunga bunga" yang melakukan pembunuhan kepada orang yang telah memperkosa anaknya, tetapi caranya sangat anggun. Tindakannya tidak ditampakkan sebagai balas dendam yang keji tapi lebih karena penyelesaian konflik olehnya sendiri.

Terinspirasi Dongeng dan Mitos Lokal atau Asing

MPMK banyak bermain-main dengan fiksi fantasi dari cerita asing, maksudnya seperti menceritakan kembali sebuah cerita yang pernah terjadi melalui sudut pandang yang variatif, seperti cerpen "Tamu Ketiga Lord Byron" memiliki fakta bahwa tamu tersebut adalah kekasih Lord Byron saat itu yaitu Claire Clairmont[2], juga beberapa cerita lainnya. Namun, beberapa cerita tersebut tidak menawarkan apa-apa kecuali cerita itu sendiri.

Berbeda dengan Sihir Perempuan yang mengambil inspirasi dari cerita mistik, misalnya vampir dan Nyi Roro Kidul, untuk kemudian menceritakan dengan ceritanya sendiri.

Simpulan

Dari uraian tersebut tampak bahwa MPMK dan Sihir Perempuan memiliki gaya dan ideologi yang berbeda meski membicarakan isu yang sama.

 

Daftar Pustaka:

Alam, Guntur. 2015. Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

Paramaditha, Intan. 2005. Sihir Perempuan. Depok: Penerbit KataKita.

 



[1] Salah satu telaah tersebut yaitu “Suara-suara Perempuan yang Terbungkam dalam Sihir Perempuan” oleh Bramantio yang mengungkapkan bahwa Sihir Perempuan menghadirkan realitas keperempuanan dari sisi yang kelam melalui sosok-sosok hantu perempuan yang menjadi semacam simbol atas kedudukan dan kehidupan perempuan di dalam ruang budaya patriarkhi.  Perempuan-perempuan tersebut berkedudukan sebagai Liyan(the other) yang terikat pada sistem patriarkhi dalam masyarakat sehingga mereka pun mau tidak mau “bersuara” dalam tatanan yang diterima oleh sistem, mereka tidak memiliki ruang untuk diri mereka sendiri dan hidup dalam ruang milik laki-laki. (http://bramantio-fib.web.unair.ac.id/artikel_detail-40748.html)

[2] Tercatat bahwa pada bulan Juni tahun 1816, Lord Byron menghabiskan musim panasnya di Geneva bersama Mary dan Percy serta Claire Clairmont, kekasihnya saat itu. "Jun 1816, Sails to Europe: With his finances a wreck and his reputation shattered following Annabella's accusations of abuse and incest, Byron quits England for good and sails for Europe. He arrives in Geneva to spend the summer with his new lover, an Englishwoman named Claire Clairmont, and her half-sister and brother-in-law, Mary and Percy Bysshe Shelley. Shelley and Byron become friends." (http://www.shmoop.com/lord-byron/timeline.html diakses pada 29 November 2015 pukul 21.12 WIB)

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    88.170