Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Omong Kosong dalam Anak Bajang Menggiring Angin dan Kitab Omong Kosong

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 29 June 2016
di Apresiasi Sastra - 0 komentar

Prolog

Ramayana memang begitu memesona. Cerita India yang digubah oleh Walmiki ini telah diadaptasi ke dalam budaya Indonesia dan menjadi salah satu epos yang begitu banyak diceritakan kembali atau bahkan diinterpretasi dalam bentuk karya sastra. Dua karya yang merupakan teks transformasi dari Ramayana dan terlihat sangat dominan dalam perkembangan kesusastraan Indonesia adalah Anak Bajang Menggiring Angin dan Kitab Omong Kosong. Dominan, maksudnya, selain telah dicetak berkali-kali, telah banyak diskusi maupun telaah mengenai kedua karya tersebut.

Anak Bajang Menggiring Angin (selanjutnya ditulis ABMA) ditulis oleh Sindhunata dan diterbitkan pertama kali pada 1983 dan telah memasuki cetakan kesepuluh di tahun 2015, namun sebelumnya kisah dalam buku ini telah dimuat sebagai serial Ramayana dalam harian Kompas, selama tahun 1981. ABMA memuat kisah Ramayana sesuai konvensi cerita yang selama ini dikenal. Diceritakan secara linear, ABMA dimulai dengan tragedi Wisrawa dan Sukesi, berlanjut dengan cerita mengenai kerajaan Ayodya, tragedi Rama dan Sinta, peperangan melawan Rahwana, hingga peristiwa api kesucian Sinta: seakan tidak ada keraguan sedikit pun akan cerita Ramayana dalam novel ini.

Berbeda dengan ABMA, Kitab Omong Kosong (KOK) yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma diterbitkan pertama kali tahun 2004 dan telah memasuki edisi ketiga di tahun 2013, dan sebelumnya dimuat sebagai cerita bersambung di Koran Tempo pada tahun 2001, memiliki alur yang lebih variatif dan cerita Ramayana di dalamnya tampak sekadar sebagai bibit cerita dari cerita lainnya yang tidak pernah ada dalam konvensi cerita Ramayana.

Berdasarkan sifat ke-Ramayana-annya tersebut, diasumsikan bahwa ABMA dan KOK merupakan dua karya yang mencoba menanggapi teks hipogramnya sehingga selanjutnya akan dianalisis apakah dengan dua bentuk cerita yang berbeda akan ditemukan makna berbeda pula atau ternyata masih sama mengenai cerita Ramayana.

 

 

Omong Kosong Ramayana dalam Anak Bajang Menggiring Angin

Pada konvensi cerita Ramayana, sesuai judulnya dalam bahasa Sansekerta berarti "perjalanan Rama", menceritakan perjuangan Rama (titisan Dewa Wisnu) untuk merebut kembali Sinta (titisan Dewi Laksmi, istri Wisnu) yang diculik oleh Rahwana. Kisah Ramayana yang konvensional tersebut akan ditemukan dalam ABMA.

ABMA bercerita secara linear dari asal usul kelahiran Rahwana dan saudara-saudara raksasanya hingga peristiwa akhir yaitu Sinta yang masuk ke dalam api untuk membuktikan kesuciannya kepada Rama. Fokus cerita benar-benar pada cerita Rama dan Sinta. Selama itu pula penceritaan yang dilukiskan oleh ABMA tampak sesuai dengan konvensi Ramayana: Rama digambarkan begitu gagah namun memiliki keraguan oleh kesucian Sinta; Sinta yang begitu mencintai Rama bersedia melakukan apa saja; dan Rahwana yang sangat keji. ABMA juga banyak menggunakan diksi yang sesuai dengan konvensi sastra Jawa (penyebutan detail istlah aji-aji, sifat, dan sebagainya) dan penceritaan yang mengunggulkan metafora (keindahan, ketragisan, diceritakan secara simbolik).

Tetapi rupanya di akhir cerita, ABMA menyatakan bahwa Ramayana tidak lain adalah kesia-siaan sebab apa yang selama ini diperjuangkan rupanya berakhir dengan tragis. Hal itu dimetaforakan dengan ironis bagaimana Sinta dijilat api persembahan untuk membuktikan kesuciannya, tetapi para anak raksasa dan anak kera sedang bermain, berkejaran, dan tertawa-tawa selama kejadian tersebut berlangsung: kisah dan riwayat yang dialami orang tua mereka ternyata hanyalah mimpi yang berakhir dengan kesia-siaan belaka.

Ramayana, Sebuah Kitab Omong Kosong

Kitab Omong Kosong (selanjutnya disingkat KOK) di awal pembacaan akan terlihat sebagai versi dari epos Ramayana. Namun, kisah tentang tragedi Rama dan Sinta yang menjadi fokus utama cerita dalam Ramayana, dalam KOK rupanya hanya sebagai bibit cerita yang melahirkan cerita-cerita yang tidak pernah ada dalam Ramayana. Dalam Kitab Omong Kosong, Rama dan Sinta bukan lagi tokoh sentral yang dibicarakan detailnya, sebab di dalamnya terdapat cerita lain yang sama sekali berbeda dari konvensi kisah Ramayana India maupun Ramayana yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bagian tersebut ada pada kisah-kisah tokoh liyan dalam Ramayana yang menggugat Walmiki, dan pengembaraan untuk menemukan rangkaian kitab yang ditulis Hanuman yang berisi pengetahuan manusia sepanjang zaman, demi menyelamatkan kehidupan manusia yang beradab, oleh seorang mantan pelacur bernama Maneka dan pemuda bernama Satya.

Diceritakan bahwa Maneka dan Satya adalah bagian dari korban persembahan kuda yang diselenggarakan Rama setelah rangkaian cerita "Ramanyana yang konvensional" usai. Setelah bagian Ramayana yang dikenal sebagai Sinta-Obong, Sinta yang telah mengandung Lawa dan Kusa, putra kembar dari Rama, lari ke hutan dan hidup bersama Walmiki di tepi sungai anak Gangga. Itulah sebabnya Walmiki dapat menulis "Ramayana" karena Sinta yang menceritakan padanya. Selama itu pula, Rama menyelenggarakan ekspansi kerajaannya yang dikenal sebagai persembahan kuda. Jelang 15 tahun kemudian berulah Rama bertemu mereka kembali dan memintanya hidup bersamanya. Tetapi Rama tetaplah Rama yang menuntut kesucian Sinta. Sinta pun memilih moksa ditelan bumi. Diceritakan kemudian bahwa setelah memerintah selama sepuluh ribu tahun, Rama dan Laksmana pun moksa dan mewariskan Ayodya pada Lawa dan Kusa. Rama juga berpesan pada Hanuman agar menjaga kebudayaan.

Diceritakan bahwa Kitab Omong Kosong yang berisi mengenai segenap pencapaian kesadaran manusia yang ditulis oleh Walikilia(manusia pertapa yang selalu mengembara dari satu dimensi ke dimensi lain, KOK hal. 281) dipasrahkan kepada Hanuman. Persembahan kuda yang dipimpin Rama membuat manusia tidak lagi mengenal kebudayaan sehingga Hanuman tidak dapat mempercayakan kitab tersebut pada Ayodya, sedangkan Alengka meski dipimpin oleh Wibisana yang arif bijaksana, penduduknya tetaplah raksasa yang hidup mengandalkan kekerasan. Maka Hanuman membagi kitab tersebut menjadi lima dan meninggalkan sebuah peta, sayangnya, keberadaan kitab tersebut malah memunculkan rentetan pembunuhan disebabkan oleh keberhalaan terhadap kitab tersebut. Isi kitab yang disebut sebagai segala pengetahuan membuat manusia berlomba mendapatkannya hanya untuk memiliki kuasa.

Berdasarkan cerita tersebut tampak sekali bahwa KOK "mengekspansi" cerita Ramayana menjadi cerita yang apabila diceritakan sebenarnya memiliki dampak yang luar biasa dengan keadaan sekitarnya dengan menghadirkan perspektif yang berbeda. Apabila ABMA setia dengan model penceritaan orang ketiga serbatahu sehingga jelas bahwa Ramayana di dalamnya merupakan sebuah bentuk kisahan yang dihadirkan kembali, KOK membuat batasan tersebut menjadi kabur sejak dihadirkannya kisah mengenai Satya-Maneka, Walmiki, juga tokoh liyan.

Mengingat kembali latar cerita ABMA yang sesuai sebagaimana Ramayana (penyebutan kerajaan-kerajaan itu), sangat berbeda dengan KOK yang mencampuradukkan latarnya (bahkan muncul beberapa nama negara di dunia untuk mengkongkretkan suasana cerita) sehingga batasan antara dunia imaji Ramayana dengan dunia nyata telah kabur. Hal ini diperkuat dengan cara bercerita KOK yang lebih leluasa karena tidak mengikuti konvensi Ramayana.

KOK juga tidak memandang kisah Ramayana sebagaimana perspektif konvensionalnya, maksudnya, diceritakan di dalamnya kekecewaan akan sikap Rama yang sangat menyakiti Sinta sebab ia mempertanyakan kesucian Sinta dan bagaimana sebenarnya Rahwana mengasihi Sinta sebab ia tak dapat memperkosa Sinta. Keduanya tentu bertentangan dengan konvensi Rama, juga cerita dalam ABMA. Sehingga dapat dimaknai bahwa KOK yang menghadirkan realitas lain yang menjadi dampak dari Ramayana merupakan kritik keras atas Ramayana.

Simpulan

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ABMA, meskipun bercerita sesuai konvensi Ramayana, bukan berarti sekadar menceritakan kembali sebentuk kisah tersebut. Saat orang-orang memusatkan diri pada keindahan gaya berceritanya, rupanya ABMA malah mencoba menyatakan bahwa Ramayana sebenarnya adalah omong kosong. Demikian pula KOK yang sejak awal telah mengolok-olok Ramayana melalui penghadiran realitas lain di luar kisah Rama-Sinta. Secara lantang KOK menyatakan bahwa sesungguhnya cerita Ramayana tidak lain adalah omong kosong belaka.

 

Daftar Pustaka:

Ajidarma, Seno Gumira. 2013. Kitab Omong Kosong.— Ed. 3, cet.1.—Yogyakarta: Bentang.

Sindhunata. 2015. Anak Bajang Menggiring Angin.— Cet.10.—Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    84.309