Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Refleksi Perjuangan Kelas dalam The International

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 06 January 2016
di Semiotika - 0 komentar

The International (2009)[1] bercerita mengenai penyelidikan kasus konspirasi sebuah bank internasional, International Bank of Business and Credit (IBBC), oleh seorang agen Interpol bernama Louis Salinger, bersama Eleanor Whitman. Keduanya mencurigai IBBC, di bawah kepemimpinan Jonas Skarssen, telah melakukan hubungan keuangan dengan organisasi kejahatan, aliran modal, dan pencucian uang.

Kasus yang dihadirkan melalui lembaga ekonomi yang berskala multinasional dengan judul international, secara tidak langsung mempengaruhi penonton untuk mengasosiasikan istilah "international" sebagai sebuah dunia yang dipimpin oleh negara "dunia pertama", hal ini didukung oleh latar cerita yang memilih Luksemburg, Jerman, Amerika, Prancis, dan Itali sebagai pusat mobilitas tokoh sentralnya— sedangkan Afrika sebatas diceritakan sebagai lahan konflik, dan Asia hanya diwakili Cina yang sekadar disebut-sebut dapat memproduksi banyak senjata dalam waktu yang singkat—, dan pada akhirnya Turki sebagai negara Eurasia dipilih untuk menyelesaikan konflik cerita.

Uraian tersebut didukung oleh kesan yang mencolok dari latar tempat film yang berusaha ditonjolkan melalui visualisasi bangunannya seperti gedung perkantoran, Galeri Nasional Kuno Berlin, Museum Guggenheim, dan bahkan beberapa lokasi diperjelas dengan tulisan di pojok kanan bawah, meliputi: Central Station Berlin, Germany; District Attorney's Office New York City, USA; Federal Police Department Berlin, Germany; Lyon, France; Old National Gallery Berlin, Germany; Interpol, Headquarters Lyon, France; IBBC Headquarter, Luxembourg; Piazza Duca D'Aosta Milan, Italy; Jonas Skarssen Recidence, Luxembourg; Calvini Defense, Italy; dan Istanbul, Turkey.

Berkaitan dengan tersebut, lebih lanjut dapat diamati bahwa mise en scene[2] dalam The International pada setiap rangkaian adegannya merupakan tanda yang mendukung filmnya untuk menyampaikan pesan-pesan yang tersembunyi. Untuk dapat mengungkap tanda-tanda tersebut, analisis akan difokuskan pada latar lokasi, sebagaimana telah dijelaskan merupakan unsur yang paling dominan dalam visualisasi cerita, dan akan dibahas sesuai alur cerita dalam film.

Berdasarkan hal-hal tersebut, The International, yang termasuk dalam genre film political thriller, diasumsikan memiliki pesan khusus melalui latar tempat yang dipilih sehingga perlu dikaji lebih lanjut dengan pendekatan pada mise en scene-nya dan memanfaatkan ilmu tanda, semiotika. Menurut Stakes (2006:91)[3], genre merupakan sebuah kategori semiotik karena di dalamnya terdapat kode-kode dan konvensi yang dimiliki oleh film-film dalam sebuah genre yang sama, misalnya dalam unsur-unsur yang telah disebutkan sebelumnya yaitu lokasi dan mise en scene, seluruhnya merupakan bagian dari sistem terkode yang dapat diidentifikasi melalui analisis semiotik.

 

Citra Eksklusif, Mobilitas Hidup, dan Keadilan Dunia

The International dibuka oleh close up wajah tokoh sentralnya yaitu Louis Salinger(Lou),  yang menatap langsung pada kamera dengan raut wajah serius dalam durasi yang cukup lama, hingga ia memalingkan pandangan matanya dan beralih pada adegan rekannya di dalam mobil. Adegan pembuka ini merupakan pengenalan secara langsung terhadap karakter Lou: ketegasan wajah dan air muka yang serius menandakan ia salah seorang tokoh penting dalam cerita yang sedang menghadapi sebuah problema; setelan yang digunakan mencitrakan dirinya sebagai seorang pekerja yang cukup berkelas; namun riasan wajah yang tidak rapi (tidak bercukur bersih) menandakan bahwa pekerjaannya tidaklah mudah karena bahkan ia tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

Suasana yang dibangun sejak awal telah mengisyaratkan bahwa cerita dalam film ini "bukan perkara yang mudah", didukung oleh latar yang sedang hujan, banyak orang berpayung berlalu-lalang dengan tergesa di belakang Lou, juga suara derasnya hujan. Saat dihadirkan visualisasi gedung stasiun Berlin yang menjadi latar tempat awal cerita, ironi sedikit mulai ditampilkan melalui kemunculan pelangi yang merupakan sebuah simbol harapan.

Saat Lou bersama Eleanor Whitman (Ella), berada di Departemen Kepolisian Federal Berlin untuk menjelaskan kejanggalan kematian rekannya, Schumer, dijelaskan bahwa Lou adalah seorang agen Interpol yang sedang menangani kasus IBBC. Lou dan Ella mencurigai bahwa IBBC di bawah kepemimpinan Jonas Skarssen, melakukan hubungan keuangan dengan organisasi kejahatan, aliran modal, dan pencucian uang. Bahkan Lou sangat yakin bahwa IBBC akan membunuh siapapun yang melawan IBBC. Namun semua rekannya seakan mengelak dari fakta yang telah dipaparkan oleh Lou dan Ella:

Lou                     :"Aku yakin jika pria ini belum mati, dia akan segera mati."

Diemer             : "Kenapa?"

Lou                    : "Karena sama halnya dengan Schumer, siapapun dalam posisi melawan bank ini akan juga berakhir dengan kematian atau menghilang." (...)

Diemer             : "Aku sadar ini merupakan saat yang sulit bagi kalian berdua, tapi sampai aku mendapatkan sesuatu yang lebih nyata daripada teori yang belum pasti kebenarannya mengejar IBBC tidak mungkin terjadi di sini, di Jerman."

 

Kembali ke Prancis, di rumahnya, Lou menenggelamkan wajah dalam air yang telah diisi es batu, dan mengingat bahwa memang ada orang asing melintas di belakang Schumer sesaat setelah ia keluar dari mobil. Adegan tersebut secara implisit mengingatkan pada permasalahan hidup yang dipikirkan dalam keadaan kepala dingin akan lebih mudah menemukan solusinya.

Adegan berganti di Old National Gallery Berlin, Jerman, berfokus pada Wilhelm Wexler (yang kemudian diketahui bahwa ia salah seorang konsultan IBBC) yang bertemu dengan seorang yang sebelumnya mendekati Schumer (kemudian diketahui sebagai Timothy M Sherwood, pembunuh bayaran). Wexler memberikan flashdisk berisi data mengenai Calvini dan Timothy ditugaskan untuk membunuh Calvini karena telah membatalkan perjanjian penjualan senjata dengan IBBC, tujuannya adalah menarik perhatian kedua anak Calvini agar menjalankan perjanjian itu kembali.

Wexler diperankan sebagai orang tua berkacamata dan berambut putih, dengan cara bicara yang singkat tapi tegas, dan raut muka seperti orang merenung sepanjang hari, menunjukkan pengalaman hidup yang telah dijalani, juga kebijaksanaan yang dimilikinya. Sayang pekerjaannya mengharuskan dia untuk mengatur strategi agar IBBC dapat terus berjalan, apapun caranya, membuatnya tampak sangat licik dan memegang kendali dalam semua pembunuhan orang yang menentang IBBC.

Timothy sendiri dimunculkan dengan sangat dingin. Cara berjalan, duduk, menoleh, tatapan mata, semua gerak-geriknya mewujudkan seorang yang sangat teratur dan berbahaya. Nada ironis juga dihadirkan melalui dialognya saat berbincang dengan Wexler mengenai sebuah lukisan, "Aku suka wujud tampilan penderitaan, karena aku tahu itu nyata."

Lokasi Old National Gallery ditunjang sejak awal adegan Wexler turun dari mobil dan kemudian masuk ke dalam galeri. Penampakan gerbang depan galeri yang mewah dan menampilkan gaya bangunan klasik, mewakili citra Jerman sebagai salah satu negara Eropa yang menjunjung peradaban kuno dan sangat menghargai seni.

Sementara itu, di markas Interpol Lyon, Prancis, Lou mengungkapkan fakta pada rekannya di Interpol, Viktor, bahwa yang bertemu dengan Schumer adalah Andre Clement, wakil presiden pejabat senior IBBC yang meninggal 9 jam setelah kematian Schumer, dan tidak sesuai dengan pernyataan Skarssen, Presiden Direktur IBBC, di media massa. Namun tanggapan Viktor sama seperti tanggapan rekan-rekannya di kepolisian federal Jerman:

Viktor     : "Interpol bukan mewenangi bidang pelaksanaan hukum. Biar pihak intelijen yang tangani dan kita beri kemudahan mereka. Fokus pada hal itu, usahakan dan bawa kasus itu ke pihak yang tepat."

Lou           : "Dan lalu apa? Kau tahu kita berputar-putar di sini sejak awal. Tak ada yang melakukan apapun, tak ada yang bisa. Apapun kasusnya hilang dalam kompleksitas dari hukum internasional."

Dialog tersebut menunjukkan keyakinan Lou bahwa memang ada yang tidak beres dengan kasus yang ditanganinya, yang membawanya pada kekecewaan akan semua sistem yang ada.

Sebelumnya, adegan tersebut diawali dengan mobil masuk ke area gedung markas Interpol yang dinding luarnya dilingkupi kaca, menunjukan keterbukaan dan sangat mencitrakan access to justice, akses menuju keadilan. Ironisnya, keadilan yang harusnya dapat diakses oleh semua orang tanpa mempertimbangkan strata, secara tidak langung disindir dengan mobil mewah yang masuk. Dan bahkan Lou yang agen Interpol dan berada di dalam gedungnya, masih mencari keadilan sehingga tentu ada simbolisasi bahwa sebenarnya sedang terjadi masalah besar di dunia berkenaan dengan keadilan.

Adegan berikutnya diawali dengan gedung markas IBBC dan sedikit lanskap Luksemburg. Terlihat bahwa letak gedung IBBC dipisahkan oleh sungai besar yang hanya ada sebuah akses jembatan besar, menandakan bahwa IBBC memiliki eksklusivitas. Dilanjutkan dengan adegan Lou berjalan seorang diri memasuki gedung IBBC yang luarnya dilingkupi kaca.

Lou yang hendak nekat menemui Skarssen, malah diarahkan pada Martin White, penasihat resmi IBBC dan Komisaris Villon dari Gendarmerie. Mudah saja mereka mengatakan bahwa terjadi kesalahan waktu pada draft laporannya, dan laporan yang ada memang sudah diralat. Lou bagai pahlawan yang belum berperang namun sudah kalah dalam jumlah personil dan senjata.

Di rumahnya, melalui pesan singkat, Ella diberitahu oleh istri almarhum Clement agar menemui Umberto Calvini. Di lain tempat, sekembalinya Lou dari Luksemburg, ia menemui Viktor dan membuktikan bahwa rumah Viktor telah disadap, juga apartemennya, dan rumah Ella. Ia pun mengungkapkan temuannya bahwa Clement yang bernegosiasi untuk IBBC dalam membeli peluru kendali dalam jumlah besar dan sistem kontrol dari Calvini Defense yang dipimpin Umberto Calvini, salah satu kontraktor pertahanan terbesar.

Adegan beralih pada keesokan harinya di Italia. Rangkaian adegan persiapan penembakan oleh Timothy, bagaimana semua telah diatur bahkan ada penembak yang menjadi kambing hitam dan kepala kepolisian yang ternyata bekerja sama dengan IBBC untuk mempersiapkan dan melindungi IBBC dari kejadian pembunuhan Calvini nantinya.

Sama dengan adegan-adegan sebelumnya, adegan berikutnya diawali dengan lanskap Piazza Duca D'Aosta, suasana semarak namun dengan keamanan ketat menyambut kampanye Calvini yang mengajukan diri sebagai presiden Italia.

Lou dan Ella dibantu inspektur Alberto Cerutti untuk menemui Calvini. Calvini bersedia mengungkapkan semua konspirasi IBBC yang ia ketahui sebab Calvini pun membenci cara-cara IBBC dalam menyingkirkan orang-orang yang berpotensi menggagalkan tujuan IBBC, salah satunya adalah Clement yang bersedia memberi informasi pada Schumer, dan keduanya mati "dibunuh" IBBC.

Obrolan singkat antara Lou dan Ella sebelum menemui Calvini mengungkapkan bahwa sebelumnya Lou pernah membawa kasus IBBC ke pengadilan, namun terjadi sabotase oleh bosnya yang membuat pengadilan tersebut berakhir kacau dan tiga hari kemudian saksi yang dibawa Lou beserta keluarganya meninggal dalam kecelakaan mobil. Hal ini berdampak besar pada rasa benci Lou akan IBBC.

Melalui Calvini, Lou dan Ella mengetahui semua maksud di balik aktivitas penjualan senjata, bahwa sebagai sebuah bank internasional, tujuan IBBC sesungguhnya adalah mengontrol uang yang dihasilkan dari konflik, tapi bukan uang dari pemerantaraan penjualan senjata melainkan dari hutang yang dihasilkan dari konflik tersebut.

Mereka bermaksud melanjutkan wawancara dengan Calvini setelah pidato kampanyenya, sayangnya Calvini dibunuh dan pengejaran oleh Lou, Ella, dan Cerutti tidak menghasilkan apapun karena  Namun malamnya, Lou, Ella dan Cerutti kembali ke TKP. Setelah penyelidikan, Lou berhasil memecahkan teori penembakan, dan menemukan jejak di rooftop yang berasal dari sepatu dengan baja. Namun saat melakukan penyelidikan lanjut, Kapten Barilo, orang yang berwenang dalam penyelidikan Calvini, yang juga telah berkomplot dengan IBBC, mengusir mereka dari Italia.

Saat hendak kembali ke Jerman, di bandara Ella menyadari bahwa mereka dapat menemukan Timothy melalui CCTV bandara karena saat melewati mesin pendeteksi ia akan menunjukkan sepatunya pada petugas. Mereka pun bertolak ke New York untuk mengejar Timothy. Kemudian digambarkan Timothy sedang berlari di treadmill, seperti bersiap untuk suatu hal yang penting.

Sesampainya di New York, Ella mengenalkan Lou pada detektif Hubbard, Ward, dan Ornelas, dari N.Y.P.D, yang membantu melacak Timothy. Mereka menemukan bahwa jejak kaki dari sepatu itu digunakan untuk lutut-tumit kaki orthosis dan pola sepatu itu diproduksi eksklusif di Institut Orthopedi Isaacson di New York. Lou beserta Ornelas dan Ward pun menuju kediaman dr. Isaacson dan menemukan alamat Timothy, namun alamatnya palsu.

Sementara itu Ella mencoba meyakinkan Arnie, bosnya, bahwa ia telah menemukan pembunuh bayaran yang disewa oleh IBBC dan dapat menjadi bukti keterlibatan IBBC. Akhirnya Arnie tidak mencoba menghentikan penyelidikan Ella, tapi memberikannya kesempatan untuk secepatnya menemukan Timothy. Di sini tokoh Arnie memiliki kebijaksanaan, meski ia sendiri telah terdesak oleh para pimpinan kepolisian federal, ia masih percaya pada kebenaran yang perlu diungkapkan.

Adegan selanjutnya diawali dengan visualisasi kediaman Skarssen di Luksemburg, yang menampilkan citra eksklusif dari lokasinya yang jauh dari gemerlap kota, dan di dalamnya ada kehangatan dari perapian, sofa, dan hubungan antara Skarssen dan putranya. Namun tidak lama kemudian para pejabat IBBC menghubunginya melalui video call dan memberitahunya bahwa agen Lou dan Ella semakin dekat dengan mereka.

Di New York, secara tidak sengaja Ornelas melihat Timothy, mereka pun membuntutinya sampai Museum Guggenheim. Rupanya Timothy hendak bertemu dengan Wexler. Serupa dengan pertemuan pertama mereka, ia memberikan flashdisk berisi data, kali ini Lou menjadi target berikutnya untuk dilenyapkan. Tapi Timothy sadar akan kehadiran Lou, dan saat hendak meringkus Timothy, Timothy terleih dahulu telah ditembak oleh pasukan suruhan IBBC. Baku tembak pun terjadi. Timothy dan Lou akhirnya berkomplot untuk menyelamatkan diri mereka.

Dalam baku tembak tersebut digambarkan seluruh ornamen dan media seni hancur oleh tembakan, begitu juga atap gedung yang terbuat dari kaca. Lou dan Timothy akhirnya berhasil keluar dari gedung tapi Timothy tidak selamat. Tapi rupanya Ella berhasil meringkus Wexler. Mereka pun menuju kantor tempat Wexler disandera.

Baku tembak yang menghancurkan seluruh properti di museum merupakan simbolisasi untuk menyatakan implikasi nyata bila moral telah terdegradasi, dunia dapat dikuasai dan dikontrol oleh pihak tertentu yang tidak lagi memiliki rasa kemanusiaan dan mengabaikan keadilan dunia hanya demi tujuan kelompoknya.

Dalam perjalanan, divisualisasikan pemandangan New York dari ketinggian. Jalan raya yang ramai lancar oleh kendaraan, lampu-lampu jalanan dan gedung-gedung tinggi, menghidupkan suasana lokasi yang penuh dengan kesibukan masing-masing orang. Menyuguhkan mobilitas manusia yang tidak pernah berhenti di malam hari sekalipun.

Saat Lou mengintrogasi Wexler, ia mengungkapkan kekecewaannya pada Wexler yang seorang komunis dan mantan kolonel polisi keamanan negara Jerman (Stasi), yang seharusnya menentang kapitalisme, malah bekerja pada instansi seperti IBBC. Wexler pun mengungkapkan bahwa keinginan Lou untuk sebuah keadilan hanyalah ilusi karena institusi pemerintahan pun menjamin keamanan IBBC, sebab semua pihak telah terlibat.

Wexler mengungkapkan bahwa semua perusahaan multinasional membutuhkan IBBC untuk mengoperasikan segala aktivitas gelapnya sehingga siapapun akan menghilang atau ditemukan meninggal sebelum setiap kasus melawan IBBC mencuat di pengadilan. Maka dari itu IBBC selalu bersih dari kasus karena semua pihak pemerintahan, perusahaan multinasional, dan organisasi gelap sekalipun, bekerja sama dengannya.

Cerita beralih pada White yang sedang melakukan negosiasi dengan pihak perusahaan Calvini Defence tapi kedua anak Calvini telah diberi informasi oleh Lou agar tidak menerima negosiasi IBBC sebab IBBC pula yang membunuh ayah mereka. Saat White meninggalkan markas Calvini Defence, digambarkan mobilnya tidak muncul setelah melewati terowongan. Kemudian kamera menjauh dan menunjukkan bahwa markas Calvini Defence berada di tepi jurang, menunjukkan keeksklusivannya. Scene ruang kantor dan gerak gerik juga dialog Enzo dan Mario Calvini, menunjukkan kekuasaan, kendali yang mereka pegang.

Sementara itu pihak IBBC tidak dapat melacak keberadaan White, dan bersitegang mengenai perjanjian yang hendak dilakukan dengan Ahmed Sunay dan memutuskan untuk menemui Sunay di Turki. Wexler yang mengetahui rencana itu langsung melaporkannya pada Lou.

Adegan berikutnya diawali dengan lanskap Istanbul, Turki. Berbeda dengan beberapa lanskap yang diambil di Eropa, Turki memberikan kesan ramai yang ketimuran, sebab tidak banyak gedung tinggi berdinding kaca melainkan bangunan beton dengan atap jingga, juga kubah masjid berwarna yang cukup mencolok.

Setelah Skarssen menyelesaikan kesepakatannya dengan Sunay, ia menemukan Wexler yang telah tewas. Kemudian Skarssen melarikan diri dari Lou, ke Grand Bazaar. Melewati keramaian, Lou tidak berusaha menembak Skarssen, hingga Skarssen sampai di jalan buntu di atas geteng pemukiman. Belum sempat Lou menarik pelatuknya, datang seseorang yang menembak Skarssen.

Cerita berakhir dengan terbunuhnya Skarssen oleh orang suruhan kedua anak Calvini, dan ironisnya tepat saat suara adzan berkumandang. Dapat diketahui bahwa pembunuh White dan Wexler pun adalah suruhan anak Calvini, mereka membalaskan dendam kematian ayahnya dengan membunuh semua pejabat IBBC.

Film ini ditutup oleh kredit dengan background tampilan tajuk berita dalam koran yang memberitakan penggantian kepemimpinan IBBC. Diberitakan bahwa IBBC terus beroperasi dengan pimpinan barunya, namun dengan kepemimpinannya yang agresif dalam melakukan ekspansi dan agresi, IBBC kembali menuju kejatuhannya, ditunjukkan dengan dimulainya awal investigasi Senat Amerika Serikat yang dipimpin oleh Ella.

Dari uraian mengenai berbagai tanda yang tersebar dalam keseluruhan film tersebut, dapat dirumuskan ada dua hal yang selalu berulang yaitu: adegan mobil yang sampai di suatu tempat dan visualisasi lanskap lokasi, gedung, dan suasana sebelum terjadi aktivitas tokoh. Keduanya saling mendukung untuk menampilkan citra tokoh dan lokasi yang ingin ditonjolkan. Sepanjang cerita juga menunjukkan mobilitas para tokoh yang tidak ada hentinya.

Melalui kedua adegan yang berulang tersebut The International mencitrakan keeksklusivan hidup yang dijalani oleh kelompok pemilik modal dan pemegang kuasa, meminjam istilah Marx, kaum borjuis. Kelompok borjuis yang dihadirkan melalui tokoh para pejabat IBBC, Calvini dan kedua anaknya, juga Ahmed Sunay, sedangkan kelompok intelektual pembela kaum ploretar utamanya dihadirkan melalui tokoh Lou dan Ella, dan kaum komunis (yang berbelot) diwakili oleh Wexler. Hal ini akan dibahas lebih mendalam pada poin selanjutnya.

Lokasi yang dipilih di Eropa jelas berbeda dengan yang di Turki. Ketika Eropa diwakili oleh galeri dan museum seni juga alun-alun sebagai simbol kebangkitan intelektualitas dan demokrasi, Turki mengambil lokasi di Grand Bazzar, salah satu pasar terbesar di dunia, yang mana menyimbolkan perilaku konsumerisme. Tentu hal tersebut menyiratkan bahwa "negara timur" masih tersubordinasi oleh "negara barat". Hal ini juga didukung oleh pemilihan tokoh sentral dari komunitas yang didominasi orang barat, seperti Lou yang agen Interpol (kepolisian internasional) yang berpusat di Lyon, rekan-rekan NYPD (kepolisian New York) yang membantu penyelidikan, juga Senat Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Ella yang hendak melakukan penyelidikan lanjut di akhir cerita. Semua itu mencitrakan bahwa kesadaran akan pentingnya keadilan bersumber dari barat.

Pemaknaan tersebut didukung kembali dengan pemakaian nama belakang para sastrawan eropa untuk peran pencari keadilan; Louis Salinger, Eleanor Whitman, dan Alberto Cerutti. Ketiganya memakai nama belakang para sastrawan eropa yaitu Jerome David Salinger, Walter Whitman, dan Giussepe Cerutti. Secara umum, sastrawan dianggap sebagai sosok yang berpengetahuan luas, berpikiran terbuka, dan memiliki estetika tertentu dalam kepenulisan, sehingga memiliki kemampuan lebih untuk menyampaikan sesuatu melalui sastra. Disebabkan ketiga nama yang dipakai adalah sastrawan eropa, hal ini menunjang pemaknaan pertama yaitu adanya ideologi dalam film untuk menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya keadilan bersumber dari barat.

Selain citra dan ideologi tersembunyi yang telah diungkapkan tersebut, adegan mobil yang sampai di suatu tempat, dan visualisasi lanskap lokasi, gedung, dan suasana sebelum terjadi aktivitas tokoh, secara keseluruhan dapat dimaknai sebagai perjalanan hidup yang terus bergulir menuju sebuah tujuan yang selalu dikejar, dalam film ini yaitu keadilan.

 

Refleksi Perjuangan Kelas

Bila diamati, skandal IBBC dalam The International sebenarnya terinspirasi oleh skandal Bank of Credit and Commerce International (BCCI)[4] pada tahun 1980-an. Dalam uraian sebelumnya telah dijelaskan bahwa melalui tokoh utamanya, The International berkonsentrasi pada kekhawatiran tentang bagaimana dunia keuangan mempengaruhi politik internasional di seluruh dunia, dan melalui analisis dengan pendekatan pada mise en scene dapat disimpulkan bahwa film ini menyangkut sebuah perjalanan hidup yang terus bergulir untuk sebuah tujuan yaitu keadilan. 

Selanjutnya, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, para tokoh dalam The International rupanya memiliki peran yang mewakili kaum yang dikonsepkan oleh Marx, dan rangkaian cerita mengenai IBBC juga perjuangan Lou dan rekan-rekannya secara tidak langsung mengingatkan pada Manifesto Partai Komunis[5]:

(...)Akhirnya, dalam waktu ketika perjuangan kelas mendekati saat yang menentukan, proses kehancuran yang berlaku di dalam kelas yang berkuasa, pada hakekatnya di dalam seluruh masyarakat lama seutuhnya, mencapai watak yang demikian keras dan tegasnya, sehingga segolongan kecil dari kelas yang berkuasa memutuskan hubungannya dan menyatukan diri dengan kelas yang revolusioner, kelas yang memegang hari depan di dalam tangannya. Oleh karena itu, sama seperti ketika zaman terdahulu, segolongan dari kaum bangsawan memihak kepada borjuasi, maka sekarang segolongan dari borjuasi memihak kepada proletariat, dan terutama segolongan dari kaum ideologis borjuis yang telah mengangkat dirinya sampai pada taraf memahami secara teori gerakan yang bersejarah itu sebagai keseluruhan.

Melalui Wexler—seorang komunis yang harusnya menentang keras kaum borjuis tapi malah bekerja untuk industri kapitalis dunia dengan apologinya demi stabilitas politik dunia—, The International mengungkap realitas bahwa cita-cita Lou, cita-cita Marx, untuk mendapatkan keadilan hanyalah ilusi, meski demikian Lou dan Ella tidak berhenti untuk mengungkap kebenaran demi tercapainya keadilan. Maka, dapat disimpulkan bahwa The International merupakan sebuah refleksi perjuangan kelas yang masih terus berlangsung hingga saat ini.

 

 


[1] "The International". 2009. (http://hdmoviespoint.com/the-international-full-movie-720p-hd-free-download/ diunduh pada 14 November 2015 pukul 20.12 WIB).

[2] Mise en scene dalam dunia film merupakan konsep akan "penempatan" segala unsur yang membangun sebuah film seperti komposisi pengaturan tempat dan waktu dimana film berlangsung, kostum dan tata rias karakter, ekspresi dan akting karakter, gerakan dari objek serta pencahayaannya juga bagaimana visualisasinya dalam kamera, dan sebagainya. (https://en.wikipedia.org/wiki/Mise-en-sc%C3%A8ne diakses pada pada 16 November 2015 pukul 20.22 WIB)

[3] Stakes, Jane. 2006. How To Do Media and Cultural Studies; penerjemah, Santi Indra Astuti; penyunting, Wendratama. Yogyakarta: Bentang.

[4] Sebagaimana IBBC dalam The International, BCCI merupakan bank international yang  terdaftar di Luksemburg dan juga bermarkas di London. Dilansir bahwa BCCI pada 1980-an berada di bawah pengawasan dari berbagai regulator keuangan dan badan-badan intelijen, yang dalam penyelidikannya mengungkapkan bahwa BCCI terlibat dalam pencucian uang dan kejahatan keuangan lainnya. Peneliti di AS dan Inggris mengungkapkan bahwa BCCI telah sengaja diatur untuk menghindari peraturan terpusat, dan dioperasikan secara luas di wilayah hukum kerahasiaan bank. Kecurangan itu sangat kompleks dan para pejabatnya jelas adalah bankir internasional yang canggih, dan jelas tujuannya adalah untuk menjaga kerahasiaan dalam melakukan penipuan dalam skala besar, dan menghindari deteksi oleh publik. (https://en.wikipedia.org/wiki/The_International_%282009_film%29 dan https://en.wikipedia. org/wiki/Bank_ of_Credit_and_Commerce_International diakses pada 16 November 2015 pukul 20.12 WIB).

[5] "Manifesto Partai Komunis" adalah manifesto yang ditulis Karl Marx dan Friedrich Engels, berisi pikiran pokok bahwa dalam setiap zaman sejarah, cara produksi ekonomi dan pertukaran yang sedang berlaku dan organisasi kemasyarakatan yang timbul darinya merupakan dasar yang di atasnya terbangun, dan yang hanya dari situ dapat diterangkan sejarah politik dan intelek zaman itu; bahwa oleh karena itu seluruh sejarah umat manusia (sejak lenyapnya masyarakat kesukuan primitif, yang memiliki tanah dengan hak milik bersama) adalah sejarah perjuangan kelas, pertandingan antara kelas yang menghisap dengan yang dihisap, antara kelas yang memerintah dengan kelas yang ditindas; bahwa sejarah perjuangan kelas ini merupakan serangkaian evolusi yang di dalamnya, pada masa ini, telah tercapai suatu tingkat di mana kelas yang dihisap dan ditindas--proletariat--tidak dapat mencapai kebebasannya dari kekuasaan kelas yang menghisap dan memerintah--borjuasi--tanpa bersamaan dengan itu dan untuk selama-lamanya membebaskan masyarakat seluruhnya dari segala penghisapan, penindasan, perbedaan kelas dan perjuangan kelas.  (https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1848/manifesto/ch01.htm diakses pada 16 November 2015 pukul 20.12 WIB)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    88.022