Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Problematik Keluarga dalam Into The Woods

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 06 January 2016
di Semiotika - 0 komentar

Prolog

Into The Woods (2014)[1] merupakan drama fantasi musikal yang terinspirasi oleh dongeng-dongeng klasik Eropa yang ditulis kembali oleh Grimm Bersaudara[2] antara lain "Little Red Riding Hood", "Cinderella", dan "Rapunzel", juga dongeng "Jack and The Beanstalk" dan "Thumbelina". Beberapa cerita tersebut menjelma menjadi cerita yang sedikit berbeda karena dibuat agar beririsan antara cerita yang satu dengan yang lainnya. Selayaknya dongeng, film ini menghadirkan adegan "bahagia selamanya", tetapi tanpa diduga rupanya cerita berlanjut dan kembali memunculkan konflik sebelum akhirnya benar-benar bermuara pada akhir yang sama sekali berbeda.

Sebagaimana film musikal, penonton tidak dapat mengabaikan setiap lirik dalam lagu yang dinyanyikan para tokohnya, lagu tersebut sama pentingnya dengan dialog masing-masing tokoh yang menunjukkan keinginan dan pertentangan batinnya, maupun dialog antartokoh yang menunjukkan relasi antartokohnya, seperti yang diungkapkan Schulman melalui situs newyorker.com:

(...) what I learned from “Into the Woods,” most of all, was ambivalence. It’s in every song, undermining prepackaged morals. (“Isn’t it nice to know a lot?” Little Red sings to herself. “And a little bit not.”) No one in musical theatre does ambivalence like Sondheim, and usually no one tells you what it is until after you’ve experienced it.[3]

Kesadaran mengenai setiap lagu yang selalu saling bertentangan juga membuat film ini membedakan diri dengan dongeng aslinya. Apabila dalam dongeng selalu ada oposisi biner, yang baik dan yang buruk, film ini membuat perbedaan mengenai nasib para tokohnya dan menjadikannya sebuah redefinisi bagi yang baik dan yang buruk tersebut.

Tanggapan tersebut telah memperlihatkan suatu hal yang terkandung di dalamnya, namun perlu suatu analisis mendalam yang dapat mengungkap relasi antarunsur secara detail hingga menghasilkan makna dalam kaitannya dengan redefinisi mengenai baik-buruk yang dimaksud. Berdasarkan uraian tersebut, tulisan ini akan berfokus pada tanda-tanda yang berkaitan dengan pesan moral yang dihadirkan melalui para tokoh dan ceritanya agar dapat membantu pemaknaan menyeluruh pada Into The Woods.

Untuk mengungkap relasi antarunsur dalam Into The Woods, dapat dimanfaatkan teori semiotik Barthes (2007:300)[4] yang menunjukkan penanda, petanda, dan tanda—yang merupakan totalitas asosiatif dari penanda dan petanda. Analisis dipermudah dengan skema semiologis yang menunjukkan penanda dan petanda yang mengacu pada pemaknaan tanda denotatif, yang disaat bersamaan juga merupakan penanda konotatif untuk kemudian dihasilkan pemaknaan pada tanda konotatif.

Hutan: Harapan, Kenyataan, dan Konsekuensi dalam Hidup

Cerita bermula dari keinginan masing-masing tokoh yang hidup di sebuah desa dekat sebuah hutan. Salah satunya adalah Tuan Baker (tukang pembuat roti) dan istrinya yang berharap memiliki keturunan, dan kemudian datanglah seorang penyihir perempuan yang mengaku telah mengutuk ayahnya agar tidak bisa memiliki keturunan. Si penyihir berjanji akan mencabut kutukannya tetapi mengharuskan pasangan suami istri tersebut mencari beberapa barang di dalam hutan sebelum malam terjadinnya blue moon, dan barang tersebut tidak boleh tersentuh olehnya, yaitu:

"One, a cow as white as milk.

Two, the cape as red as blood.

Three, the hair as yellow as corn.

Four, a slipper as pure as gold."

Tuan Baker (yang kemudian disusul istrinya) pergi ke hutan dan barang-barang yang mereka cari satu persatu mempertemukan mereka dengan tokoh-tokoh lainnya: 'sapi seputih susu' milik Jack; 'tudung semerah darah' milik gadis bertudung merah; 'rambut sekuning jagung' milik Rapunzel; dan 'sepatu keemasan' milik Cinderella.

Di bagian sangat awal, sembari cerita bermula dengan nyanyian "I wish" para tokohnya, narator telah memberikan prolog mengenai latar cerita dan perkenalan pada para tokoh dalam kisah ini. Menariknya, tuturan narator tersebut kelak dituturkan kembali sama persis oleh Tuan Baker di akhir cerita:

Once upon a time in farest kingdom there lay a small village at the edge of the woods. And in this village lived a young maiden, a carefree young lad, and a childless baker with his wife.

The poor girl's parents had died and now she lived with her stepmother, who had two daughters of her own. All three were beautiful of face but vile and black of heart.

The young lad had no father, and his mother, well, she was at her wits' end.

And then there was a hungry little girl, who always wore a red cape.

 

(Pada zaman dahulu kala, di kerajaan nan jauh, terdapat desa kecil di tepi hutan. Dan di desa ini hidup seorang perawan, seorang anak muda yang riang, dan seorang tukang roti beserta istrinya yang tidak memiliki anak.

Orangtua dari gadis malang itu sudah meninggal dan sekarang ia tinggal bersama ibu tirinya yang memiliki dua anak perempuan. Ketiganya cantik tapi keji dan buruk hati.

Anak muda tidak memiliki ayah, dan ibunya, hmm, mungkin dia sudah putus asa.

Lalu ada seorang gadis kecil yang kelaparan, yang selalu mengenakan tudung merah.)

 

Alur cerita dalam Into The Woods berjalan linear, antara cerita satu dan yang lain silih berganti dan menjadi tumpang tindih ketika masing-masing cerita berjalan dan saling beririsan. Konflik tidak bisa dihindari, apa yang diperbuat satu tokoh akan berdampak pada tokoh-tokoh lainnya, serta membuat keriuhan di satu tempat yang menjadi latar dan judul cerita: hutan.

Mereka semua pergi ke hutan dengan tujuannya masing-masing: Jack menjual sapinya untuk mendapatkan uang dan kehidupan yang layak; gadis bertudung merah ingin menyembuhkan neneknya yang sakit agar dapat memakan roti yang dimasak neneknya; Cinderella pergi ke makam ibunya agar dapat ke pesta dansa dan berjuang mendapatkan pangeran agar tidak lagi hidup sengsara; dan Tuan Baker ingin mematahkan kutukannya agar mendapatkan keturunan dan hidup bahagia bersama istrinya. Sedangkan si penyihir kemudian diketahui bahwa ingin menjadi seorang wanita yang cantik. Namun sebenarnya mereka semua memiliki keinginan yang sama yaitu mengubah hidupnya: "Into the woods, to see, to sell, to get, to bring... Into the woods, to make, to lift, to go to the festival... Into the woods then out of the woods, and home before dark."

Di hutan, perjalanan mereka semua mengalami hambatan sekaligus solusi: Gadis bertudung merah yang akhirnya sampai di rumah neneknya, dimakan oleh srigala, tetapi kemudian diselamatkan oleh Tuan Baker, dan sebagai ucapan terima kasih, ia mendapat tudung semerah darahnya; Jack yang hendak menjual sapinya menukarnya dengan biji kacang ajaib milik Tuan Baker, ketidaksengajaan ibunya membuang biji membuat pohon kacang ajaib tumbuh menjulang ke langit, Jack dan ibunya pun dapat hidup layak karena Jack mencuri harta raksasa yang tinggal di atas awan; Cinderella yang dikejar oleh pengawal kerajaan, menukar sepatu emasnya dengan sepatu milik istri Tuan Baker, tapi tidak lama kemudian ia ditemukan dan diperistri oleh pangeran; Tuan Baker pun berhasil mendapatkan semua barang sesuai tenggat perjanjian yaitu pada saat blue moon, si penyihir pun berhasil berubah menjadi wanita yang cantik dan mengabulkan permohonan Tuan Baker untuk mendapatkan seorang anak.

Beberapa waktu kemudian mereka semua berkumpul di halaman istana untuk merayakan pernikahan pangeran dan Cinderella, tetapi saat mereka tampaknya akan hidup bahagia selamanya, kekacauan yang sebenarnya dimulai. Rupanya perbuatan Jack mencuri harta dan memotong pohon ajaib membuat seorang raksasa mati dan istri dari raksasa itu turun ke bumi untuk membalaskan dendamnya. Kejadian tersebut membuat seluruh desa dan hutan hancur.

Di lain pihak, Cinderella merasa dikhianati pangerannya sebab telah bercinta dengan istri Tuan Baker, dan istri Tuan Baker pun meninggal jatuh ke jurang. Akhirnya, Tuan Baker, Cinderella, gadis bertudung merah (yang kemudian bertudung bulu srigala), dan Jack, bersama-sama melawan raksasa hingga raksasa tersebut mati. Tuan Baker hendak meninggalkan mereka semua dan menyerahkan anaknya pada Cinderella, tetapi saat sadar bahwa mereka semua sama-sama kehilangan keluarga, ia memutuskan untuk tinggal dan cerita ditutup dengan kisah yang dituturkan kembali oleh Tuan Baker.

Kebersamaan dan keputusan yang mereka ambil di akhir cerita merupakan sebuah bentuk redefinisi keluarga. Saat Tuan Baker berharap memiliki keluarga bahagia dengan istri dan anaknya; Cinderella berharap dapat menikah dengan pangeran yang mencintai dirinya seorang; Jack berharap dapat hidup dengan ibu dan sapi kesayangannya; dan gadis tudung merah berharap dapat hidup dengan ibu dan neneknya. Mereka dipertemukan dengan kenyataan bahwa keluarga bukan persoalan darah melainkan persoalan saling berbagi tanggung jawab dan mengisi satu sama lain.

Dari keseluruhan uraian cerita tersebut dan sebagaimana telah dinyatakan secara implisit oleh judulnya, semakin tampak bahwa latar hutan di dalam film ini berkedudukan sebagai inti cerita. Semua kejadian di dalam hutan dapat dimaknai sebagai berbagai macam pengalaman hidup sehingga hutan dapat dimaknai sebagai simbol dari kehidupan itu sendiri. Dalam film ini pemaknaan tersebut ditunjang oleh kisah hidup para tokoh dengan berbagai harapannya yang menjadi kenyataan tidak berarti membuatnya hidup bahagia selamanya, karena nyatanya kenyataan tersebut memiliki konsekuensi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Penjelasan tersebut akan diterangjelaskan melalui skema berikut:

 

Penanda

Hutan

Petanda

Tanah luas yang ditumbuhi pepohonan dan berjarak dari hiruk pikuk kehidupan manusia

 

Tanda Denotatif

Hutan

 

Penanda Konotatif

Arena yang mempertemukan dan memberikan pengalaman para tokoh

Petanda Konotatif

Harapan, kenyataan, dan konsekuensi hidup

Tanda Konotatif

Hidup yang diisi dengan penuh harapan dan usaha untuk mencapainya akan memberikan pengalaman yang menghasilkan suatu kesadaran personal mengenai konsekuensi hidup

Skema 1

Melalui skema tersebut tampak bahwa hutan sebagai latar cerita dalam Into The Woods tidak sekadar tempat tumbuhnya pepohonan dan yang terabaikan oleh manusia. Hutan memiliki konotasi dengan arena yang mempertemukan dan memberikan pengalaman para tokoh. Selanjutnya hutan dapat dimaknai sebagai hidup itu sendiri, dan hidup yang diisi dengan penuh harapan dan usaha untuk mencapainya akan memberikan pengalaman dan menghasilkan suatu kesadaran personal mengenai konsekuensi hidup.

Problematik Keluarga

Dalam Into The Woods, Cinderella tetap digambarkan sebagai gadis yang menderita sebab tinggal dengan ibu dan saudara tirinya yang selalu menyuruhnya mengerjakan seluruh pekerjaan rumahnya, namun dalam sebuah nyanyiannya ia mengungkapkan kekesalannya pada hidupnya yang menyedihkan, "Ibuku bilang bersikap baik lah, ayahku bilang bersikap manis lah, yang selalu mereka katakan: jadi bersikap baik lah... Cinderella ramah, Cinderella patuh, baik, apa gunanya bersikap baik jika semua orang meninggalkanmu."

Cerita Cinderella beranjut dan keinginannya untuk pergi ke pesta dansa terwujud berkat kekuatan sihir oleh mendiang ibunya, berbeda dengan dongeng aslinya yang memunculkan ibu peri yang entah siapa. Ibu Cinderella digambarkan mempercayai dan memberikan kesempatan pada Cinderella untuk berkehendak sesuai inginnya. Bagian ini merepresentasikan bahwa orang tua selalu ingin anaknya bahagia sehingga sebisa mungkin mewujudkan keinginan anaknya. Namun orang tua baiknya bijak dan berhati-hati dalam mengabulkan permintaan anaknya, sebab apabila anaknya tidak bijak dalam memanfaatkan "kemewahan" tersebut, akan menjerumuskannya sendiri dalam bahaya. Tetapi, tokoh Cinderella sendiri memiliki sifat yang baik sehingga memanfaatkan kepercayaan mendiang ibunya dengan baik, seperti pada saat ia tahu bahwa ia dikhianati oleh pangeran, ia pun mengikhlaskannya dan tidak mendendam.

Berbeda dengan ibu Cinderella, beberapa ibu lain dalam Into The Woods digambarkan sangat tegas dan memaksakan kehendak. Diketahui dalam ceritanya bahwa si penyihir ternyata dikutuk oleh ibunya sendiri sebab tidak bisa menjaga tanaman kacang ajaibnya, dan pencuri kacang ajaibnya tidak lain adalah ayah dari Tuan Baker. Namun, tindakan ayah Tuan Baker didasari oleh kecintaan terhadap istrinya yang sedang hamil dan mengidamkan sayur mayur dari kebun si penyihir, dan tanpa disadari ayah Tuan Baker memetik kacang ajaib tersebut. Jelas bahwa ibu si penyihir tegas dalam memberikan hukuman kepada anaknya, dan istri Tuan Baker, sebagai seorang ibu terlalu memaksakan kehendaknya untuk memenuhi keinginannya sendiri.

Dari perspektif ibu si penyihir dapat dikatakan ia memiliki maksud yang baik yaitu mengajari anaknya agar bertanggung jawab, hanya saja caranya salah, demikian pula ibu Tuan Baker yang ingin dituruti semua keinginannya saat mengandung demi keselamatan kandungannya. Dalam hubungan antarcerita ini terdapat rentetan dampak yang disebabkan kemurkaan ibu si penyihir, pemaksaan ibu Tuan Baker, dan dendam si penyihir: si penyihir yang terkutuk oleh ibunya menjadi tua dan pendendam, serta mengutuk Tuan Baker; Tuan Baker yang tidak dapat memiliki keturunan bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan anak; dan kelak saat si penyihir—dengan pengalamannya sebagai anak yang dikutuk— menjadi ibu dari adik Tuan Baker yang ia ambil paksa, Rapunzel, ia sangat protektif dan tidak memperbolehkannya keluar dari menara selama hidupnya.

Selain sosok ibu tersebut, ibu tiri Cinderella dan ibu Jack pun diceritakan sangat memaksakan kehendak. Diceritakan ibu tiri Cinderella tegas tidak hanya pada Cinderella yang tidak diperbolehkan ke pesta dansa, pada kedua anak kandungnya pun ia tegas dan memaksakan kehendak. Keduanya diperintah ibunya untuk memutilasi jari jempol dan tumit kakinya agar muat memakai sepatu, demi posisi ratu kerajaan yang diharapkan ibunya untuk kehidupan anak-anaknya yang lebih baik: dalam artian hidup bergelimang harta. Tindakan tersebut tentu tidak tepat sebab pada akhirnya fakta bahwa gadis yang dicari pangeran adalah Cinderella pun terungkap, dan mata kedua anaknya buta dipatuk burung gagak.

Sosok ibu Jack digambarkan sebagai penggerutu, selalu menyesali kehidupannya yang miskin, juga anaknya yang bodoh. Ia memerintah Jack untuk menjual sapinya yang sudah tak menghasilkan susu agar mendapatkan uang dan dapat menghidupi kebutuhannya. Menghadapi kenyataan tersebut, Jack yang sangat menyayangi sapinya tidak dapat mempertahankan sapinya dan terpaksa menuruti keinginan ibunya. Kekecewaan Jack dihadirkan dalam salah satu monolognya: "into the woods to sell a friend." Di sini terlihat bahwa ibu Jack yang memaksakan kehendaknya demi menghidupi anaknya terpaksa melukai hati anaknya.

Dari uraian tersebut dapat dimanfaatkan skema Barthes untuk menterangjelaskan pemaknaan terhadap tanda yang tersebar dari sosok para ibu yang dihadirkan:

Penanda

Ibu

Petanda

Perempuan yang memiliki anak, idealnya bersifat penuh kasih sayang pada anaknya

 

Tanda Denotatif

Ibu kandung Cinderella

 

Penanda Konotatif

Selalu memberi petuah agar anaknya berlaku baik dan patuh

Petanda Konotatif

Nasihat dan kepercayaan

Tanda Konotatif

Anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, tindakan yang benar, dan diberi kepercayaan dan kesempatan untuk memutuskan pilihannya sendiri akan menjadi anak yang baik, tidak pendendam, dan bisa belajar dari pengalaman

Skema 2

Penanda

Ibu

Petanda

Perempuan yang memiliki anak, idealnya bersifat penuh kasih sayang pada anaknya

 

Tanda Denotatif

Ibu si penyihir, ibu Tuan Baker, ibu Jack, si penyihir

 

Penanda Konotatif

Selalu memaksakan kehendak

Petanda Konotatif

Perintah dan hukuman

Tanda Konotatif

Anak yang dibesarkan dengan cara yang kasar, penuh kekerasan fisik ataupun mental, dan pemaksaan kehendak akan menjadi anak yang pendendam

Skema 3

Dari kedua skema tersebut semakin jelas bahwa peran orang tua dalam kehidupan anak sangat penting. Bagaimana cara orang tua, khususnya seorang ibu, berbicara dalam menasihati, mengungkapkan harapan, memarahi, bahkan mengutuk, juga dalam mengambil keputusan dan bertindak, semuanya akan mempengaruhi sifat dan sikap anaknya. Hal ini sebenarnya secara eksplisit telah diungkapkan dalam lirik lagu di akhir cerita:

Careful the things you say, children will listen
Careful the things you do, children will see and learn
Guide them along the way, children will listen
Children will look to you, for which way to turn, to learn what to be
Careful before you say, "Listen to me," children will listen
Careful the wish you make, wishes are children
Careful the path they take, wishes come true, not free
Careful the spell you cast, not just on children
Sometimes the spell may last, past what you can see and turn against you...

(Berhati-hatilah dengan perkataanmu, anak-anak akan mendengarkan

Berhati-hatilah dengan perbuatanmu, anak-anak akan melihat dan mempelajari

Bimbinglah mereka sepanjang perjalanan, anak-anak akan mendengarkan

Anak-anak akan mempertimbangkanmu, untuk memilih jalannya, untuk belajar menjadi sesuatu

Berhati-hatilah dengan harapan yang kaubuat, harapan anak-anak

Berhati-hatilah dengan jalan yang mereka tempuh, harapan akan menjadi nyata, tidak dengan cuma-cuma

Berhati-hatilah dengan mantra yang kauucap, tidak hanya untuk anak-anak

Kadang mantra itu akan berlangsung, melampaui yang bisa kaulihat dan berbalik melawanmu...)

 

 

Berdasarkan uraian tersebut Into The Woods dapat dimaknai sebagai "dongeng" yang diperuntukkan untuk penonton dewasa, khususnya orang tua yang memiliki anak, dan menyelipkan pesan bahwa dongeng-dongeng yang selama ini diceritakan pada anak merupakan sebuah metafora dari perilaku dan pengalaman orang tuanya sendiri.

 Simpulan

Into The Woods merupakan dongeng yang melampaui dongeng itu sendiri, sebab tidak sekadar memberikan contoh mengenai yang baik dan buruk tetapi memberikan kesempatan pada penonton untuk "mengalami". Hidup bahagia selamanya tidak selalu terwujud sebagai konsekuensi dalam terwujudnya sebuah harapan yang diperjuangkan merupakan tamparan yang dilontarkan dalam film ini, namun dalam ketidakpastian tersebut tidak ada manusia yang benar-benar hidup sendiri karena kekeluargaan dapat diperoleh dari saudara maupun orang lain sekalipun, sebab keluarga pada hakikatnya adalah orang yang dapat berbagi rasa dan pengalaman dalam hidup.



[1] "Into The Woods". 2014. (http://hdmoviespoint.com/into-the-woods-full-movie-720p-hd-free-download/ diunduh pada 3 Desember 2015 pukul 20.12 WIB).

[2] Grimm Bersaudara, Jacob and Wilhelm Grimm, adalah akademisi Jerman yang terkenal karena menceritakan ulang dan mempublikasikan kumpulan cerita rakyat, kisah-kisah, dan dongeng dari daratan Eropa seperti Snow White, Rapunzel, Cinderella, Hansel and Gretel, dan banyak kisah-kisah lainnya. (https://en.wikipedia.org/wiki/Brothers_Grimm diakses pada 4 Desember 2015 pukul 19.23 WIB).

[3] Schulman, Michael. 2014. "Why "Into The Woods" Matters" (Online), (http://www.newyorker.com /culture/cultural-comment/why-into-the-woods-matters, diakses pada 4 Desember 2015 pukul 19.42 WIB).

[4] Barthes, Roland. 2007. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi. Yogyakarta: Jalasutra.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    88.019