Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Perlawanan Simbolis terhadap Sistem Budaya Patriarkal dalam Nay

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 06 January 2016
di Semiotika - 0 komentar

Prolog

Membicarakan film Indonesia memang selalu menarik, di antara banyaknya film berkualitas yang dirilis, lebih banyak lagi film yang hanya mencari keuntungan semata. Film Nay (2015) —yang diwujudkan melalui situs crowd funding, sebab sedikit investor yang tertarik—digadang-gadang sebagai gebrakan baru sebab Nay merupakan film monolog dengan satu pemeran buatan Indonesia yang pertama kali. Menariknya, yang sangat kuat dalam film ini tidak hanya kekuatan monolog peran utamanya saja, tetapi juga visualisasi jalanan Jakarta yang secara implisit mengkritik setiap sendi kehidupan.

Film Nay berkisah mengenai seorang model bernama Nayla Kinar yang harus menghadapi berbagai macam fakta yang terjadi dan ragam sifat manusia melalui orang terdekatnya dalam satu waktu yaitu malam hari saat sedang mengemudi mobil di jalanan Jakarta. Berbagai konflik tersebut membuat Nay mesti berhadapan kembali dengan sejarah kelam masa lalunya: figur ayah yang tak pernah dikenalnya dan figur ibu yang pernah mengecewakannya.

Diceritakan Nay sedang mengandung janin dan mencoba menghubungi pacarnya, Ben. Bukannya mendapatkan solusi, Nay malah mendapat caci maki dari ibunya Ben. Hal ini membuat Nay merasa sulit untuk menentukan tindakan apa yang terbaik bagi janin yang dikandungnya. Saat Nay merasa sesak, kecewa dengan Ben, dan tak memiliki siapapun untuk membagi keluh kesahnya, ia menelpon Ajeng, managernya. Di saat yang sama, Nay menerima telepon dari seorang produser film yang menyatakan jika Nay terpilih sebagai pemeran utama, yang tentu bisa lepas darinya bila ia membiarkan janinnya tumbuh di badannya. Ajeng yang sepertinya mendukung apa pun keputusan Nay, belakangan ketahuan hanya mementingkan karier belaka. Di akhir cerita, Nay mempertahankan janinnya sebab ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi lebih baik dari ibunya.

Mengingat Djenar Maesa Ayu sebagai penulis naskah, sutradara, dan produser sekaligus, nafas Nay memang tidak jauh berbeda dari karya-karya fiksinya, sebut saja novel Nayla (2005), kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet (2001), Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2003), Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek (2006), 1 Perempuan, 14 Laki-laki (2011), dan SAIA (2014), juga film Mereka Bilang, Saya Monyet! (2008), yang secara garis besar berbicara mengenai perempuan dan problem hidupnya.

Dalam situs crowd funding film Nay, wujudkan.com[1], Djenar menyatakan bahwa perempuan dan problematika tubuhnya adalah salah satu isu yang dari dulu hingga kini sudah sering diangkat namun masih saja belum diprioritaskan baik oleh negara, masyarakat, maupun perempuannya sendiri. Berdasarkan pernyataan tersebut, juga uraian sebelumnya, maka tulisan ini akan berfokus pada tanda-tanda yang tersebar dalam kaitannya dengan visualisasi latar cerita yang dipilih dan citra perempuan dalam film Nay untuk mengungkap bentuk kritik atas hak hidup perempuan dan lebih luas pada kritik atas sistem pemerintahan.

Perjalanan Menyusuri Ibu Kota

Nay diawali dengan visualisasi jalanan Jakarta selama sekitar lima menit pertama: deretan gedung-gedung tinggi, reklame sponsor, lampu jalanan, dan kendaraan yang berlalu lalang. Beberapa Di pertengahan cerita bahkan terdapat tugu Monas, Plaza Semanggi, dan cuplikan adegan yang menyorot iklan tarian Indonesia pada layar halaman mall yang bersanding dengan papan nama toko Gucci.

Tokoh Nay sendiri diceritakan lahir dan besar di Jakarta. Diceritakan ia adalah seorang bintang yang sedang naik daun bahkan dikonfirmasi telah terpilih sebagai peran utama dalam sebuah film. Namun sejarah kelamnya karena perkosaan yang dialami dan ibunya yang abai padanya, juga konflik yang sedang dihadapi bahwa pacarnya tidak mau bertanggung jawab atas janin yang dikandungnya, membuat ia bimbang.

Diantara ketidakpastian hidupnya esok, selama semalam Nay menyusuri kota Jakarta: menelpon orang terdekatnya; menuju dan tidak jadi menuju rumah pacarnya, juga sebuah klinik aborsi; patuh di lampu merah; memperhatikan hujan di kaca jendela; mengomentari poster caleg; dan berakhir di rumah sakit; bermonolog tentang kehidupan. Saat ia memberhentikan mobilnya hanya untuk mengomentari sebuah poster berisi kampanye seorang calon legislatif yang menggunakan atribut agama (baju putih, kopyah, dan sarung), secara eksplisit Nay menghadirkan kritik pada sistem pemerintahan, khususnya pada para pejabat negara.

Berdasarkan uraian di atas, Jakarta yang dipilih sebagai latar tempat jelas bukan sekadar ingin menghadirkan visualisasi gemerlap dan hiruk pikuknya saja melainkan mengandung makna yang tersembunyi berkaitan dengan kepentingan film untuk mengungkap realitas ibu kota yang kompleks. Hal ini dapat dipahami dengan pemanfaatan skema Barthes[2] berikut:

Penanda

Ibu kota

Petanda

Tempat pusat pemerintahan suatu negara

 

Tanda Denotatif

Jakarta

 

Penanda Konotatif

Sebuah arena yang kompleks: hiruk pikuk jalanan, problema sistem pemerintahan, masalah pribadi

Petanda Konotatif

Eksistensi manusia

Tanda Konotatif

Segala hal yang dilakukan manusia sebenarnya adalah untuk memperjuangkan eksistensinya

Skema 1

 

Penanda

Jakarta

Petanda

Pusat pemerintahan Indonesia, kota metropolitan

 

Tanda Denotatif

Monas, Plaza Semanggi, Papan Toko Gucci, rumah sakit, jalanan

 

Penanda Konotatif

Berbagai tempat dengan berbagai fungsi dan penampakan fisik

Petanda Konotatif

Citra dan kelas sosial

Tanda Konotatif

Tujuan manusia tidak lagi fungsional tapi juga mementingkan citra dan kelas sosial yang dibangunnya dalam hidup dalam rangka memperjuangkan eksistensinya

Skema 2

Melalui kedua skema tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan "meminjam" Jakarta, secara implisit Nay telah banyak membicarakan persoalan hidup. Jakarta dengan kekompleksannya dimetaforakan sebagai kekompleksitasan hidup manusia. Kehidupan di kota metropolitan yang penuh hiruk pikuk tidak hanya memunculkan berbagai persoalan pribadi dalam tiap individu tetapi juga permasalahan yang lebih luas mengenai relasi antarmanusia bahkan mengenai sistem pemerintahan.

Melalui visualisasi Jakarta secara fisik, Nay menyelipkan tentang kelas sosial yang semakin mengalami kesenjangan: Nay menunjukkan jalanan yang gemerlap dengan rentetan bangunan tinggi dan mall, tetapi juga tidak menyembunyikan masih adanya pengemis di jalanan yang sama.

Pada saat mobil Nay harus berhenti sebab rambu lalu lintas menunjukkan lampu merah, melintaslah seorang penjual majalah dengan sampul foto Nay, selang beberapa saat seorang pengemis mengetuk jendela Nay, dan setelah ia memberi uang pada pengemis, ia tetap mengamati pengemis itu dari kaca spion. Kemudian meledaklah umpatan yang ditujukan pada bangku sebelahnya, dan berkata bahwa ia dapat menjadi ibu yang jauh lebih baik dari ibunya, namun setelah selesai bicara ia mengambil rokok dan bermaksud mengisapnya, tapi seketika itu juga ia sadar dan menaruh batang rokoknya kembali. Lampu pun berubah hijau.

Adegan tersebut menunjukkan bahwa selama lampu merah berlangsung, Nay barang sebentar berkaca pada dirinya melalui potretnya di sampul majalah, namun kemudian melalui seorang pengemis, ia dihadapkan pada realitas bahwa masih ada orang yang lebih kurang beruntung dari dirinya. Luapan emosi pada ibunya dan perilakunya yang hendak merokok merupakan sebuah sikap perlawanan terhadap ibunya dengan cara balas dendam, sedangkan pilihannya untuk menaruh kembali rokoknya merupakan kesadaran diri bahwa niatnya untuk menjadi ibu yang baik tidak bisa hanya dalam ucapan, tapi juga tindakan. Lampu merah pun menjadi sebuah tanda yang dapat dimaknai sebagai berikut:

Penanda

Rambu lalu lintas

Petanda

Petunjuk jalan untuk kendaraan berjalan atau berhenti

 

Tanda Denotatif

Lampu merah

 

Penanda Konotatif

Tanda untuk berhenti sejenak

Petanda Konotatif

Jeda dalam hidup

Tanda Konotatif

Dalam hidup manusia butuh istirahat untuk introspeksi diri

Skema 3

Lampu merah yang membuat arus kendaran di satu sisi berhenti untuk mempersilakan sisi lainnya tetap berjalan dapat dimaknai sebagai ruang istirahat meski kehidupan tetap bergulir. Ruang ini dimanfaatkan betul oleh Nay sebagai refleksi hidup manusia yang dengan kompleksitasnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sangat membutuhkan jeda untuk sejenak introspeksi diri.

Perlawanan Nay

Melalui monolog Nay diketahui bahwa saat berumur 9 tahun, ia diperkosa oleh pacar ibunya, Om Indra. Nay juga dikatakan sebagai bukan perempuan baik-baik oleh ibu Ben disebabkan oleh masa lalunya tersebut. Konflik batin yang dialami Nay semakin membuatnya ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi ibu yang baik bagi anaknya kelak, tapi ketiadaan sosok ayah untuk calon anaknya membuatnya bimbang. Dalam keputusasaannya ia menelpon teman lelakinya, Pram, dan tanpa basa basi mengungkapkan keinginannya untuk menikah sayangnya Pram menolak.

Kekecewaan Nay tidak dapat dibendung, ia pun menghubungi Ajeng—manager yang ia anggap sebagai sahabatnya— dan meminta agar dicarikan klinik aborsi. Saat itu ia mulai menyalahkan dirinya sendiri sebab tidak dapat mempertahankan janinnya, tapi di sisi lain ia tidak ingin menjadi seperti ibunya yang menelantarkan ia demi karirnya juga hidup tanpa sosok ayah.

Melalui rangkaian adegan tersebut dapat dimaknai bahwa budaya patriarkat masih sangat dominan bahkan di kota metropolitan. Terbukti pada timbulnya konflik batin pada Nay apabila memiliki anak tanpa bersuami sehingga anaknya tidak berbapak. Anggapan patriarkat bahwa bapak adalah "kepala rumah tangga" dan ibu adalah "ibu rumah tangga" masih sangat dominan di masyarakat bahkan jelas tertulis dalam undang-undang.

Alur cerita yang digerakkan oleh lagu "Que Sera Sera" membuat kisah Nay makin ironis. Perjalanannya yang tidak menuju manapun membuatnya "napak tilas" ke rumah sakit tempatnya dilahirkan. Sebelum sampai di rumah sakit, mobilnya melalui jalanan terowongan yang seperti mesin waktu mengirimnya pada kenangan masa lalu di ujung sana. Ia pun kembali bermonolog pada ibunya.

"Que Sera Sera" memiliki arti 'apa yang terjadi, terjadilah'. Lagu yang dinyanyikan Nay diawali senandung seorang gadis kecil yang bertanya pada ibunya akan jadi apakah ia nanti saat dewasa, berlanjut dengan kisah saat ia telah menjalani kehidupannya, dan bagian refrain senandungnya menyatakan "Que sera sera, what ever will be, will be" merupakan bentuk kepasrahan pada Tuhan Yang Maha Esa. Berkaitan dengan kehidupan Nay, lagu ini merupakan bentuk ironi sebab ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu dan harus menjalani kehidupan pribadinya tanpa keluarga.

Tanpa sosok ayah dan ibu, juga kekasih sejati, Nay tidak mempunyai siapapun, bahkan Ajeng yang mulanya bermanis lidah bahwa akan mendukung apapun keputusan Nay, menjelang akhir malah memojokkan Nay yang memutuskan untuk menyelamatkan kandungannya,"Lu itu tegar tapi nggak tegas!". Seketika Nay memaki Ajeng, menutup telponnya, dan kembali bermonolog, "Orang-orang kayak gitu itu, Mom, manusia yang gak punya kemanusiaan."

Film ini diakhiri dengan adegan Nay yang berjalan dari rumah sakit menuju taksi. Sopir taksi yang bertanya apakah ia sendirian, dijawabnya dengan senyuman, elusan pada perutnya sendiri, dan ucapan, "Berdua". Adegan ini menegaskan bahwa pada akhirnya perjalanan panjang Nay menghadapi konflik masa lalunya dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan konfliknya kini, dan ia memilih mempertahankan janinnya—ia memilih tidak menjadi seperti ibunya.

Simpulan

Melalui uraian di atas, bagaimana tokoh Nay dicitrakan dengan melihat relasi antartokoh, sikap dan cara berpikir, dan akhirnya pada keputusannya untuk merekonstruksi sejarah kehidupannya dengan membangun identitas baru bagi dirinya, tidak hanya sebagai perempuan karier tapi juga sebagai ibu, merepresentasikan seorang perempuan yang tangguh dan tidak menyerah dengan keadaan. Tindakan Nay untuk menyelamatkan janinnya merupakan bentuk perlawan simbolis terhadap sistem sosial budaya patriarkat (bahkan sistem pemerintahan) yang memarginalkan perempuan.



[1] https://wujudkan.com/project/nay-a-film-by-djenar-maesa-ayu/view diakses pada 4 Januari 16 pukul 19.32 WIB.

[2] Barthes, Roland. 2007. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi. Yogyakarta: Jalasutra.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    88.024