Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Realitas Politik Indonesia dalam Monolog Politik Karya Putu Fajar Arcana

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 30 June 2015
di Sastra Indonesia - 0 komentar

Ujian Akhir Semester Kesusastraan Indonesia Kontemporer

Lucky Ariatami NIM 121211132041

 

Realitas Politik Indonesia dalam Monolog Politik Karya Putu Fajar Arcana

Monolog Politik[1] karya Putu Fajar Arcana atau yang lebih akrab dipanggil Bli Can, diterbitkan pada Juli 2014, berisi lima naskah drama yang berbentuk monolog yaitu "Pidato", "Wakil Rakyat yang Terhormat", "Bukan Bunga Bukan Lelaki", "Orgil", dan "Cermin Dibelah". Dalam prolognya, Putu Wijaya mengutip pengakuan Bli Can bahwa karya-karyanya memang dibuat khusus untuk merayakan dunia politik kita (Indonesia) yang karut-marut, penuh intrik dan korup (hal. x). Inilah yang membuat Monolog Politik layak diapresiasi sebagai kesusastraan Indonesia kontemporer, ia memilih hadir dalam bentuk naskah drama bernada satire politik di tengah euforia lahirnya karya sastra prosa dan puisi yang beragam.

Di Indonesia sastrawan pada umumnya akan lebih memilih genre prosa dan puisi untuk menuangkan aspirasinya, sedangkan untuk menjadi dramawan—terlebih lagi dalam bentuk monolog— memang diperlukan penghayatan dan bentuk ekspresi yang khusus, seperti misalnya bagaimana memunculkan sebuah tokoh dengan karakteristiknya melalui monolog, tutur katanya sendiri, sembari menjalankan alur cerita utama dan di saat yang sama harus menyampaikan pesan dengan lantang meski dalam bentuk sindiran.

Monolog Politik hadir sebagai satire politik yang oleh Jean Couteau dalam epilognya telah menjabarkan bahwa Bli can yang memilih perspektif pelaku sebagai penutur pada hampir seluruh monolognya mengandung beberapa hal, yaitu penulis akan secara leluasa berkisah tentang apapun dari para pelaku korupsi sehingga memungkinkan Bli Can "seolah" mendalami benar apa yang terdapat di dalam benak dan hati para pelaku korupsi, dan pembaca pada akhirnya mendapatkan sebentuk kisahan yang penuh satire (hal. 142).

Setiap monolog memiliki keterkaitan dengan realitas politik sehingga untuk pembaca mengerti tidak bisa dilepas dari kondisi negara dan realitas politik di negeri ini. Jean Couteau menyebut bahwa Can mencatat kasus-kasus politik tidak sekadar sebagai peristiwa yang mengguncang dunia politik layaknya perspektif media massa, melainkan sebagai peristiwa yang menggambarkan kerendahan moralitas bangsa melalui perspektif sastra (hal. 145).

Pada "Wakil Rakyat yang Terhomat", "Orgil", dan "Cermin Dibelah", pembaca —dan penonton, apabila naskah dipentaskan— akan berhadapan dengan para munafik, para pelaku korupsi yang seberapa hebat pun melakukan pembelaan pada akhirnya terbongkar semua kebusukannya. Pola yang menarik tersebut membuat ketiga naskah ini dianggap penulis sebagai monolog yang paling mewakili isi Monolog Politik dan akan dibahas lebih lanjut.

Topeng Wakil Rakyat yang Terhormat

"Wakil Rakyat yang Terhormat" adalah sebuah gambaran kemunafikan yang melanda para pejabat di Indonesia. Monolog ini berkisah tentang pledoi seorang wakil rakyat yang terus menerus dituding mengkorupsi uang rakyat. Wakil Rakyat sebagai penutur diberikan kesempatan untuk membela diri bahwa semua tindakan yang selama ini dilakukan dikarenakan kondisi dan situasi yang tidak menyediakan pilihan lain. Ia membuat pengakuan bahwa topeng yang melekat di wajahnyalah yang menjadi penyebab semuanya. Sembari berdalih ia berusaha membuka topengnya, tetapi topeng itu terlanjur melekat.

Monolog tokoh Wakil Rakyat sepanjang naskah semakin menguatkan dugaan bahwa ia memang telah menyelewengkan amanat rakyat. Maksud hati membela diri di depan rakyat tetapi tokoh malah semakin membuka kedok segala kebusukannya. Medium topeng yang sangat dominan dalam naskah, merupakan simbol yang kuat untuk menyuarakan betapa banyak orang yang mengenakan topeng dalam kesehariannya, khususnya para wakil rakyat.

Pada akhir pembelaannya, tokoh Wakil Rakyat yang ketakutan karena tidak bisa membuka topengnya, membuat pernyataan yang tentu saja belum tentu hadir dari lubuk hatinya melainkan hanya memelas untuk mendapat belas kasih, "Saudara-saudara siapa pun itu, tolong selamatkan saya. Tidakkah hati Saudara-saudara terketuk mendengar permohonan saya. Saya benar-benar ingin bertobat, kembali ke jalan semula" (hal. 46). Toh, ternyata para petugas yang datang di akhir cerita dengan sangat mudah membuka topengnya, dan wajah asli tokoh Wakil Rakyat digambarkan lebih menyeramkan dibanding topeng yang dikenakannya. Hal ini membuktikan bahwa semua yang dinyatakannya adalah omong kosong.

Dalam monolog "Wakil Rakyat yang Terhormat", siapapun tokoh yang diacu oleh Bli Can, dapat dikatakan mencakup seluruh tokoh politik yang pernah tersandung kasus korupsi, tidak terlalu spesifik menyebut personal. Jean Couteau sendiri dalam epilognya menyebut Gayus Tambunan, Ratu Atut, Akil Mochtar, dan Hadi Purnomo sebagai contoh wakil rakyat yang terjerat kasus korupsi.

Tudingan Orgil

Tidak jauh berbeda dengan "Wakil Rakyat yang Terhormat", monolog "Orgil" berkisah tentang pledoi seorang wakil rakyat yang terjerat kasus korupsi dan dijebloskan ke dalam rumah sakit jiwa. Wakil Rakyat yang rupanya juga Pemimpin Besar Negara sebagai penutur diberikan kesempatan untuk membela diri bahwa semua tindakan yang selama ini dilakukan disebabkan oleh konspirasi pemimpin besar negara.

Latar belakang tokoh yang pengusaha dengan fakta-fakta teks yang merujuk pada peristiwa korupsi di Indonesia yang cukup membuat negara terguncang, menunjukkan bahwa tokoh imajiner Udin-Bonafide dalam "Orgil" merepresentasikan seorang tokoh politik yaitu Nazaruddin:

Saudara-saudara harus tahu, sudah banyak orang yang saya bantu untuk duduk di kursi empuk wakil rakyat. Mereka itulah yang kemudian memberi proyek-proyek kepada saya. Terakhir saya dapat proyek ambisius berupa pembangunan kompleks stadion olahraga. (hal. 90)

Kasus korupsi Wisma Atlet yang dialami politisi Nazaruddin[2] memang masih diproses hingga sekarang. Bli Can seakan membuat tudingan-tudingan yang dilakukan tokoh sebagai sebuah hal yang benar, tapi bagaimana pun dengan kondisi di rumah sakit jiwa hingga pada akhirnya tokoh tersebut dihukum juga. Keadaan ini merepresentasikan peristiwa Nazaruddin yang tertangkap pada akhirnya meski sempat melarikan diri ke luar negeri, juga tudingan-tudingan Nazaruddin terhadap beberapa politisi yang pada akhirnya terbukti terlibat dan kini mendekam di penjara.

Dalih-dalih dalam Cermin Dibelah

            "Cermin Dibelah" masih berkaitan dengan naskah "Orgil". Bila dicermati, dalam konteks keindonesiaan, tokoh monolog "Cermin Dibelah" mengacu pada mantan anggota DPR RI yang juga mantan ratu kecantikan yaitu Angelina Sondakh (Angie) yang tersandung kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet dan gedung serbaguna Sumatera Selatan tahun 2010-2011. Saat proyek pembangunan Wisma Atlet dilakukan pada tahun 2010-2011, Angie merupakan anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pemuda, olahraga, kebudayaan dan pendidikan: 

Cermin itu benar-benar telah membuat hidupku kacau. Aku memang jahat. Harus aku akui karena peranku, banyak wakil rakyat yang kebagian jatah. Yah... proyek pembangunan stadion itu memang ambisius, tapi tujuannya mulia kok. Kita akan bisa membibitkan atlet-atlet muda di sana. (hal. 114)

Selain itu, pernyataan tokoh, "Kalau hukumanku yang tadinya 4 tahun 6 bulan itu kemudian ditambah menjadi 12 tahun, itu biasa," (hal. 126) sama persis dengan yang dialami Angie.[3] Tentu tokoh wakil rakyat dalam "Cermin Dibelah" mencecarkan dalih layaknya wakil rakyat dalam "Wakil Rakyat yang Terhormat" dan "Orgil", yang juntrungnya membuat muak pembaca karena menunjukan kebobrokan diri tokoh tersebut sendiri.

Menyingkap Topeng Politik

Dari pemaknaan ketiga monolog dalam Monolog Politik, dapat disimpulkan bahwa tema besar dalam buku ini adalah sorotan terhadap sifat-sifat munafik dan rakus para tokoh politik di Indonesia. Hal yang sangat spesifik dan karenanya unik, tokoh-tokoh hitam dalam buku ini melakukan orasi politik untuk membenarkan segala perilaku “menyimpang”-nya. Tetapi alih-alih menuju pada perbaikan sikap dan sifat, semakin banyak upaya membela diri, para tokoh dalam monolog ini justru semakin memperlihatkan kebejatan moral mereka.

Kecenderungan membolak-balik fakta menjadi fitnah yang keji, sudah berlangsung sejak dulu. Fitnah memang menjadi satu cara menyingkirkan lawan politik sehingga melalui Monolog Politik pembaca diingatkan kembali bahwa peristiwa ini dapat berlangsung kapan saja dan dilakukan oleh siapapun bahkan tokoh-tokoh politik yang sama sekali tidak terlihat haus akan kekuasaan.

Dalam ulasannya yang menarik, Damhuri Muhammad menyebut Monolog Politik sebagai teks-teks monolog yang bukan sekadar pengakuan personal manusia politik yang menjadi panggilan penciptaan seorang sastrawan, tapi juga pengakuan massal setiap orang dalam jaring laba-laba politik. Ia juga menyebutkan bahwa tokoh imajiner dalam "Wakil Rakyat yang Terhormat" dan "Orgil" bukan saja representasi dari politisi tertentu, tapi juga pengakuan massal-bahkan banal-dari semua subjek politik:

Monolog Politik karya Putu Fajar Arcana seolah hendak merespon karya sastra yang diperlakukan sebagai perkakas politik itu. Sastra adalah mata, bukan senjata. Ia bermula dari kejernihan dan kewarasan, bukan dari kedengkian, apalagi kebencian. Bila politik gemar membuat topeng, sastra senantiasa akan menyingkapkannya.[4]

Maka realitas politik yang diceritakan terang-terangan oleh Bli Can melalui tokoh imajinernya seperti kasus korupsi Nazaruddin dalam "Orgil" dan Angelina Sondakh dalam "Cermin Dibelah", serta banyak kasus korupsi lainnya oleh para wakil rakyat khususnya petinggi Partai Demokrat dalam "Wakil Rakyat yang Terhormat", merupakan sebuah kenyataan politik yang disingkap melalui karya sastra.

Jean Couteau menyebut betapa sebenarnya kejahatan, kemerosotan moral, kemunafikan, dan doyongnya institusi partai atau bahkan negara, sedang mengancam di sekitar kita, dan kekalahan Partai Demokrat sebagai incumbent dalam Pemilu 2014 adalah bukti rakyat telah menjalankan "hukumannya", serta banyak para petinggi partai tersebut yang menjalani hidup dalam penjara (hal. 146).

Simpulan

Pada akhirnya, Monolog Politik sebagai karya sastra satire politik tidak hendak menghakimi langsung para politisi namun mengingatkan dengan caranya yang khas. Monolog Politik dapat dimaknai sebagai karya sastra yang berusaha mengembalikan moral politik bangsa Indonesia dengan merepresentasikan realitas politik Indonesia itu sendiri. Melalui karya sastra, apabila dibaca dan dimaknai, secara tidak langsung akan mengetuk pintu hati nurani semua orang bahkan mereka yang melakukan kejahatan, khususnya kejahatan politik.



[1] Fajar Arcana, Putu. 2014. Monolog Politik. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

[2] http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/1248/1/kasus.korupsi.nazaruddin "Kasus Korupsi Nazaruddin" (Kompas.com, tahun 2011 hingga 2015)

[3]http://nasional.kompas.com/read/2013/11/21/0742539/Dari.4.5.Tahun.MA.Perberat.Vonis.Angie.Jadi.12.Tahun "Dari 4,5 Tahun, MA Perberat Vonis Angie Jadi 12 Tahun" (Kompas.com, 21/11/13)

[4] http://damhurimuhammad.blogspot.com/2014/09/bila-politik-bertopeng-sastra.html. "Bila Politik Bertopeng, Sastra Menyingkapkannya oleh Damhuri Muhammad" (dimuat dalam Kompas Minggu, 31/08/14)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    98.347