Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Analisis Naskah Drama Dag-Dig-Dug karya Putu Wijaya

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 25 April 2015
di Apresiasi Sastra - 0 komentar

Analisis Naskah Drama Dag-Dig-Dug karya Putu Wijaya

Lucky Ariatami

NIM 121211132041

 

Pradopo (2013:107) menjelaskan bahwa dalam memberi makna kepada karya sastra, tentulah pembaca tidak hanya semau-maunya, melainkan terikat kepada teks karya sastra sendiri sebagai sistem tanda yang mempunyai konvensi sendiri berdasarkan hakikat karya sastra. Konvensi tersebut tidak sekadar arti bahasa yang menjadi medium karya sastra, melainkan arti bahasa yang bermakna, yang memiliki konvensi-konvensi tambahan sehingga mendasari timbulnya makna dalam karya sastra tersebut.

Naskah drama Dag-Dig-Dug karya Putu Wijaya diterbitkan pertama kali pada tahun 1986 oleh Balai Pustaka, dalam kata pengantar dipaparkan bahwa naskah ini menghadirkan kejadian-kejadian yang sebenarnya hadir dalam batin, pikiran, dan angan-angan para tokohnya, dan masalah kematian menjadi pembicaraan pokok dalam naskah ini. Sepintas kelihatan drama ini absurd, namun sebenarnya realistis, sebab apa yang dipikirkan tokoh-tokohnya adalah juga apa yang sering dipikirkan oleh kita. (Wijaya, 1986:5)

Keabsurdan yang dimaksud dapat pembaca rasakan saat membaca, bagaimana pengarang membangun konflik-konflik dalam cerita dengan dialog yang sering kali melantur sehingga pembaca tidak dapat langsung memahami apa yang dibicarakan dalam teks, namun masih dapat dipahami dan terasa realistis jika dimaknai setiap peristiwa dalam tiga babak naskah tersebut.

Naskah Dag-Dig-Dug dibangun dengan pengulangan-pengulangan konflik melalui dialog-dialog antara tokoh Suami dan Istri yang menguatkan naskah ini menjadi aneh dan lucu sekaligus serius, sehingga sublim. Perwatakan tokoh-tokoh dalam naskah ini sangat khas dan merefleksikan manusia kebanyakan, situasi dan kondisi sehingga naskah ini masih terasa kekinian, atau masih dapat dipentaskan pada era sekarang. 

*

Drama adalah kisah konflik hidup manusia yang diproyeksikan di atas pentas menggunakan laku dan ujaran dihadapan penonton. Drama sebagai seni pertunjukan merupakan seni kolektif, kompleks, multikonteks, tetapi ensambel, bulat, dan utuh sehingga dalam proses penjadiannya memerlukan tahapan penciptaan, garapan, dan gaya.

Untuk mementaskan suatu naskah drama, tahap pertama yang dilakukan adalah konkretisasi. Melalui konkretisasi, makna sastra yang sebelumnya tidak tampak dapat dipahami (Pradopo, 2013: 106). Konkretisasi atau pemaknaan terhadap naskah Dag-Dig-Dug diperlukan sebelum melangkah pada tahap penentuan nilai-nilai dan model pementasan.

Naskah Dag-Dig-Dug terdiri dari tiga babak. Ketiga babak ini berlatar di ruang tamu sebuah rumah milik pasangan suami-istri yang menjadi tokoh sentral dalam naskah ini. Konflik bermula saat keduanya didatangi oleh dua orang tamu yang mengabarkan kematian seorang lelaki bernama Chairul Umam. Petunjuk tata panggung dan latar suara menguatkan kerealisan naskah ini. Cerita dijalin secara runut mulai dari perkenalan watak tokoh, konflik-konflik, klimaks, dan antiklimaks, dengan menggunakan alur maju.

Terdapat tujuh tokoh yang berdialog dalam naskah Dag-Dig-Dug yaitu Suami, Istri, Cokro, Tamu I, Tamu II, Ibrahim, dan Tobing, serta terdapat tokoh Chairul Umam yang hanya muncul dalam dialog antartokoh lain namun berperan penting dalam naskah ini. Kedelapan tokoh tersebut perlu dianalisis lebih lanjut.

Tokoh Suami dan Istri adalah orang yang telah lanjut usia sehingga memiliki keterbatasan ingatan dan penyakitan. Tokoh Suami adalah seorang pensiunan pegawai negeri, dan tokoh Istri adalah ibu rumah tangga yang mengurusi segala urusan di rumah dan kamar-kamar rumah yang mereka koskan. Keduanya memiliki watak yang keras kepala sehingga banyak konflik yang muncul hanya dari dialog-dialog kedua tokoh ini:

Suami  : Siapa?

Istri      : Lupa lagi?

Suami  : Tadi malam hapal. Siapa?

Istri      : Ingat-ingat dulu!

Suami  : Lupa, bagaimana ingat!

Istri      : Coba, coba! Nanti diberi tahu lupa lagi. Jangan biasakan otak manja. (...)

                                                                                                (Wijaya, 1986:7)

(...)

Istri      : Jadi uang ini bagaimana?

Suami  : Bagaimana?

Istri      : Terima?

Suami  : Terima?

Istri      : Terima tidak?

Suami  : Terima tidak?

Istri      : Kalau aku, terima. (...)

(Wijaya, 1986:23)

Tokoh Cokro memiliki perangai yang misterius, kehadirannya hanya sebatas suara hingga kemunculan fisiknya dalam monolog babak ketiga. Cokro adalah seorang perempuan tua yang juga keras kepala, ia menderita karena terus-terusan dipekerjakan dan diomeli oleh tokoh Istri. Sepintas tokoh Cokro berperan sebagai pembantu, namun dalam suatu dialog antar Suami, Istri, dan Cokro dapat diketahui bahwa Cokro adalah adik dari tokoh Istri:

Suami: Aduhhhhhh. Jaga baik-baik mbakyumu Kro! Jaga baik-baik! Dosaku banyak aku akan masuk neraka. Aduhhhhh. Jangan lupa pesan-pesanku semua. Di bawah bantal ada buku catatan, aduhhh, baca baik-baik. Maafkan kesalahanku. Maafkan aku Bu. Maafkan aku Cokro. Doakan arwahku agar selamat ke hadirat Tuhan. Aduhhhh. Mati aku sekarang. Aku akan masuk neraka. (...)

(Wijaya, 1986:70)

Tokoh Tamu I dan Tamu II adalah dua orang yang misterius, dua orang ini mengaku sebagai wartawan dari Jakarta dan merupakan teman dari tokoh Chairul Umam. Mereka membawa pesan duka atas kematian Chairul Umam yang pernah tinggal di kos-kosan tokoh Suami-Istri, dan memberikan sejumlah uang duka yang kemudian menjadi pemicu konflik antartokoh Suami-Istri.

Tokoh Ibrahim diceritakan sebagai seorang perancang bangunan kuburan yang ahli dalam mempersiapkan bangunan kuburan. Tokoh Suami mempercayakan Ibrahim untuk merancang segala urusan penguburan, sedangkan tokoh Istri tidak sedikitpun bersimpati kepada Ibrahim. Tokoh Tamu I, Tamu II, dan Ibrahim digambarkan sedang menyembunyikan sesuatu melalui penggambaran aktivitas mencurigakan seperti senyum-senyum dan berbisik, serta petunjuk gestur sedang gelisah:

(...)

 (kedua tamu berbicara satu sama lain, agak rahasia, suami berbicara dengan istrinya agak keras.)

(...)

Tamu II : Maaf, begini, pak.

Suami    : Ya, ya?

Tamu II : Chairul umam, tidak jelas keluarga dan asalnya. Satu-satunya alamat yang kami dapatkan dalam kamarnya adalah alamat bapak. Surat bapak, maaf kami baca demikian akrab sehingga kami memutuskan untuk menghubungi bapak. Sekian lama telah lalu, kami ingin segera urusan ini selesai. (...)

(Wijaya, 1986:15)

 (Percakapan dengan Ibrahim)

(Ibrahim berpakaian kedodoran, kumal menyembunyikan sesuatu.)

ISTRI tidak bersimpati. Yang aktif bicara SUAMI sambil berusaha untuk memperbaiki kesan pertama tukang itu kepada istrinya. IBRAHIM sedang berusaha membaca gambar kuburan itu yang berukuran besar dan dibeber dilantai semuanya berndiri IBRAHIM manggut-manggut.

Suami    : Bagaimana? Gambarnya boleh? Ini tiga tahun yang lalu, waktu ia mondok di sini. Sekarang orangnya sudah mati. Bagaimana?

(Ibrahim senyum-senyum saja. Mengeluarkan cerutu dan mulai berpikir-pikir).

Istri        : Dimakan lagi kuenya!

(Ibrahim sedikit terkejut lalu makan kue sambil mengebul-kebulkan asap cerutu. Lalu ia meneliti lagi gambar itu).

Suami    : Bagus tidak?

Istri        : Pagarnya memang terlalu rapat ke nisan, tak ada tempat menaruh.

Suami    : Bisa tambahkan. Gambar ini sempurna. Ya tidak mas Ibrahim? (Ibrahim senyum-senyum terus sambil mengunyah kue). Apa sulitnya mengerjakanya?

Istri        : Terlalu mewah?

Suami    : Kurasa tidak. Tapi mungkin terlalu ruwet maklum dibuat oleh pelukis. Ruwet mas Ibrahim?

Ibrahim : Hm! Hm! (sebelah batuk-batuk). Soal ruwet itu urusan saya. Tidak, tidak ruwet. Ibrahim biasa membangun yang lebih sulit lagi dari gambar ini. (melihat gambar). Tidak, tidak ruwet. Apa bapak memang sudah memilih gambar ini?

Suami    : Apa ada yang kurang?

Ibrahim : Pagarnya kok begini, jangan begini. Anak-anak memanjat kemari dan ini akan rusak. Ini bagus untuk dilihat tetapi sebagai bangunan kurang. Kalau maunya ada halaman, baiknya ada trap-trap. Di halamannya bisa ditaruh pot-pot bunga, bagus juga untuk dibuatkan tempat duduk meja beton, sedikit atap, jadi bisa dipakai duduk-duduk. Atapnya jangan begini, ini cepat rusak. Ada bahan lain. Pokoknya kalau ini boleh diperbaiki, saya sanggup. Beri waktu satu minggu kira-kira, gambarnya sudah kelar. (mengambil kue dan merokok lagi). (...)

                                                                                    (Wijaya, 1986:44-45)

Tobing adalah seorang lelaki yang sudah mapan dan pernah tinggal di kosan milik Suami-Istri. Melalui dialog Suami dan Istri di babak ketiga, Tobing diceritakan sudah tidak sabar untuk menempati rumah Suami-Istri yang telah lunas dicicilnya. Peran Tobing tidak terlalu mencolok, hanya saja memperkuat konflik antara Suami dan Istri.

Tokoh yang tidak muncul namun berperan penting dalam membangun konflik antara Suami dan Istri adalah tokoh Chairul Umam. Chairul Umam dikabarkan pernah tinggal di kosan tokoh Suami-Istri, meski demikian keduanya tidak ingat akan sosok Chairul Umam. Kabar kematian Chairul Umam yang disampaikan melalui tokoh Tamu I dan Tamu II, membuat tokoh Suami dan Istri kebingungan namun tetap keras kepala dengan pendapatnya masing-masing dan berusaha menganggap semua baik-baik saja.

Konflik utama yang dirisaukan oleh tokoh Suami dan Istri adalah persiapan menuju ajal tetapi yang bersifat materi. Melalui dialog-dialognya dapat disimpulkan bahwa tokoh Suami dan Istri hendak mempersiapkan kematiannya dengan sebaik-baiknya, tidak ingin sedikitpun mengalami kerugian materi. Penulis memaknai naskah ini sebagai kritik atas sifat materialis dan rasionalis manusia yang melampaui batas, tidak seharusnya manusia merasionalkan hal-hal yang menjadi misteri semesta, seperti kematian.

**

Agar dinamika pengaluran dalam visualisasi di panggung dapat sampai kepada penonton, perlu ditentukan nilai-nilai yang terkandung dalam naskah yang ingin dipentaskan, meliputi nilai intelektual, nilai emosional, nilai abstrak, dan nilai dramatik.

Nilai intelektual adalah nilai yang ingin disampaikan oleh sutradara sebagai konseptor pementasan, yang dapat bermanfaat bagi penonton. Penulis ingin menyampaikan ideologi serupa naskah Dag-Dig-Dug yang asli yaitu hendaknya tidak terlalu materialis dan rasionalis terhadap hal-hal di luar jangkauan kita sebagai manusia, serta menguatkan bahwa hendaknya sebagai manusia tidak menyepelekan kematian.

Selain nilai intelektual yang telah dipaparkan di atas, penulis juga ingin memasukan ideologi baru mengenai keharmonisan antarmanusia. Dapat diketahui bahwa dalam naskah, tokoh Suami dan Istri bertindak semena-mena dengan semua tokoh yang lebih muda, dengan akhir cerita yang sama, penulis ingin menonjolkan bahwa  memang kita sebagai makhluk sosial harus menghormati orang yang lebih tua, tetapi bukan berarti yang lebih tua dapat bertindak semena-mena.

Nilai emosional adalah nilai yang muncul dari keindahan yang ditimbulkan dari pementasan drama. Penyampaian nilai emosional adalah melalui pembangunan suasana dan emosi penonton melalui laku dan ujaran para tokohnya. Penulis ingin Dag-Dig-Dug dipentaskan dengan keanehan, kelucuan, dan keseriusan yang telah muncul dalam dialog-dialog dalam naskah aslinya. Penonton akan dibuat terhibur, bertanya-tanya, gemas, sekaligus berpikir.

Kadar kesuksesan penyampaian nilai emosional adalah ketika adegan lucu dipentaskan, penonton akan tertawa, sedangkan ketika adegan tragis dipentaskan, penonton akan sedih, dan sebagainya.

Nilai abstrak merupakan perpaduan antara nilai intelektual dan emosional, nilai yang membangkitkan kegembiraan melalui keindahan. Keindahan yang dimaksud adalah kesatuan pementasan yang kesemua unsur-unsurnya telah bersinergi, mulai dari tata panggung dan properti, tata cahaya, tata musik, tata wajah, dan juga unsur-unsur keaktoran seperti vokal, mimik, dan gestur yang baik.

Melalui tata panggung dan properti yang realis, penulis membangun suasana ruang tamu suatu rumah sederhana yang memenuhi panggung. Cahaya difokuskan pada tengah panggung, dengan meja dan kursi kayu sesuai deskripsi naskah, menguatkan kesan adegan-adegan penting yang terjadi dalam area tersebut. Pengaturan kontras dipergunakan untuk penanda waktu pagi atau malam hari.

Tata suara berfokus pada latar suara yang selama pementasan selalu ada. Suara-suara musik yang pelan dilantunkan saat adegan-adegan kecil, dan pada saat klimaks ada musik yang semakin bergemuruh “dag-dig-dug”. Sesekali ada suara kicau burung di pagi hari dan suara tokek di malam hari.

Tata wajah dan busana para aktor disesuaikan dengan karakter tokoh. Tokoh Suami, Istri, dan Cokro tentu dirias dengan gaya orang tua, tokoh Cokro sendiri mulanya divisualisasikan melalui siluet dan suara saja, sedangkan tokoh Tamu I dan Tamu II dirias sebagaimana wartawan, tokoh Ibrahim berpakaian lusuh serupa deskripsi dalam naskah, dan tokoh Tobing digambarkan sebagai pengusaha sukses.

Nilai dramatik adalah nilai yang dibangun dari konflik-konflik dalam cerita yang dipentaskan. Konflik-konflik yang dibangun dengan alur dramatik yang visualisasinya telah direncanakan dengan baik akan sampai kepada penonton. Saat adegan sedih sekalipun, penonton akan mendapatkan pengalaman estetik sehingga merasa terhibur.

Pementasan naskah drama harus mempertimbangkan keterbatasan intelegensi penonton, target penonton harus disesuaikan dengan kemasan pementasan sehingga tujuan untuk menyampaikan suatu ideologi sampai kepada penonton. Hal tersebut secara tidak langsung akan berdampak kepada durasi dan dinamika alur pementasan. Durasi pementasan sekitar 90 menit dan target penonton adalah masyarakat umum dan siswa SMA sehingga kemasan dengan kandungan nilai-nilai yang telah dipaparkan kiranya dapat sampai kepada penonton.

Pembedahan naskah Dag-Dig-Dug melalui pendekatan aspek-aspek intrinsik dan nilai-nilai yang telah ditentukan di atas dapat menjadi ancangan untuk pementasan sehingga dinamika pengaluran dalam visualisasi di panggung diharapkan dapat sampai kepada penonton.

***

            Dag-Dig-Dug adalah naskah drama yang menarik untuk dipentaskan. Melalui pendekatan aspek-aspek intrinsik dan nilai-nilai yang telah ditentukan di atas, penulis berharap dapat mewujudkan pementasan realis yang keseluruhan unsur-unsur pementasannya bersinergi sehingga berhasil menyampaikan ideologi yang ingin penulis sampaikan.

 

 

Daftar Pustaka:

Pradopo, Rachmat Djoko. 2013. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 2014. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wijaya, Putu. 1986. Dag-Dig-Dug. Jakarta: Balai Pustaka.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    89.318