Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Motif Tindakan Tokoh Aku dan Pemuda Negro dalam There Goes Tatum Karya Umar Kayam

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 25 April 2015
di Apresiasi Sastra - 0 komentar

Motif Tindakan Tokoh Aku dan Pemuda Negro

dalam There Goes Tatum Karya Umar Kayam

oleh Lucky Ariatami

There Goes Tatum dalam Kumpulan Cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan berkisah tentang aksi seorang pemuda Negro yang merampok mahasiswa asal Indonesia. Sepintas cerita pendek ini tampak sangat sederhana namun dalam kesederhanaannya inilah pengarang dapat menggambarkan suasana yang nyata dari suatu peristiwa perampokan yang kerap terjadi.

Wallek(2014:97) mengatakan bahwa karya sastra menyajikan situasi-situasi yang terkadang tidak masuk akal dan motif-motif yang terkadang fantastis. (…)Kebenaran psikologis baru mempunyai nilai artistik jika ia menambah koherensi dan kompleksitas karyanya.

Ada motif di balik tindakan yang dilakukan seorang pemuda Negro tersebut, demikian pula ada konflik batin yang dirasakan seorang mahasiswa asal Indonesia ketika dirampok dengan baik-baik. Berkaitan dengan konflik batin yang dirasakan dan motif di balik suatu tindakan yang dilakukan tokoh dalam cerita, cerita pendek ini tepat untuk dianalisis menggunakan pendekatan teori psikologis.

Pendekatan Teori Psikologis

Pertahanan diri oleh tokoh utama dalam cerpen There Goes Tatum saat mengetahui bahwa lawan bicaranya adalah seorang perampok, dan motif di balik tindakan merampok tokoh pemuda Negro, sangat menarik untuk dianalisis menggunakan pendekatan psikologis. Pendekatan psikologis menekankan analisis terhadap keseluruhan karya sastra baik segi intrinsik maupun segi ekstrinsiknya. Namun, penekanannya pada segi intrinsiknya, yaitu dari segi penokohan dan perwatakannya.

Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Dari segi penokohan, terdapat tiga tokoh utama yakni tokoh aku (seorang mahasiswa asal Indonesia), seorang perampok (pemuda Negro), dan seseorang bernama Tatum (yang juga perampok). Tokoh aku dan pemuda Negro menjadi tokoh sentral yang hendak dianalisis, sedangkan tokoh Tatum menjadi penting karena menjadi alasan dalam tindakan yang dilakukan tokoh utama.

Alur cerita menggunakan alur maju yakni cerita runut dari awal hingga akhir kisah. Cerita diawali dengan penarasian keadaan jalanan New York dan suasana yang dirasakan tokoh aku yang menjadi latar peristiwa. Keadaan gembira dan tentram yang dirasakan tokoh aku tidak berlangsung lama karena tiba-tiba ia didatangi pemuda Negro yang meminta uang sebesar setengah dolar. Dalam keterkejutannya, tokoh aku mencoba tetap tenang. Mulanya ia mengamati dan mendeskripsikan perawakan pemuda Negro tersebut dan setelah terjadi dialog ia memutuskan untuk mencoba melakukan negosiasi, ditunjukkan pada kalimat:

(...) Kini, sesudah dia berhadapan betul dengan aku, aku bisa melihatnya dengan lebih saksama lagi. Sebuah baret hitam di kepalanya, jaket Army yang kumal di badannya, serta celana jengki biru yang sudah bolong-bolong. Badannya tegap, gagah, dan tinggi. Tangannya diulurkan dan sambil tersenyum dia berkata lagi.

Fifty cents, Mistuh.

Aku jadi tersenyum juga melihat cara mengemis yang enak itu.

Fifty cents, Bung?”

Yes, fifty cents.

“Bukankah itu agak lebih tinggi daripada tarip biasa?”

Dia hanya tersenyum dan tangannya masih terus diulurkan.

Aku memutuskan mau mencoba-coba memancing dia dulu, sebelum terpaksa memberikan setengah dolar. (hal. 67)

Layaknya seorang mahasiswa, tokoh aku mampu membuat dialog yang terjadi mengalir dengan baik, menjadikan suasana di antara keduanya akrab, namun suasana ini tidak berlangsung lama karena kemudian terdengar jerit perempuan, yang ternyata teman dari pemuda Negro yang sedang bercakap dengannyalah yang telah merampok perempuan tersebut. Hal ini dimanfaatkan oleh tokoh pemuda Negro untuk menggertak tokoh aku:

Tiba-tiba dari arah 11th Street terdengar jerit perempuan nyaring sekali.

Heeeeelp! Heeeelp! Heeelp!

Aku terkejut. Jantungku berdebar cepat sekali. Waktu aku menengok ke arah suara itu, aku lihat seorang Negro berlari cepat sekali dengan menjinjing sebuah tas perempuan, menyeberang Riverside Drive, masuk park, terus turun dengan kecepatan yang luar biasa, turun ke park bawah, dan menghilanglah dia.

Heeeelp! Heeelp!

Tidak seorang pun muncul dan kesepian kembali seperti semula.

There goes, Tatum!”

“Siapa?”

“Tatum, teman saya.”

“Maksudu si perampok tas tadi?”

Yess, Siiir. Siapa lagi?”

“Teman?” suaraku keluar pelan sekali. (hal. 68-69)

Peristiwa perampokan tersebut membuat tokoh aku memutuskan untuk memberikan uangnya dan bermaksud meninggalkan pemuda Negro itu, tetapi dengan sigap pemuda tersebut menahan bahu tokoh aku. Selanjutnya muncul konflik batin pada tokoh aku ketika tokoh pemuda Negro meminta jam tangan yang merupakan pemberian ayahnya.

Dalam cerpen yang ditulis pada tahun 1961 ini, tokoh pemuda Negro menyebutkan beberapa tokoh pemerintahan di New York saat itu seperti Robert Wagner (mayor), Levitt, dan Adam Clayton Powell, yang menjadi bahan olok-oloknya. Kemudian terjadi dialog mengenai “kode tidak ada perampokan antara kulit berwarna”, namun pemuda Negro mengabaikan hal tersebut. Pada akhirnya, tokoh utama terpaksa menyerahkan jam tangannya:

Aku putus asa. Titoni pemberian ayahku rupanya memang harus meninggalkan aku. Gerimis makin rapat jatuhnya, Aku mencoba menghitung-hitung kemungkinan berlari sekuat tenaga ke arah 112th Street, lalu berlindung ke Colonial-House di kamar seorang teman. Tetapi terlambat. Di tengah gerimis hujan itu aku dengar suara “klik” dan bung Negro mencoba-coba ketajaman pisaunya pada janggutnya. (...) Pelan-pelan aku lepas Titoniku dan aku ulurkan kepadanya. (hal.71)

Cerita berakhir dengan dramatisasi keadaan oleh tokoh utama: “(...) Hujan pun mulai turun dengan lebat. Mendung kelabu-hitam. Aku tahu dia tidak cuma menggertak sambal. Badanku basah kuyup.” (hal. 71) Kalimat tersebut menutup cerita dengan jelas, kepasrahan bahkan perasaan kalah yang disebabkan oleh peristiwa tersebut membuat konflik batin tokoh utama. Tokoh utama yang merupakan seorang mahasiswa tidak dapat berbuat apa pun menghadapi seorang perampok.

Penerapan Psikoanalisis terhadap Tokoh Aku dan Pemuda Negro

Psikoanalisis adalah disiplin ilmu yang ditemukan oleh Sigmund Freud pada tahun 1890-an. Teori psikoanalisis berhubungan dengan fungsi dan perkembangan mental manusia. Freud mengemukakan bahwa secara tidak langsung pikiran manusia lebih dipengaruhi oleh alam bawah sadar(unconscious mind) daripada alam sadar(conscious mind).

Psikoanalisis menukik pada pembagian psikisme manusia. Psikisme manusia dibagi menjadi tiga. Id (nafsu) terletak di bagian alam bawah sadar manusia yang merupakan reservoir pulsi dan menjadi sumber energi psikis. Ego terletak di antara alam sadar dan tak sadar manusia yang bertugas sebagai penengah yang mendamaikan tuntutan pulsi dan larangan superego (negosiasi antara id dan superego). Superego yang terletak di bagian sadar dan sebagian di bagian tak sadar bertugas mengawasi dan menghalangi pemuasan sempurna dari pulsi yang merupakan hasil pendidikan dan norma yang berlaku.

Teori psikoanalisis Sigmund Freud merupakan pendekatan yang tepat dalam menganalisis gejolak perilaku yang ada pada tokoh-tokoh dalam There Goes Tatum. Karena mendekatkan pada segi psikis manusia, segala hal yang mendasari perilaku tokoh dapat diketahui melalui teori ini.

Penyebab dari timbulnya peristiwa perampokan di New York (dalam cerpen ini) adalah diawali dengan rasa rendah diri yang dialami tokoh pemuda Negro sehingga menghasilkan kebiasaan merampok. Hampir mustahil pendatang Negro dengan latar pendidikan rendah mendapatkan pekerjaan di New York, dapat diketahui melalui dialog berikut:

“(...) Atau mungkin Tuan dapat menunjukkan jalan yang lebih baik lagi daripada hanya mengulurkan tangan begini.”

“Ya, bekerja.”

“Ah, bekerja. Tuan seorang manager Employment Agency?

“Bukan, aku hanya seorang mahasiswa saja.”

(...)

“Mengapa tidak Tuan usulkan agar aku jadi mayor mengganti Wagner?”

(hal. 67-68)

Dalam dialog tersebut dapat kita pahami bahwa tidak mungkin si pemuda Negro mendapat pekerjaan. Kalimat “Mengapa tidak Tuan usulkan agar aku jadi mayor mengganti Wagner?” merupakan kalimat ironi yang diucapkan agar lawan bicaranya sadar bahwa usulan tokoh aku untuk mencari pekerjaan adalah mustahil baginya.

Dalam kondisi yang serbakekurangan dan tidak mendapatkan keadilan dari negara maka tokoh pemuda Negro pun memutuskan merampok untuk bertahan hidup. Selanjutnya, latar belakang sejarah mengenai kulit berwarna yang membentuk psikologis tokoh pemuda Negro dapat kembali diketahui melalui tuturannya, “Tuan bukan orang kulit berwarna! Tanyalah kepada gubernur-gubernur di Selatan. Pastilah, Tuan boleh kencing di WC Tuan-tuan itu.” Hal ini diperkuat oleh analisis Wawaney (online) yang menyebutkan bahwa dalam cerpen There Goes Tatum terdapat latar belakang sejarah mengenai kulit berwarna yang diangkat oleh Umar Kayam:

Meskipun sangat minim keterangan latar belakang sosial cerpen kita, ada satu hal penting yang bisa kita cermati: ihwal perjuangan hak sipil. Dalam cerpen ini tokoh pemalak tetap tidak mau menganggap si narator sebagai orang kulit berwarna. Dia bilang, kalau ke Selatan (ke kawasan Georgia, Alabama, Arkansas, Mississippi, Louisiana dll) pasti si narator tidak dianggap berwarna; yang “berwarna”–dan fasilitasnya terpisah dari orang kulit putih menurut Hukum Jim Crow–adalah orang-orang Afrika Amerika yang merupakan keturunan budak. Orang Asia masih boleh pakai kamar kecilnya orang kulit putih dan duduk di kursi-kursi depan bus kota.

Tokoh aku, mahasiswa dari Indonesia, dalam posisi tertekan akhirnya memutuskan untuk menyerahakan uang dan jam tangannya. Tindakan ini tidak begitu saja ia lakukan, sebelumnya batinnya terlibat banyak pertimbangan dan usahanya secara fisik untuk bernegosiasi dengan pemuda Negro juga telah ia usahakan. Dapat dipahami bahwa tindakan tokoh aku adalah tindakan yang bijak karena dalam keadaan demikian yang terpenting adalah pertahanan diri sehingga tidak terjadi kekerasan.

Pertimbangan-pertimbangan yang dipikirkan tokoh aku seperti ketika menghitung-hitung berlari sekuat tenaga dan berlindung di kamar seorang teman, adalah naluri yang muncul. Tokoh aku, seorang mahasiswa yang terpelajar pun akan sempat berpikiran untuk kabur. Namun hal tersebut tidak benar-benar hendak ia lakukan sebab akalnya lebih memilih untuk menyerahkan hartanya dan melindungi nyawanya sendiri.

Usaha Bertahan Hidup Tokoh Aku dan Pemuda Negro

Pradopo (2013:106-117) menjelaskan bahwa karya sastra perlu dimaknai dan pemaknaan tersebut melalui proses konkretisasi yang memerlukan bermacam usaha untuk mencapai makna yang sepenuhnya. Usaha-usaha tersebut saling membantu dan tidak dapat dilakukan secara terpisah untuk mendapatkan hasil yang maksimal. There Goes Tatum karya Umar Kayam merupakan cerita pendek yang menarik dan melalui proses konkretisasi dengan pendekatan psikoanalisis telah didapatkan simpulan yang dapat dimaknai lebih lanjut.

Motif tindakan merampok tokoh pemuda Negro dapat dimaknai sebagai pilihan akhir dalam menjalani kehidupan. Sebagai seorang pendatang yang memiliki kulit berwarna ia tidak mendapatkan keadilan di New York dan tidak dapat mencari pekerjaan sehingga terpaksa hidup menggelandang dan mencari uang dengan merampok.

Tokoh aku dengan konflik batinnya mencoba mempertahankan diri dengan jalur negosiasi dari perampok agar tidak terjadi kekerasan, namun pada akhirnya ia terpaksa merelakan hartanya. Tindakan ini dapat dimaknai sebagai motif pertahanan diri yang bijak karena bagaimana pun nyawanya bisa terancam sewaktu-waktu.

Pada akhirnya, motif tindakan tokoh aku dan tokoh pemuda Negro dimaknai sebagai usaha untuk bertahan hidup. Keduanya tidak dapat dipersalahkan atas apa yang telah diperbuat karena memiliki motif yang kuat dan mendukung tindakannya.

 

Daftar Pustaka:

Kayam, Umar. 2003. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2013. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wawaney. 2014. “Dari Hutan Kota TKP There Goes Tatum karya Umar Kayam”, (Online), (https://timbalaning.wordpress.com/2014/03/29/dari-hutan-kota-tkp-there-goes-tatum-karya-umar-kayam/), diakses 31 Desember 2014.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 2014. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    84.297