Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Strategi Kebudayaan, Revolusi Mental, dan Masa Depan Kita: Dampak Industri Rokok Kretek sebagai Warisan Budaya pada Mental Bangsa Indonesia

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 25 April 2015
di Umum - 0 komentar

Strategi Kebudayaan, Revolusi Mental, dan Masa Depan Kita:

Dampak Industri Rokok Kretek sebagai Warisan Budaya

pada Mental Bangsa Indonesia

oleh Lucky Ariatami

Abstrak         

Industri rokok kretek yang dianggap sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan berdampak pada mentalitas bangsa yang menjadi ketergantungan mengonsumsi rokok. Selain itu kenikmatan dan kepuasan menghisap rokok mengalahkan rasionalitas, akal dan pikiran untuk memikirkan dampak negatifnya pada kesehatan dan lingkungan. Regulasi rokok yang bijak dan pro kesehatan rakyat akan mewujudkan generasi penerus bangsa yang sehat, peduli lingkungan dan sesama, serta disegani bangsa lain.

Kata Kunci: strategi kebudayaan, industri kretek, warisan budaya, mentalitas bangsa

 

Sejak 24 Juni 2014 peringatan rokok bergambar (Pictorial Health Warning) efektif diberlakukan di Indonesia. Gambar peringatan bahaya merokok yang mendominasi bungkus rokok berupa visualisasi penyakit yang disebabkan merokok bertujuan agar masyarakat lebih waspada dan menghindari konsumsi rokok.

Jika sebelumnya peringatan “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin” diabaikan begitu saja oleh masyarakat, maka kini peringatan tidak lagi bertele-tele yaitu “Merokok membunuhmu”  dengan gambar tengkorak. Peringatan ini memang lebih jelas dan padat sehingga lebih mengena pada masyarakat. Namun dalam logika kebahasaan, akan ditemukan hal yang menarik dari peringatan tersebut yaitu apabila memang rokok membunuh konsumennya, mengapa rokok masih diproduksi, bukankah itu berarti menciderai kemanusiaan karena bahkan pembunuhan dilegalkan oleh negara?

Semua orang paham bahaya merokok dan tidak perlu lagi perdebatan atas madhorot rokok.  Dalam rokok terdapat 4000 bahan kimia berbahaya yang 69 diantaranya merupakan zat karsinogenik (dapat menimbulkan kanker) serta zat-zat adiktif lainnya. Namun demikian ada banyak alasan orang merokok, seperti gaya hidup (lifestyle), kepuasan (satisfaction), merasa gagah atau macho (masculine) sehingga orang tetap mengonsumsi rokok (Cahyadi, 2014).

Terlepas dari pemaparan di atas, penulis akan memfokuskan tulisan ini pada perdebatan rokok kretek sebagai warisan budaya Indonesia dan dampaknya pada mentalitas bangsa kita. Tulisan ini bertujuan untuk mendapatkan perspektif terbijak dalam menyikapi industri rokok.

Rokok kretek sebagai warisan budaya

Sejawaran UGM, Dr. Sri Margana, M.Phil menyatakan rokok kretek sebagai warisan budaya terdapat pada rasa dan aroma kretek khas masyarakat pribumi. Keunikan proses inilah yang bisa mengategorikan kretek sebagai warisan budaya. Apalagi ramuan dalam setiap merk diwariskan secara turun-temurun (Gusti, 2014).

Jelas bahwa memang komoditas tembakau memberikan kontribusi pendapatan yang besar bagi negara sejak zaman dahulu, namun peran rokok lebih dari itu, sehingga menurut Nawiyanto, PhD., melakukan pendekatan secara sosiokultural dalam usaha kontrol atas tembakau dan merokok menjadi perlu, mengingat tembakau dan merokok di Indonesia bukan hanya masalah kesehatan dan ekonomi saja, bahkan bagi sebagian pihak, rokok kretek bagi Indonesia lebih daripada komoditas ekonomis semata, namun sudah merupakan identitas bangsa (Iim, 2012).

Dilema regulasi rokok

Hepi Cahyadi selaku Pegawai Direktorat Jenderal Pajak, dalam situs resmi menyatakan bahwa pemerintah kita bahkan hingga kini tidak ’’berani’’ meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control atau FCTC) yang dibuat WHO pada 2003. Meski ikut merancang FCTC, Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Pasifik yang belum meratifikasi FCTC.

FCTC mengatur kebijakan harga dan pajak rokok, perlindungan terhadap paparan asap rokok, kandungan rokok, kemasan rokok, edukasi, komunikasi, pelatihan dan perhatian publik, promosi atau iklan rokok, serta perlindungan bagi lingkungan. Tujuannya, melindungi generasi masa kini dan mendatang dari dampak konsumsi tembakau dan paparan asap rokok terhadap kesehatan, sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Saat ini memang negara-negara di dunia sedang berperang mengurangi pengaruh buruk rokok dengan mengurangi iklan di muka umum, sedangkan fakta yang tidak dapat dipungkiri adalah dana rokok juga membiayai (sponsorship) pertandingan liga sepak bola dunia dan seringkali menjadi donatur beasiswa (scholarship).

Memang benar Indonesia masih banyak bergantung kepada hasil industri rokok, mulai dari cukai, PPN, lapangan pekerjaan buruh linting, petani tembakau dan sebagainya. Selain itu sebagai negara berkembang, dengan tingkat kepedulian kesehatan yang rendah serta ditunjang harga rokok yang murah, peringatan rokok bergambar  (Pictorial Health Warning) tidak akan berpengaruh banyak terhadap kebiasaan masyarakat untuk mengonsumsi rokok.

Mewujudkan generasi yang peduli

Rokok sebagai bagian dari kebudayaan telah kita pahami sebagai suatu produk kebudayaan yang dihasilkan dari suatu proses kreatif manusia. Sebagai warisan budaya, industri rokok memang berperan penting dalam sejarah. Namun harus ada kesadaran bahwa kebudayaan berperan penting dalam membangun mental sehingga apabila kita masih bergantung pada industri rokok, tentu berdampak pada mentalitas bangsa yang menjadi ketergantungan mengonsumsi rokok.

Kenikmatan dan kepuasan menghisap rokok mengalahkan rasionalitas, akal dan pikiran untuk memikirkan dampak negatif kesehatan serta akibat buruk anggota keluarga yang menghirup pasif asap rokok. Semoga kita tidak menjadi bangsa yang terus-terusan mengonsumsi produk kebudayaan, tetapi memproduksi kebudayaan.

Regulasi, sosialisasi, dan pembinaan perlu dicermati kembali apakah telah sesuai dan menuju ke arah kondisi sosial yang diidamkan oleh Pancasila sebagai dasar negara? Yang pasti, regulasi rokok yang bijak dan pro kesehatan rakyat akan mewujudkan generasi penerus bangsa yang sehat, peduli lingkungan dan sesama, serta disegani bangsa lain.

 

Daftar Pustaka

Alfian. 1985. Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan. Jakarta: PT Gramedia.

Cahyadi, Hepi. 2014. “Dilema Regulasi Rokok, Menimbang Efektivitas Pictorial Health Warning”, (Online), (http://www.pajak.go.id/content/article/dilema-regulasi-rokok-menimbang-efektivitas-pictorial-health-warning, diakses pada 29 Oktober 2014).

Gusti. 2014. “Dulu, Industri Kretek Milik Pribumi”, (Online), (http://ugm.ac.id/id/berita/8842-dulu.industri.kretek.milik.pribumi, diakses pada 29 Oktober 2014).

Iim. 2012. “Kontrol Atas Tembakau dan Merokok: Uneasy Business”, (Online), (http://www.unej.ac.id/index.php/id/berita/akademik/186-kontrol-atas-tembakau-dan-merokok-uneasy-business.html, diakses pada 29 Oktober 2014).

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    91.941