Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Gaya Kepenulisan, Penokohan, dan Makna dalam Seri Supernova Karya Dee: Tinjauan Struktural

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 07 September 2014
di Sastra Indonesia - 0 komentar

Sebuah karya sastra tidak akan bersifat tetap sepanjang sejarah, meski strukturnya tetap sama sepanjang zaman tapi struktur tersebut bersifat dinamis, berubah sepanjang sejarah ketika melalui pikiran pembaca yang menghasilkan proses interpretasi, kritik sastra, dan apresiasi yang terus berlangsung (Wellek, 2014:316).

Sejak ditebitkannya Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (2001) hingga kini, telah terbit total empat episode Supernova, dengan Akar (2002), Petir (2005), dan Partikel (2012). Penulis ingin menyusun suatu sejarah sastra melalui kacamata struktural yang berfokus pada pola sudut pandang dan alur penceritaan, tokoh dan penokohan, serta tema mayor dalam seri Supernova tersebut.

Pradopo (2013:106-117) menjelaskan bahwa karya sastra perlu dimaknai dan pemaknaan tersebut melalui proses konkretisasi yang memerlukan bermacam usaha untuk mencapai makna yang sepenuhnya. Usaha-usaha tersebut saling membantu dan tidak dapat dilakukan secara terpisah untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Seperti yang diketahui bahwa episode-episode Supernova memiliki kesinambungan dalam penceritaannya (berseri), sehingga tidak dapat dipisahkan antara episode yang satu dengan episode yang lainnya. Sebab itu, penulis akan mengkaji pola sudut pandang dan alur penceritaan, tokoh dan penokohan, serta tema mayor dalam keempat seri Supernova secara langsung. Hal ini bertujuan untuk dapat mengetahui dinamika gaya kepenulisan dalam Supernova, mengungkap keterkaitan antartokoh, serta mendapatkan makna yang utuh dari seri tersebut.

 

Kepingan Supernova

Supernova membatasi pergantian sudut pandang penceritaannya melalui fragmen-fragmen yang diistilahkan menjadi keping. Sejak Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) hingga Partikel total terdapat 42 keping. KPBJ paling banyak mengandung keping (33 keping) karena seringnya perubahan tokoh pusat yang diceritakan, namun semuanya masih menggunakan sudut pandang yang sama yakni sudut pandang persona ketiga dengan teknik pencerita diaan-mahatahu.

Teknik pencerita diaan-mahatahu merupakan teknik yang tepat karena KPBJ terdiri dari rangkaian sekuen yang pada mulanya terlihat terpisah ternyata pada akhirnya merupakan suatu kesatuan. Meski demikian, kesatuan rangkaian sekuen tersebut membuat rancu suara narator, yaitu suara Dimas dan Reuben dengan suara pengarang implisit. Dimas dan Reuben yang berkedudukan sebagai tokoh lebih banyak dipergunakan sebagai alat untuk pengarang implisit menyatakan pikiran-pikirannya.

KPBJ banyak menggunakan unsur sains sehingga berpengaruh pada gaya kepenulisan yang cenderung memuat pemikiran-pemikiran tokoh melalui dialog-dialog dalam latar diskusi tokoh Reuben dan Dimas, juga melalui ulasan website tokoh cyber avatar (Diva/Supernova). Bramantio (2005:283) mengungkapkan bahwa Supernova (KPBJ) merupakan sebuah teks transformasi paradoks kucing Schrodinger, efek kupu-kupu Lorenz, dan geometri fraktal. Re-creating terhadap hipogram tersebut menghasilkan sebuah teks dalam rangka fungsi menampilkan science sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan manusia, bukan semata-mata teori mati seperti yang selama ini dikenal masyarakat umum.

Selain unsur sains, juga terdapat struktur genre puisi yang digunakan untuk menggerakkan alur cerita. Chotimah (2002:158) memaparkan bahwa ada dua jenis puisi yang diintegrasikan dalam KPBJ yakni puisi utama yang berisi dongeng klasik mengenai Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, dan puisi-puisi yang menggambarkan ungkapan perasaan Ferre.

Sedikit berbeda dengan KPBJ yang sering berpindah-pindah pusat penceritaan/pengisahan untuk membangun kesan keterpisahan sekuen, pergantian tokoh pusat penceritaan dalam Akar, Petir, dan Partikel hanya terjadi tiga kali, sehingga masing-masing hanya memuat tiga keping cerita. Pergantian tokoh sebagai pusat penceritaan ini juga turut diikuti oleh pergantian sudut pandang, dari sudut padang diaan-mahatahu menjadi akuan-sertaan, dan sebaliknya.

Minderop (2011:107) menjelaskan apabila pencerita akuan-sertaan menggunakan “aku” sebagai tokoh utama, ia akan menceritakan segalanya mengenai dirinya, pengalaman, pandangan, keyakinan, dan lain-lain. Teknik tersebut dapat termasuk dalam teknik arus kesadaran. Minderop (2011:122-123) menjelaskan bahwa teknik arus kesadaran berhubungan dengan waktu naratif yang dikontrol oleh pengarang, pengarang dapat menampilkan waktu sekarang atau waktu lampau dengan berselang-seling melalui teknik ini. Hal ini dimungkinkan karena teknik arus kesadaran berhubungan dengan aliran pikiran tokoh yang melompat-lompat dari satu tempat ke tempat lain ataupun dari satu waktu ke waktu lain.

Keping pertama dalam Akar, keping 34, menceritakan tokoh Gio yang merupakan kekasih Diva, yang berada di Bolivia pada tahun 2003, dengan menggunakan sudut pandang persona ketiga dengan teknik pencerita diaan-mahatahu. Latar tahun 2003 ini menjadi tahun-kini, masa sekarang dalam keseluruhan cerita. Dalam keping selanjutnya, keping 35, sudut pandang berganti menjadi sudut pandang persona pertama dengan teknik pencerita akuan-sertaan, dan Bodhi sebagai tokoh utama dalam Akar menjadi narator dalam keping ini.

Berlatar Jakarta pada tahun 2002, Bodhi diminta oleh sahabatnya, Bong, untuk menceritakan pengalaman hidupnya kepada teman-temannya. Kemudian penceritaan dihadirkan melalui teknik flashback berupa kenangan namun dihadirkan secara langsung dan runut, bagaimana Bodhi mengalami perjalanan hidup selama tahun 1978 hingga 1998. Hal ini menyebabkan suara Bodhi sebagai pencerita tenggelam dengan suara Bodhi sebagai pelaku di masa lalu:

“Wah! Keren!” Keempat anak di depanku berseru seraya menandak-nandak semangat. Hidup Kell memang khayalan termuluk setiap pria; cakap, digila-gilai, bebas menginjeksikan spermanya tanpa dimintai pertanggungjawaban.

Must be something in my genes,” begitu kata Kell sambil tersenyum. [...] Dan, dua perempuan di kamar kami, Robin dan Yvonne, mengapresiasinya bak lukisan Monalisa. [...] –Akar, hlm.61-62

Keping ini ditutup dengan latar tahun 2002, kembalinya suara Bodhi sebagai pencerita di hadapan teman-teman Bong. Pada keping 36, meski pusat penceritaan masih tokoh Bodhi masa sekarang (2003), sudut pandang yang digunakan berganti menjadi sudut pandang persona ketiga dengan teknik diaan-mahatahu.

Dalam Akar, untuk menggerakkan cerita, unsur sains tidak lagi mendominasi, sedangkan struktur genre puisi tidak ada sama sekali. Akar cenderung pada pemahaman mendalam mengenai konsep religiusitas untuk menggerakkan cerita. Bodhi yang telah delapan belas tahun belajar dan mengabdi di wihara telah paham seluk-beluk ajaran Budha, namun kekuatan supernatural yang dimilikinya membuat Bodhi harus mencari jati dirinya.

Pola pergantian sudut pandang dalam Akar sama persis dalam Petir. Keping pertama Petir, keping 37 menceritakan Dimas, yang berada di Jakarta pada masa sekarang, yang menerima surel dari Gio, dengan menggunakan sudut pandang persona ketiga dengan teknik pencerita diaan-mahatahu. Selanjutnya, keping 38, sudut pandang berganti menjadi sudut pandang persona pertama dengan teknik pencerita akuan-sertaan, dan Elektra sebagai tokoh utama dalam Petir menjadi narator. Penceritaan Elektra dimulai pada tahun 2001 dengan latar Bandung. Pada keping 38, meski pusat penceritaan masih tokoh Elektra, sudut pandang yang digunakan berganti menjadi sudut pandang persona ketiga dengan teknik diaan-mahatahu. Dalam keping ini Elektra bertemu dengan Bong yang merupakan sahabat Bodhi.

Petir masih menyinggung sedikit akan religiusitas, bagaimana kakak perempuan Elektra, Watti, adalah seorang Kristen yang tekun kemudian memeluk Islam, dan Bu Sati, seorang terapis yang juga guru spiritual Elektra, yang enggan menyatakan agamanya namun memiliki konsep akan keilahian yang mendalam. Sama halnya dengan Akar, episode Petir masih menekankan pada pengalaman spiritual tokohnya, namun tidak lagi menggunakan unsur pembentuk yang dominan sebagai penggerak cerita.

Berlatar di Bolivia pada masa sekarang, keping pertama Partikel, keping 40, menggunakan sudut pandang persona pertama dengan teknik pencerita akuan-sertaan, yang langsung dinarasikan oleh tokoh utamanya yakni Zarah. Kemudian penceritaan dihadirkan melalui teknik flashback, bukan berupa kenangan melainkan dihadirkan langsung (sedikit berbeda dengan Akar), bagaimana Zarah mengalami perjalanan hidup selama tahun 1979 hingga 1996. Teknik ini lebih dapat diterima karena pada akhirnya suara Zarah sebagai narator tidak timbul-tenggelam seperti Bodhi dalam Akar.

Keping 41 Partikel berlatar London di masa sekarang, meski pusat penceritaan masih tokoh Zarah, sudut pandang yang digunakan berganti menjadi sudut pandang persona ketiga dengan teknik diaan-mahatahu. Sedangkan dalam keping 42, sudut pandang yang digunakan masih sudut pandang persona ketiga dengan teknik diaan-mahatahu, hanya saja pusat penceritaan berpindah pada tokoh Elektra yang bertemu dengan Bodhi di Bandung, di masa sekarang. Partikel masih memuat cerita mengenai pengalaman spiritual, menggunakan teori-teori sains yang bersinggungan dengan tumbuhan, entitas di dimensi lain (alien), hingga konsep religiusitas Bwiti sebagai penggerak alur cerita.

Melalui analisis di atas dapat diketahui bahwa KPBJ memuat beberapa sekuen yang terlihat berbeda namun ternyata merupakan suatu kesatuan dan di dalamnya juga terdapat karya lain yang bergenre puisi sebagai unsur penggerak alur cerita, sehingga dari gaya kepenulisan tersebut dapat dikatakan bahwa KPBJ merupakan episode yang paling menitikberatkan pada teknik penceritaan. KPBJ bereksperimen dengan teknik sinematik yakni mencampur teknik montase, teknik kolase, dan teknik asosiasi.[1]

Penceritaan dalam Akar, Petir, dan Partikel, lebih dominan pada alur cerita maju dengan teknik flashback. Akar sendiri cenderung menggunakan teknik asosiasi, tidak dituntun oleh logika tetapi oleh asosiasi atau tautan, yakni suatu penginderaan mengingatkan kita akan hal lain yang bertautan (Minderop, 2011:162-163), sehingga suara Bodhi sebagai pencerita timbul-tenggelam, sedangkan penceritaan dalam Petir dan Partikel tidak terlalu mengutamakan teknik sinematik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pola sudut pandang dan alur penceritaan dalam seri Supernova sebenarnya tidak banyak berubah sejak Akar, hanya saja tekniknya sedikit berbeda.

 

Model-model dalam Supernova

Wellek (2014:259) menjelaskan bahwa dalam suatu cerita yang penting bukan hasil akhirnya melainkan kejadiannya, karena cerita adalah suatu proses—meskipun mungkin proses tersebut untuk mencapai suatu titik penyelesaian. Supernova merupakan suatu cerita yang menitikberatkan pada kejadian-kejadian dan proses pengembangan karakter yang dialami tokoh-tokohnya.

Melalui analisisnya, Bramantio (2005:288) mengungkapkan bahwa Supernova (KPBJ) memiliki tujuh model yakni keterasingan, rekonstruksi eksistensi, penemuan jati diri, kebebasan mengubah perspektif, kesadaran personal, kepedulian terhadap sesama, dan aktualisasi diri, yang kemudian dapat ditarik matriksnya yaitu kesadaran personal orang-orang yang terasing.

Tidak hanya dalam KPBJ, rupanya dalam Akar, Petir, dan Partikel pun pembaca akan menemui model dan matriks yang sama. Jika dalam KPBJ merefleksikan kehidupan masyarakat modern yang di dalamnya terdapat individu-individu yang terasing, seperti gay, pelacur, dan orang-orang yang melakukan perselingkuhan, maka dalam Akar ada anak punk dan tukang tato.

Kemudian dalam Petir, individu-individu yang terasing dihadirkan melalui tokoh peranakan tionghoa yang kurang pergaulan dan tokoh guru spiritual atau terapis. Demikian pula dalam Partikel, terdapat tokoh ilmuwan yang dicap musyrik dan anaknya yang dicap ateis sehingga keduanya dikecam oleh masyarakat, bahkan keluarganya sendiri.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam seri Supernova memang lebih spesifik pada kekuatan supernatural-spiritual yang dimilikinya. Meski kita tahu bahwa Dimas dan Reuben juga Diva (Supernova) dalam KPBJ memiliki “kekuatan” yang diuraikan sedemikian rupa oleh Reuben melalui teori-teori fisika, dalam Akar dan Petir, “kekuatan” Bodhi dan Elektra lebih nyata dan berdampak langsung pada kehidupan mereka, sedangkan dalam Partikel tokoh Zarah diceritakan memiliki kelebihan dalam insting dan percaya pada keberadaan dimensi lain.

Tokoh Diva yang merupakan Supernova, yang selalu memberi kejutan pada tokoh utama lainnya melalui surat-suratnya, memang diceritakan menghilang (keping 34, Akar) dan belum diceritakan kembali hingga episode Partikel. Sejauh ini, para kandidatnya adalah Bodhi-Akar, Elektra-Petir, dan Zarah-Partikel. Dalam “pesan” dari seorang pria tak dikenal yang diterima Gio ketika ia berada di Bolivia dikatakan, “Mereka sejenis dengan yang hilang. Mereka berempat.”(Akar, hlm.7) sehingga bisa diperkirakan bahwa empat orang yang dimaksud adalah ketiga kandidat tersebut, dan satu tokoh utama lagi yakni Alfa dalam episode Gelombang[2].

Dalam KPBJ, perselingkuhan antara Ferre dan Rana berakhir dengan kembalinya Rana kepada Arwin, suaminya. Kelapangan hati Arwin yang merelakan Rana bersama Ferre, demi melihat Rana berbahagia, membuat Rana sadar bahwa eksistensinya adalah bersama Arwin, yang memiliki cinta yang membebaskan, bukan membelenggu. Melalui dialog Reuben dan Dimas, pemahaman yang dalam mengenai cinta diterjemahkan melalui bahasa sains:

 “Menurutku, cinta adalah energi dasar. Tunggal. Kebencian pun berasal dari energi yang sama, hanya ia mengalami proses saturasi,” jelas Reuben, “dan semua pemilahan kategori cinta sesungguhnya adalah satu zat sama dengan kadar polusi berbeda-beda. Polusi itu tercipta di pikiran kita. Jadi, apabila pemilahan-pemilihan tadi lenyap, yang ada hanyalah—”

“...mengalami.” Dimas tersentak.

Mengalami? Reuben tercenung.

“Cinta adalah mengalami,” ulang Dimas mantap. “bukankah itu inti semuanya? Mengapa ada hidup, mengapa kita mati, mengapa kira jatuh cinta, berkeluarga, beranak pinak, mengapa ada ini dan itu? Semuanya adalah pengalaman. Ingin mengalami adalah hasrat yang paling dasar.” –KPBJ, hlm. 148

Sementara itu, dalam Akar, perjalanan Bodhi yang tidak mudah diawali saat kepergiannya dari Lawang. Ia bertemu dengan seorang backpacker bernama Tristan di Butterworth, dan bertemu dengan Kell di Bangkok. Ia kehilangan jejak Kell hingga harus pergi ke Golden Triangle, tapi di sana ia malah bertemu dengan Tristan. Kemudian ketika hendak ke Pailin ia terjebak dalam baku tembak, bertemu dengan Sorn Sum, terpaksa harus berkelahi hingga akhirnya lari dan dapat menyelamatkan diri. Sampai akhirnya sampai di Pailin ia bertemu Kell kembali. Perjalanan yang tidak pernah terduga olehnya ini membuat Bodhi sadar bahwa eksistensinya adalah dalam proses pencarian itu sendiri, dan ia bertekad untuk terus berproses.

Bodhi sangat menyayangi orang-orang di sekitarnya, terutama Guru Liong yang telah merawatnya dari kecil, Bong yang menerimanya saat tidak lagi memiliki tujuan, dan Kell, yang mengajarkan cara menato, yang juga merupakan orang yang memang ditakdirkan untuk bertemu dengannya dengan cara yang mengejutkan:

Ternyata aku rindu saat-saat yang seperti ini. Kell, dengan segala kesenjangan di antara kami berdua. Aku yang tak mungkin jadi ia dan ia yang tak mungkin seperti aku. Namun, ketika lingkaran kami beririsan, ada satu keakraban yang berumur panjang, hangat seperti api pendiangan. Basa-basi adalah lawakan, dan kami saling menghargai di balik caci maki.—Akar, hlm. 205

Dalam Petir, tokoh Elektra yang mulanya kuper, dan lebih terpuruk setelah kematian ayahnya, berhasil bertransformasi menjadi manusia kekinian dengan membuka usaha warnet. Selain itu, kekuatan spiritual yang dimilikinya terus diasah dengan bantuan Bu Sati. Elektra yang tidak peka bahwa sebenarnya Toni (Mpret) menyayanginya, sebenarnya memiliki rasa yang sama, hanya saja ia tidak mengakui perasaannya. Elektra sering mengagumi Toni hanya dalam batinnya saja:

[...] Mata Mpret memang bikin sirik. Besar, menjorok ke dalam, alisnya tebal, bulu matanya lentik. Dan, mataku kebalikan dari itu semua. Kecuekannya juga bikin sirik, andai saja aku bisa begitu, bersikap acuh tak acuh, tetapi tetap punya pengaruh.—Petir, hlm 241

Toni ternyata saudara sepupu Bong, dan Bong-lah yang mempertemukan Elektra dengan Bodhi. Pada akhirnya Elektra sadar bahwa kekuatan spiritualnya, mengendalikan listrik, adalah eksistensinya sebagai “penyembuh” orang lain yang membutuhkan bantuannya.

Zarah Amala dalam Partikel harus menempuh perjalanan panjang untuk mencari ayahnya yang menghilang secara tiba-tiba. Tokoh ayahnya, Firas, juga merupakan representasi orang yang terpinggirkan karena rasa ingin tahu dan penelitiannya ia dicap kafir oleh masyarakat. Salah satu kalimat ayahnya yang terus diingat oleh Zarah yaitu,“Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.”(Partikel, hlm. 69)

Sejak memenangi kompetisi fotografi dan mendapat hadiah wisata, ia memutuskan untuk tinggal di daerah konservasi orang utan, Tanjung Puting. Ia bertemu dengan Bu Inga, orang pertama yang mendirikan kamp konservasi dan telah meneliti sejak lama.

Zarah kemudian bertemu dengan Paul yang mengajaknya menjadi wildlife photographer dan pindah ke London. Tujuan utamanya adalah mencari pemilik kamera yang dikirimkan untuknya, dan berharap dapat mengetahui keberadaan ayahnya. Setelah dihianati oleh cinta pertama dan sahabatnya, akhirnya sadar bahwa Paul-lah cinta sejatinya:

[...] Pinggangku direngkuh dan ia mendaratkan sebuah ciuman. Setengah mendarat di pipi, dan setengah lagi mendarat di bibir. [...]

Sepanjang perjalananku di bus, bayangan Paul terus menghantui. Sekejap tatapannya sebelum ia mendekat, senyum gugupnya, ciumannya yang ambigu, menciptakan lingkaran pertanyaan di benakku. Di antara pertanyaan-pertanyaan itu, terselip pertanyaan bagi diriku sendiri. Masih perlukah aku bertanya atas sesuatu yang sebetulnya sudah kuketahui jawabannya?—Partikel, hlm. 382

Zarah pun berhasil menemui Pak Simon, kenalan ayahnya, di Glastonbury dalam konferensi akbar para peminat UFO, crop circle, metafisika, dan sejenisnya. Ia diperkenalkan pada praktik Bwiti dan segala yang berhubungan dengan jurnal ayahnya. Zarah sadar bahwa eksistensinya pada pencarian kebenaran jurnal ayahnya.

Semua tokoh utama yang merefleksikan individu-individu terasing dalam tiap episode Supernova diceritakan terpuruk pada awalnya, memiliki masalah dan seakan hilang arah. Peristiwa-peristiwa yang dialami tiap tokoh utama dalam tiap episode akan mengarah pada pengalaman spiritual yang mendalam sehingga dalam keterasingan yang demikian, tokoh-tokoh tersebut tetap berusaha mengaktualisasikan diri dengan cara merekonstruksi eksistensi, hingga pada akhirnya mereka dapat berusaha memahami sepenuhnya jati diri mereka.

 

Penutup

Ketika pembaca merumuskan sebuah makna dan menarik kesimpulan, sering kali teks sastra, menorehkan makna lain yang berbeda dari makna yang telah disimpulkan oleh pembaca lainnya. Keberadaan makna itulah yang membuktikan bahwa sesungguhnya pemahaman pembaca terhadap sebuah teks, tidak pernah tunggal dan memiliki potensi penafsiran baru yang berbeda-beda.

Pada akhirnya, meski makna yang terkandung tidak dapat dirangkum seluruhnya, setidaknya makna yang dapat disimpulkan dalam tulisan ini merupakan makna yang utuh, yang didapat dari tinjauan struktural, melalui analisis pola sudut pandang dan alur penceritaan, tokoh dan penokohan, serta tema mayor, terhadap seri Supernova, mulai dari episode KPBJ hingga Partikel.

Melalui analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pola sudut pandang dan alur penceritaan dalam seri Supernova tidak banyak berubah sejak Akar, sedangkan gaya kepenulisan dalam tiap episode berubah-ubah sesuai unsur-unsur penggeraknya, serta pengaruh karakter tokoh yang menjadi narator.

Secara langsung tokoh-tokoh yang dihadirkan selalu merupakan individu-individu terasing, yang ternyata saling berhubungan. Tetapi dalam keterasingan yang demikian, tokoh-tokoh tersebut tetap berusaha mengaktualisasikan diri dengan cara merekonstruksi eksistensi sehingga pada akhirnya dapat berusaha memahami sepenuhnya jati diri mereka.

Seri Supernova dapat dimaknai sebagai karya yang berfokus pada pengalaman spiritualitas, dengan kekonsistenan dalam mengusung tentang proses pencarian jati diri, kontemplasi akan makna kehidupan, religiusitas/keilahian, dan cinta. Tema-tema tersebut terus berkembang dalam tiap episode melalui pengalaman-pengalaman para tokoh utamanya yang saling memiliki keterkaitan.

 

Daftar Pustaka

Bramantio. 2005. “Struktur Naratif, Intertekstualitas, dan Makna Novel Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Tinjauan Struktural-Semiotik”. Skripsi Sarjana Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya.

Chotimah, Husnul. 2002. “Trauma dan Kecemasan Tokoh-Tokoh Utama dalam Novel Supernova Karya Dee: Tinjauan Semiotik”. Skripsi Sarjana Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya.

Dee. 2012. Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

___. 2012. Supernova: Akar. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

­­­___. 2012. Supernova: Petir. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

___. 2012. Supernova: Partikel. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

Minderop, Albertine. 2011. Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2013. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 2014. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



[1] Minderop (2011:150-163) menjelaskan tentang teknik sinematik dalam novel arus kesadaran. Teknik montase memiliki arti memilah-milah, memotong-motong, serta menyambung gambar sehingga menjadi satu keutuhan, untuk memperlihatkan hubungan imaji yang tumpang tindih. Teknik kolase berarti menghasilkan cerita yang di dalamnya terdapat sisipan karya lain. Teknik asosiasi sendiri berarti menghasilkan serentetan episode yang tampaknya tidak berkaitan namun kemudian keterkaitannya dapat dijelaskan.

[2] Dalam biodata penulis yang terlampir dalam serial Supernova, tercantum bahwa serial Supernova akan dilanjutkan dengan episode Gelombang dan Inteligensi Embun Pagi.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    98.356