Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Representasi Manunggaling Kawula Gusti dalam Nostalgia Karya Danarto

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 07 September 2014
di Apresiasi Sastra - 0 komentar

Danarto dalam berkarya sangat kuat mengekspresikan kebudayaan Jawa, termasuk spekulasi mistisnya yang bercorak spiritual. Cerpennya yang berjudul Nostalgia terinspirasi dari epos yang sangat terkenal dalam kebudayaan Jawa yakni Mahabharata, sehingga untuk mengapresiasi cerpen ini, diperlukan pengetahuan mengenai cerita Mahabharata tersebut, khususnya bagian perang Bharata Yudha. Cerita ini sangat menegangkan dan mengerikan namun sarat akan perenungan dan pesan-pesan kebaikan.

Diceritakan pada suatu malam, ksatria pasukan Pandawa yang telah meluluh-lantakkan pasukan Kurawa, Abimanyu, didatangi oleh seekor katak yang bercerita panjang lebar mengenai pentingnya pengetahuan untuk mencapai kesejatian. Mulanya Abimanyu yang saat itu sangat berambisi untuk memenangi perang tersebut menganggap remeh perkataan sang katak, namun lambat laun ia mulai memahami maksud dari petuah-petuah sang katak.

Hadirnya tokoh katak merupakan representasi dari kebijaksanaan yang mampu menjelaskan hakikat manusia, yakni pentingnya pengetahuan daripada singgasana atau kekuasaan untuk mencapai suatu kesejatian. Tokoh Abimanyu sendiri disebut-sebut oleh Kresna telah mengalami pembasuhan yang hebat dalam dirinya dan pengetahuan semesta masuk dalam sukmanya. Bersamaan dengan itu, Kresna mengepalkan tangannya dan memaki sang katak, berarti Kresna adalah sosok yang menghendaki terjadinya peperangan dan memahami pencapaian kemenangan sebagai tolok ukur keberhasilan.

Keesokan harinya, pada puncak perang Bharata Yudha, tiba-tiba Abimanyu mendapat serangan ratusan panah dari berbagai sudut. Seharusnya Abimanyu menemui ajalnya, tapi ia tetap tegap berdiri dengan sekujur tubuhnya yang dipenuhi tancapan panah, penuh luka, dan bercucuran darah. Abimanyu menatap ke langit dan perang tiba-tiba berhenti. Kemudian, didapati narasi “aku” sebagai pencerita yang tidak diketahui sosoknya yang dimungkinkan salah seorang dari prajurit Abimanyu, “Aku telah bertempur selama tiga puluh lima tahun (...) Ia sedang berjalan ke arah hakikat. Aku tahu. Aku yakin. Kita semua akan dibimbingnya ke sana. Inilah yang kunanti-nantikan.” (hlm 99)

Sementara itu, Sembadra, ibu Abimanyu, datang menyaksikan sang anak dengan hati hancur seorang ibu. Dia memohon anaknya agar tetap hidup. Tapi Arjuna, suami Sembadra yang datang menyusul ke medan perang, mengatakan bahwa Abimanyu justru harus gugur dalam perang karena itu lah kodratnya.

Sembadra sebagai sosok ibu tentu lebih menggunakan logika rasa dalam berpikir dan bertindak. Ia sangat menyayangi anaknya sehingga ingin Abimanyu selamat dari peperangan. Sedangkan Arjuna sebagai sosok ayah yang juga seorang ksatria, menginginkan agar anak lelakinya gugur secara terhormat dalam peperangan dengan alasan itu lah kodratnya sebagai seorang ksatria.

Di tengah perdebatan panjang yang sangat mengharukan dan bercorak mistis, tiba-tiba Abimanyu berkata, “Jangan ribut, bapak ibuku. Jangan persoalkan saya. Abimanyu tidak ada. Tetapi justru di dalam ketiadaanku inilah, aku memperoleh arti yang sebenarnya: Tuhan. Akulah kekekalan.” (hlm. 103)

Di sini lah, pada akhirnya, Abimanyu mencapai kesejatian dirinya:

Abimanyu bergerak ke depan. “Wahai prajurit-prajuritku! Letakkanlah senjatamu!” (...) “Sudah masanya prajurit-prajurit tidak membawa senjata lagi (...) Sebab, persoalan kita lebih besar lagi. Persoalan semesta. Marilah kita mengarungi alam semesta. Seperti bayi dalam kandungan, dari tidak tahu apa-apa, kembali ke tidak tahu apa-apa. Dari tidak ada kembali ke tidak ada. Tetapi justru dalam ketidakadaan kita ini, kita menjadi yang sebenarnya: Yang ada. Kita itu tidak ada, hanya Tuhanlah yang ada.” (hlm. 103-104)

Lebih jauh, Abimanyu berkata:

“Aku bukan hidup dan bukan mati. Akulah di atas hidup dan mati. Akulah kekekalan. (...) Aku bukan kebahagiaan atau penderitaan. Aku di atasnya. Akulah kekekalan. Merintih-rintih rohku akan bara dunia. Ia tak sanggup lama lagi tinggal di sini. Ia ingin sekali segera pulang kembali. O, Kampung Halamanku yang sangat kurindukan. Ada kenangan indah di jantung-Nya, tempat roh ini dilahirkan. Pulang! Pulang! Ya, panggillah aku. Sayangilah aku. Aku ingin pulang secepatnya.” (hlm. 104)

Dalam Nostalgia, Danarto mengajukan prinsip metafisis dalam spekulasi mistis. Pertama, cerita itu menegaskan Tuhan sebagai Wujud Hakiki, Yang Ada, sementara alam semesta hanya wujud nisbi (terlihat), yang pada hakekatnya tiada. Sekali kesadaran mistis ini dicapai, maka “aku yang nisbi” lenyap dan lebur ke dalam Wujud Hakiki sehingga yang benar-benar ada hanyalah Wujud Hakiki itu sendiri. Dalam konteks itulah maka batas antara wujud nisbi dan Wujud Hakiki jadi baur, dan keduanya mewujud sebagai kesatuan ontologis yang dalam keseluruhannya tak terpisahkan. Kedua, prinsip metafisis tentang kesatuan ontologis tersebut menyertakan konsekuensi mistis, yaitu kerinduan teramat dalam pada Wujud Hakiki.

Wujud Hakiki adalah Kampung Halaman dari mana semua wujud nisbi berasal, tempat roh dilahirkan, tempat kenangan indah tak ternamai, sehingga ia merupakan tujuan dari rindu pulang. Kerinduan yang teramat dalam pada Kampung Halaman guna mencapai Wujud Hakiki, berjalan seiring dengan pandangan bahwa hidup hanyalah wujud nisbi belaka.

Cerita “Nostalgia” diakhiri dengan perjalanan panjang Abimanyu, yaitu perjalanan pulang menuju Wujud Hakiki. Dengan darah berceceran dari tubuhnya, Abimanyu berjalan diikuti para prajuritnya. Dalam perajalanan panjang dan dalam itu, mereka mengigau bersama-sama, semacam gumam persembahyangan. Suasana terasa gaib, agung, dan mistis:

“Akulah Kurusetra, Pandawa, dan Kurawa. Akulah perancang perang, bala tentara, pahlawan, dan pengecut bertumpu menjadi satu, tak berjarak tak berbingkai, seperti air dengan lumpur. Aku setuju perang, aku menentang perang, semua meledak dalam sukmaku. O, rohku yang nanar melihat darah. O, nyawaku yang bergandengan dengan maut. Akulah Brahma, Siwa, Wisnu di dalam kepalan tanganku menyatu. Kucipta patung seindah-indahnya. Kutiupkan rohku ke dalamnya dan patung indahku berjalan. Kupelihara ia dengan pikiran, ucapan dan tindakanku. Lalu kuhancurkan ia selumat-lumatnya di bawah telapak kakiku. Lalu roh itu kembali lagi kepadaku, sebab ia milikku. Semuanya pasti kembali kepadaku. Semua sudah kuhitung. Semuanya sudah kubikin perjanjian.” (hlm.104-105)

“Aku” dalam gumaman Abimanyu dan para prajuritnya di atas adalah personifikasi kesadaran manunggaling kawula Gusti. Yang menarik dari ungkapan itu adalah bahwa kerinduan pada Kampung Halaman bukan saja merupakan konsekuensi mistis dari kesatuan ontologis antara hamba dan Tuhan, tetapi lebih dari itu ia menyatakan perspektif sang Kampung Halaman bahwa kepulangan hamba kepada-Nya memang merupakan keniscayaan. Sebab, ia milik-Nya, dan demikianlah semuanya telah diperhitungkan-Nya. Dan itulah puncak kesatuan mistis.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    89.325