Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Representasi Yang-Terpinggirkan Hingga Redefinisi Cinta Sejati dalam Maleficent

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 07 September 2014
di Teori Sastra - 0 komentar

 

Pendahuluan

Maleficent (2014) adalah film produksi Disney yang pada dasarnya merupakan re-creating atas dongeng Sleeping Beauty. Tokoh Maleficent sendiri dalam dongeng Sleeping Beauty adalah karakter peri jahat yang mengutuk Putri Aurora, namun melalui Maleficent,   Disney menghadirkan perspektif berbeda mengenai tokoh tersebut.

Dalam dongeng Sleeping Beauty, dikisahkan pada suatu perayaan kelahirannya, seorang putri bernama Aurora dikutuk oleh peri jahat yang marah karena ia satu-satunya peri yang tidak diundang dalam perayaan tersebut oleh pihak istana. Peri tersebut mengutuk Aurora bila pada suatu hari jarinya akan tertusuk jarum pintal dan ia akan tidur selamanya, namun pada akhirnya mantra peri jahat tersebut dapat dipatahkan oleh ciuman dari seorang pangeran tampan yang merupakan cinta sejatinya. Aurora dan sang pangeran pun hidup bahagia selama-lamanya.

Jika dalam dongeng Sleeping Beauty tokoh Aurora menjadi tokoh utama, dalam Maleficent, peri jahat tersebutlah (Maleficent) yang menjadi tokoh pusat. Dan jika dalam dongeng peri jahat murka dikarenakan tidak diundang dalam perayaan, dalam film ini kita diajak untuk menilik masa lalu Maleficent dan memberi alasan untuk kita “memaafkannya”.

Terlepas dari visualisasi dan tata rias yang memukau, sebagai sebuah film garapan   Disney yang memiliki hubungan intertekstual dengan dongeng Sleeping Beauty, Maleficent memuat tanda-tanda yang perlu dimaknai untuk mengungkap makna film tersebut secara keseluruhan. Apakah Maleficent sekadar kehabisan bahan cerita, atau ada maksud tertentu dalam re-creating dongeng ini?

Representasi Yang-Terpinggirkan

Cultural studies memahami identitas sebagai sebuah proyek diri. Menurut Anthony Giddens (Sutrisno, 2008:118), identitas merupakan ‘diri’ (pribadi) sebagaimana dipahami orang secara refleksif terkait dengan biografinya. Hal ini berimplikasi pada perubahan pikiran mengenai identitas, maksudnya apa yang kita pikirkan dapat berubah-ubah dari lingkungan satu ke lingkungan yang lain dalam perentangan ruang dan waktu. Sehingga dapat dikatakan identitas adalah sebuah proyek karena merupakan ciptaan kita, sesuatu yang selalu berproses, suatu gerak ‘menuju’ dan bukan suatu ‘kedatangan’. Proyek identitas tersusun dari apa yang kita pikirkan tentang diri sekarang dengan dasar masa lalu dan masa sekarang, sekaligus tentang gagasan akan menjadi apa.

Maleficent mengisahkan kehidupan seorang peri perempuan yang tangguh dan memiliki hati yang murni pada mulanya. Ia merupakan peri penjaga wilayah Moors yang dihuni oleh makhluk-makhluk yang bukan manusia. Di sini tokoh peri jahat dalam dongeng Sleeping Beauty dikonstruksi ulang melalui visualisasi masa lalu Maleficent. Jelas Disney ingin menghadirkan proyek diri tokoh Maleficent sehingga kita dapat melihat dan mengalami perubahan pikiran mengenai identitas tokoh tersebut.

Pada mulanya Maleficent hidup sebagai peri baik hati yang melindungi semua makhluk di Moors. Setiap ada dahan pohon yang patah, ia sambung kembali dengan kekuatan magisnya, dan ia pun kerap bercanda dengan peri-peri lain yang secara fisik sangat jauh berbeda dengan dirinya.  Sebagai seorang peri yang memiliki sayap kuat, Maleficent mampu terbang kesana kemari dengan mudahnya.

Suatu saat Maleficent bertemu dengan seorang manusia yang bernama Stefan. Sebelumnya Maleficent mengetahui bahwa jauh dari Moors ada daerah yang dihuni manusia, ia mengetahui bahwa manusia selalu memiliki sifat tamak dan berambisi untuk menguasai daerah-daerah lain, termasuk Moors. Namun ia melihat bahwa Stefan bukanlah manusia yang jahat, maka mereka bertemanan akrab hingga remaja dan saling jatuh cinta. Maleficent percaya bahwa Stefan adalah cinta sejatinya. Beranjak dewasa, Stefan yang bukan dari keluarga kerajaan, ternyata sangat berambisi menjadi raja dan hendak melakukan apapun untuk mewujudkannya. Mereka pun berpisah.

Sepeninggal Stefan, Maleficent menjadi lebih tangguh, ia pun berhasil mengusir seorang raja dan pasukannya yang sempat menyerang wilayah Moors. Raja yang sekarat memberikan titah bahwa siapa pun yang berhasil membunuh Maleficent akan menjadi penggantinya. Stefan yang begitu ambisius untuk menjadi seorang raja, kembali mendatangi Maleficent, yang langsung menyambutnya tanpa kecurigaan sedikit pun. Tapi Stefan toh juga tidak tega membunuh Maleficent, ia pun hanya memotong sayapnya sebagai bukti kepada raja. Raja percaya bahwa Stefan berhasil membunuh Maleficent, dan ia pun mengangkat Stefan menjadi penggantinya.

Maleficent pun murka, dan saat mengetahui bahwa Stefan telah menjadi raja dan memiliki seorang putri, ia pun mengutuk putri tersebut. Seperti pada dongeng Sleeping Beauty, ia memberikan kutukan bahwa Aurora akan tertusuk jarum pemintal dan tertidur selamanya tepat pada hari ulang tahunnya yang ke enam belas. Bedanya, Maleficent yang sebenarnya masih memiliki hati nurani memberikan koreksi bahwa mantra ini hanya dapat dipatahkan oleh ciuman cinta sejati, yang tidak pernah dianggapnya ada setelah penghianatan yang dilakukan Stefan.

Redefinisi Cinta Sejati

Waktu berlalu dan Aurora yang diasingkan ke hutan untuk menghindari terjadinya kutukan tersebut telah tumbuh dewasa. Meskipun Aurora diasuh oleh tiga peri, Maleficent tetap mengawasi Aurora dari jauh. Hingga akhirnya, Maleficent berkenalan dengan Aurora. Perkenalan ini berujung pada keakraban di antara keduanya, Aurora menganggap Maleficent adalah peri pelindungnya, karena memang Maleficent-lah yang selalu mengawasi dan menjaga Aurora selama dibesarkan di hutan. Di saat itulah, ada sesuatu yang menggerakkan hati Maleficent. Meski demikian, Maleficent tetap menjaga gengsinya. Sikap-sikap Maleficent pun merujuk pada sikap ambivalensi, ambigu terhadap sesuatu, atau bisa dikatakan benci tapi cinta. Maleficent digambarkan sebagai sosok keibuan yang sangat menyayangi Aurora namun tidak ingin tampak baik di depannya.

Maleficent yang mulai menyayangi Aurora mencoba menarik kembali kutukannya, namun sesuai dengan mantranya, bahwa tidak ada kekuatan semesta yang dapat mematahkan kutukannya kecuali ciuman cinta sejati, dia pun tidak dapat mematahkan kutukannya sendiri. Hingga suatu saat datanglah seorang pangeran, Philip, yang jatuh cinta pada Aurora. Aurora yang baru mengetahui bahwa ia dikutuk dan ternyata ia adalah seorang putri, seorang diri pergi ke istana. Kutukan Maleficent pun tidak dapat dihindari, ia tertusuk jarum pemintal dan tidak sadarkan diri. Berbeda dengan dongeng Sleeping Beauty yang jelas menghadirkan tokoh peri jahat sebagai jelmaan nenek tua yang sedang memintal dan memanggil Aurora, Maleficent hanya memperdengarkan suara-suara mistis yang membius Aurora hingga jarinya menyentuh jarum pemintal. Sehingga secara plot cerita, dalam beberapa hal Maleficent memiliki kelogisan yang berbeda, atau tidak dapat disamakan dengan Sleeping Beauty.

Selanjutnya, Maleficent membawa Phillip ke istana agar ia mencium Aurora, namun tidak ada yang terjadi, hingga Maleficent putus asa dan mencium kening Aurora. Aurora pun terbangun dari tidurnya. Menurut cultural studies, identitas individual selalu merupakan hasil negosiasi, maksudnya identitas itu bersifat luwes sehingga bisa dibentuk, didefinisikan ulang, dan terbuka terhadap perubahan kondisi sosiohistoris. Penceritaan Maleficent membawa kita untuk mendefinisi ulang cinta sejati. Di sini terdapat redefinisi mengenai cinta sejati yang kerap disuarakan Disney pada film-filmnya. Jika pada Sleeping Beauty dan Snow White, misalnya, stereotipe cinta sejati adalah cinta antarpasangan: putri dan pangeran, Maleficent menyuarakan cinta sejati yang berupa relasi keluarga. Relasi keluarga di sini tidak sebatas adanya hubungan darah, melainkan juga dengan orang-orang di sekitar kita.

Secara keseluruhan film ini memang menampilkan sisi baik dan juga sikap ambivalen dari Maleficent. Namun jika diperhatikan, penampakan fisik Maleficent yang memperkuat sisi kelamnya, seperti tanduknya yang besar, tulang pipi yang tajam, tatapan mata yang tegas, dan juga jubah hitam dan tongkatnya —yang merupakan stereotip karakter antagonis—, sangat bertolak belakang dengan hati nuraninya yang berperikemanusian. Kekelaman yang divisualisasikan melalui fisik Maleficent ini menunjukkan bahwa Disney benar-benar ingin menampilkan kekelaman yang diakibatkan oleh penghianatan.

Cultural studies mengatakan bahwa identitas sepenuhnya adalah konstruksi sosial-budaya, tidak ada identitas yang eksis di luar representasi atau akulturasi budaya. Sehingga, identitas yang dimengerti secara non-esensialis lebih memberi tekanan pada latar historis, sosial, dan kultural yang spesifik (terbatas ruang dan waktu).

 

Penutup

Melalui Maleficent, Disney berusaha menghadirkan realitas yang tak tampak oleh masyarakat, bahwa setiap orang memiliki alasan atas setiap tindakannya. Maleficent mengindikasikan bahwa Disney ingin mengubah pandangan kita mengenai tokoh peri jahat, bahwa Maleficent tidak sejahat yang diceritakan dalam dongeng Sleeping Beauty.

Maleficent dapat dimaknai sebagai film yang mengusung realitas mengenai orang-orang yang terpinggirkan, yang direpresentasikan oleh tokoh Maleficent sendiri. Film ini mengingatkan kembali bahwa pengetahuan tidak pernah netral, tapi lebih pada posisionalitas.

Lebih lanjut Maleficent menggambarkan bagaimana hati yang murni akan berubah menjadi batu oleh pengkhianatan. Disney boleh dibilang berani melakukan langkah yang revolusioner terkait penyuaraan redefinisi cinta sejati.

 

 

Referensi:

Sutrisno, Mudji. 2008. Cultural Studies: Tantangan Bagi Teori-Teori Besar Kebudayaan. Depok: Keokoesan.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    98.351