Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Mendobrak Kembali Budaya Patriarki

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 07 September 2014
di Sastra Indonesia - 0 komentar

Salah satu cerpen yang yang menarik untuk dikaji lebih dalam menggunakan kacamata poststruktural adalah cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari karya Intan Paramaditha. Cerpen ini merupakan penciptaan kembali dari dongeng Cinderella sehingga untuk memaksimalkan pemaknaan terhadap cerpen ini hendaknya melalui interteks.

Dongeng Cinderella berkisah tentang seorang gadis cantik dan baik hati, yang sepeninggal ayahnya, hidup menderita bersama ibu tiri dan kedua kakak perempuan tirinya. Konflik  terjadi tatkala istana mengadakan pesta dansa. Tokoh ibu tiri dan kedua kakak perempuan tiri menjahili Cinderella agar tidak dapat menghadiri pesta tersebut, namun muncul ibu peri yang membantu Cinderella sehingga ia dapat pergi dan bertemu dengan sang pangeran impian.  Karena berpisah dengan tergesa, sebelah sepatunya terlepas dan tertinggal di istana, sang pangeran pun mencari Cinderella berbekal sepatu tersebut. Dongeng ini berakhir dengan Cinderella hidup bahagia selamanya setelah ditemukan dan menikah dengan sang pangeran.

Dalam Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, nama Cinderella digubah menjadi Sindelarat (selanjutnya dipanggil Larat), dan narasi dibawakan oleh tokoh perempuan buta yang mengaku sebagai kakak (sulung) perempuan tirinya. Tokoh perempuan buta menjadi saksi kehidupan Sindelarat yang rupanya tidak sebaik dalam dongeng. Sejak awal nada ironis telah dihadirkan, salah satunya melalui pernyataan, “Kau ingin tahu yang sebenarnya? Larat sudah mati. Aku yang hidup.”

Melalui sudut pandang orang pertama, tokoh perempuan buta memaparkan kejadian yang “sebenarnya”. Ia menjadikan pembaca berpikir ulang; menguraikan, memutarbalikkan dongeng Cinderella, memahami kembali melalui perspektif yang berbeda, dan bahkan pada akhirnya (mungkin) memiliki persepsi berbeda mengenai peristiwa dan tindakan yang dilakukan tiap tokohnya.

Di sinilah diperlukan usaha untuk mempreteli logika yang dipakai sebuah sistem pemikiran tertentu, dalam hal ini budaya patriarki yang merupakan hasil pemikiran laki-laki, sehingga dapat membongkar dominasi laki-laki dan menyoroti peran perempuan yang terpinggirkan bahkan tertindas.

Dekonstruksi Dongeng Cinderella

Tokoh Sindelarat yang merepresentasikan Cinderella, dikonstruksi ulang melalui pandangan kakak tirinya (perempuan buta). Pembaca dongeng Cinderella akan mengamini bahwa tokoh Cinderella adalah perempuan yang tidak hanya cantik tapi juga baik hatinya, namun melalui perspektif perempuan buta pada cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, dipaparkan bahwa Sindelarat adalah perempuan yang materialistis dan pandai mengambil hati orang lain, “Perhatikan betapa ia ingin menampilkan citra gadis baik-baik yang tidak materialistis. Puh! Sangat tidak realistis. Kalau tak peduli kekayaan, mengapa ia bersikeras pergi ke pesta untuk bertemu Gusti Pangeran mahakaya?”

Cerpen ini juga merupakan apologi dari perempuan buta, ia memaparkan segala implikasi logis yang melatarbelakangi tindakan “kejamnya”. Perempuan buta (dan seorang adik perempuannya) lahir dan tumbuh sebagai perempuan yang dicap negatif oleh masyarakat, hal ini dikarenakan ibunya adalah seorang perempuan miskin yang menjadi istri seorang bupati sepeninggal istrinya. Label lonte pun melekat pada mereka. Bertahun-tahun kemudian, sang ibu menikah lagi dengan ayah Sindelarat karena harta peninggalan bupati (yang juga ayah dari kedua anaknya) mulai menipis.

Dari ayah Sindelarat, perempuan buta tidak diperlakukan sebaik Sindelarat sendiri. Dipaparkan dalam kalimat, “Ayah tidak memarahi atau memukuli kami, tapi ia juga tidak menunjukkan penerimaan.” Selain itu, diceritakan bahwa Sindelarat selalu mendapat gaun mewah sedangkan kedua kakak tirinya hanya diberi gaun murahan. Menerima perlakuan yang tidak adil tersebut, rasa dengki membakar hati mereka.

Sepeninggal ayahnya, Sindelarat tinggal di loteng dan seluruh gaun mewahnya direbut oleh kedua kakak tirinya. Selain itu, ia pun disuruh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat. Hingga suatu hari istana mengadakan pesta dansa dan seluruh perempuan diibaratkan barang dagangan yang hendak dibeli oleh Gusti Pangeran seorang. Ibu dan kedua kakak tirinya  berusaha menghalangi Sindelarat untuk pergi ke pesta, namun usaha mereka sia-sia karena Larat dibantu oleh Ibu Bidadari agar dapat pergi ke pesta.

Kemudian cerita bergulir seperti pada dongeng, Sindelarat bertemu pangeran di pesta dansa, dan saat berpisah sepatunya tertinggal sebelah. Bedanya, saat pangeran mencari pemilik sepatu tersebut di rumah Sindelarat, kedua kakak tirinya memutilasi dirinya sendiri agar sepatu tersebut muat. Namun kedok mereka terbongkar oleh burung gagak dari neraka yang juga merupakan utusan Sindelarat, karena Larat telah menyusun kekuatan dan bekerja sama dengan makhluk-makhluk tak kasatmata.

Selanjutnya Larat ditemukan karena isak tangisnya terdengar dari luar, di sini disajikan kembali perspektif berbeda mengenai Sindelarat, “Ia tak jauh berbeda dengan kami; suka memanipulasi.” Setelah Larat menikah dengan pangeran, dirinya tidak hidup bahagia selamanya, ia mati disebabkan pendarahan yang berkepanjangan karena istana membutuhkan putra mahkota. Sedangkan kedua kakak tirinya harus berjuang hidup dengan mengamen selepas kematian ibunya.

Pada akhirnya, tokoh perempuan buta mengaku kalah dengan keadaan masyarakat yang lebih percaya dengan citraan perempuan baik-baik Sindelarat, sedangkan ia dengan kondisi fisiknya yang buta dan tidak memiliki ibu jari membuatnya dipinggirkan, “Larat sudah mati. Tapi ah, siapa yang akan mendengarkan seorang perempuan buta yang dimutilasi?"

Melalui uraian tersebut, penulis mengganggap bahwa tiap tokoh memiliki peran penting yang masing-masing merepresentasikan fakta sosial pada masyarakat secara universal, tidak hanya di daerah asal dongeng Cinderella, maupun di Indonesia saja, sehingga selanjutnya akan dikaji peran tiap tokoh utama terhadap sistem budaya patriarki yang terkandung dalam cerpen ini.

Kekuasaan Laki-Laki dan Labelisasi Perempuan

Dalam mengungkap sistem budaya patriarki yang terkandung dalam cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, perlu dilakukan analisis mendalam terhadap para tokohnya. Dua tokoh utama laki-laki yang berperan penting dalam kisah ini adalah tokoh ayah Sindelarat dan Gusti Pangeran. Keduanya digambarkan sebagai manusia unggul dan memiliki kuasa.

Tokoh ayah dianggap penting karena sosok ayah sangat berpengaruh dalam keluarga dan lebih jauh dinarasikan melalui kalimat, “Kami belajar bahwa di dunia ini, para ayah punya kekuasaan di atas segala-galanya.” Selain itu, segala hal yang menjadi fokusnya terhadap anaknya, yakni yang dikerjakan oleh Sindelarat, tentu mengenai sulaman, menanam bunga, memelihara binatang, dan memasak kue, semuanya merupakan sterotype perempuan yang perannya dibatasi oleh hasil pemikiran laki-laki.

Tokoh Gusti Pangeran digambarkan sangat senang saat menemukan Sindelarat, ia yakin bahwa Larat adalah pendamping yang tepat untuk dirinya, “Perempuan yang akan berhias setiap pagi untuknya, yang akan menunggunya dari medan perang, yang akan jadi ibu dari anak-anaknya.” Di sini perlu dicermati bahwa ternyata tokoh pangeran terlibat dalam hegemonik patriarki karena menganggap perempuan sebagai pendamping hidup yang pasif dan kerjanya hanya berhias diri, menunggu, serta melahirkan.

Ada lima tokoh sentral perempuan dalam cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, yaitu Sindelarat, ibu tiri, dan kedua kakak perempuan tirinya, serta Ibu Bidadari. Selain Ibu Bidadari, perempuan dinarasikan sebagai sosok yang materialistik karena memandang strata sosial dari kemewahan atau harta yang dimiliki, perempuan juga sosok yang pandai memanipulasi dan dapat berbuat apapun demi mencapai tujuannya. 

Ibu Bidadari merupakan representasi masyarakat, orang lain, yang hanya sekadar tahu bahwa Sindelarat diperlakukan tidak baik padahal menurutnya ia gadis yang berbudi. Diibaratkan sama dengan pembaca dongeng Cinderella “yang percaya saja” akan pencitraan tokoh Cinderella. Padahal, melalui perspektif perempuan buta, perilaku Sindelarat dipaparkan sedemikian rupa sehingga terbongkar semua pencitraannya, perempuan yang materialistis, pandai mengambil hati orang lain, dan juga sama kejamnya pada ibu tiri dan kedua kakak tirinya.

Tokoh ibu tiri diceritakan sebagai perempuan ambisius yang melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, yakni mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Yang dimaksud dengan kehidupan yang lebih baik ialah kelimpahan materi, karena ia berasal dari keluarga miskin yang memiliki masa lalu bekerja sebagai pembantu untuk menghidupi dirinya. Segala tindakan “kejam” yang dilakukannya (bahkan terhadap kedua anak kandungnya sendiri), ia putuskan demi mencapai tujuannya tersebut.

Tindakan tokoh ibu tiri saat menyuruh kedua anaknya memutilasi dirinya sendiri tidak hanya demi dirinya sendiri. Perlu dicermati bahwa tindakan ini adalah implikasi logis dari keadaan kedua anaknya yang “buruk rupa” dan ketakutannya akan label perawan tua yang disematkan oleh masyarakat kepada keduanya. Sebagai seorang ibu yang khawatir akan kondisi anaknya tentu tindakan ini wajar dilakukan. “Potong jari kakimu. Kelak jika kau jadi ratu, kau tak akan terlalu banyak berjalan,” petuah tersebut tentu memiliki maksud bahwa sang ibu sangat mengharapkan anaknya dapat menjadi ratu agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Kedua tokoh kakak tiri digambarkan memiliki rupa fisik, di sini perlu diperhatikan adanya sterotype bahwa perempuan cantik ialah yang berkulit putih atau kuning bercahaya (deskripsi fisik Sindelarat), bertubuh semampai dengan pinggang dan kaki yang kecil. Sedangkan yang bertubuh besar dan berkulit gelap dianggap tidak sempurna. Kedengkian yang muncul pada diri kedua tokoh ini juga merupakan implikasi logis dari perlakuan yang mereka terima, baik dari ayah Larat, maupun masyarakat yang mengecap negatif hanya karena rupa fisik dan masa lalu ibunya. Peran masyarakat, yang melabeli tokoh ibu tiri beserta kedua anaknya sebagai lonte tentu berdampak pula pada kondisi psikologis mereka.

Penutup

Cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, bukan sekadar apologi tokoh perempuan buta, meski memaparkan alasan logis sebagai pembelaan akan tindakan yang dilakukannya, ia juga memaparkan sifat asli Sindelarat yang tidak diketahui bahkan tidak pernah terlintas di benak pembaca dongeng Cinderella. Selain itu, melalui cerpen ini dapat diketahui bahwa budaya patriarki dalam masyarakat terbentuk sedemikian rupa karena tidak hanya dihegemonikan oleh kaum laki-laki, melainkan juga diamini oleh kaum perempuan.

Cerpen ini memang membongkar kembali sosok perempuan yang diwakili oleh Cinderella-Sindelarat, meski garis besar substansinya tetap mengacu pada peran perempuan yang menjadi korban dari budaya patriaki. Jika dalam dongeng Cinderella ditanamkan dengan halus (hegemonik) bahwa citra perempuan selalu berperan pasif, melalui penantian akan datangnya pangeran impian, kemudian hanya sebagai pendamping, harus penurut, dan lemah, sedangkan dalam Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari dipaparkan secara lugas bahwa nyatanya perempuan juga bisa berpikir logis dan dapat melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.

Meski dongeng Cinderella dan cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari secara tidak langsung sama-sama mangandung pengakuan perempuan akan dominasi oleh laki-laki, bedanya, cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari mengungkapkan fakta sosial yang meyakinkan kembali pada pembaca bahwa tidak ada akhir bahagia yang sebenarnya untuk para perempuan. Melalui cerpen ini diharapkan semua pembaca dapat mendobrak kembali budaya patriarki yang membuat perempuan terpinggirkan bahkan tertindas, hingga tidak lagi ada kesenjangan peran sosial antara laki-laki dan perempuan.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    98.358