Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Kategori Makna Leksikal

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 07 September 2014
di Linguistik - 1 komentar

Disusun oleh

Delmarrich B. A. P.        NIM 121211132007

Vito Yoga Pradana        NIM 121211132008

Lucky Ariatami              NIM 121211132041

Venti Avriandini             NIM 121211132042

Bagus Arifin                  NIM 121211132048

 

PENDAHULUAN

            Abdul Chaer (2008: 29) menyatakan bahwa dalam kajian semantik secara umum dikenal adanya makna leksikal, makna gramatikal, makna kontekstual, dan makna idiomatikal. Makna leksikal adalah makna yang secara inheren dimiliki oleh setiap bentuk dasar (morfem dasar atau akar). Misalnya, kata {kuda} bermakna ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Umpamanya makna leksikal akar buaya adalah ‘sejenis binatang reptil yang dapat hidup di air dan di darat. Makna leksikal buaya  dapat kita lihat, misalnya, dalam kalimat “di kebun binatang itu ada tiga ekor buaya”; tetapi dalam kalimat “dasar buaya, ibunya sendiri ditipu”, kata buaya  tidak bermakna leksikal.

Dengan contoh itu dapat juga dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan observasi indra kita, atau makna apa adanya. Kamus-kamus dasar biasanya hanya memuat makna leksikal yang dimiliki oleh kata yang dijelaskannya. Oleh karena itulah, barangkali, banyak orang yang mengatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang ada dalam kamus. Pendapat ini, kalau begitu, memang tidak salah; namun, perlu diketahui bahwa kamus-kamus yang bukan dasar juga ada memuat makna-makna lain yang bukan leksikal, seperti makna kias dan makna-makna yang terbentuk secara metaforis.

 

 


PEMBAHASAN

1.      Kategori Nominal

Mengandung ciri makna benda dan leksem-leksem nominal ini secara struktural akan selalu dapat didahului oleh preposisi di atau pada. Berdasarkan analisis semantik lebih lanjut leksem-leksem nominal ini dapat dikelompokkkan atas tipe-tipe:

1.1  Tipe I berciri makna utama orang, yang terdiri atas:

1.1.1   Subtipe I a berciri makna nama diri. Contoh Lucky, Delmarrich, Venti, Bagus, dan Vito.

1.1.2   Subtipe I b berciri makna nama perkerabatan. Contoh ibu, bapak, kakak, adik.

1.1.3   Subtipe I c berciri makna nama pengganti. Contoh saya, kamu, dia, mereka.

1.1.4   Subtipe I d berciri makna nama jabatan. Contoh guru¸ dosen, lurah, camat, gubernur.

1.1.5   Subtipe I e berciri makna nama gelar. Contoh raden, doktor, dan sarjana humaniora.

1.1.6   Subtipe I f berciri makna nama pangkat. Contoh sersan, letnan, kolonel.

1.2  Tipe II berciri makna utama institusi, contohnya pemerintah, DPR, SMA, dan Pelni.

1.3  Tipe III berciri makna utama binatang, contohnya hiu, kucing, harimau, dan bebek.

1.4  Tipe IV berciri makna utama tumbuhan.

1.4.1   Subtipe IV a berciri makna tumbuhan itu sendiri, maksudnya mengandung segala sesuatu yang tumbuh. Contoh rumput, ilalang, dan perdu.

1.4.2   Subtipe IV b berciri makna pohon, yakni terdiri hanya yang berbatang keras. Contoh kelapa, cemarajati.

1.4.3   Subtipe IV c berciri makna tanaman yang diusahakan sebagai sesuatu yang ditanam. Contoh padi, bayam, kubis, wortel.

 

1.5  Tipe V berciri makna utama buah-buahan, contohnya durian, mangga, pisang, jambu.

1.6  Tipe VI berciri makna utama bunga-bungaan. Contoh mawar, melati, kamboja, dan kenanga.

1.7  Tipe VII berciri makna utama peralatan, terdiri atas:

1.7.1   Subtipe VII a berciri makna utama alat masak. Contoh panci, wajan, spatula.

1.7.2   Subtipe VII b berciri makna alat makan. Contoh piring, sendok, garpu, dan mangkok.

1.7.3   Subtipe VII c berciri makna alat pertukangan. Contoh palu dan gergaji.

1.7.4   Subtipe VII d berciri makna alat perbengkelan. Contoh obeng, tang, dan kunci.

1.7.5   Subtipe VII e berciri makna alat pertanian. Contoh cangkul, sabit, dan bajak.

1.7.6   Subtipe VII f berciri makna alat perikanan. Contoh kail, jala, dan  jaring.

1.7.7   Subtipe VII g berciri makna alat rumah tangga. Contoh lemari, meja, kursi.

1.7.8   Subtipe VII h berciri makna alat tulis-menulis. Contoh penghapus, pensil, bolpoin.

1.7.9   Subtipe VII i berciri makna alat olahraga. Contoh raket, bola, gawang, net.

1.8  Tipe VIII mengandung ciri makna utama makanan-minuman. Contoh nasi, teh manis, susu, bakso, ayam goreng, dan es campur.

1.9  Tipe IX mengandung ciri makna utama geografi. Contohnya sungai, gunung, lembah, samudera dan laut.

1.10 Tipe X berciri makna utama bahan baku. Contoh pasir, semen, batu dan kayu

 

2.      Kategori Verbal

Kategori verbal ditandai dengan mengajukan tiga macam pertanyaan terhadap subjek tempat “verba” menjadi predikat klausanya. Pertanyaan itu berupa: (1) Apa yang dilakukan subjek dalam klausa tersebut; (2) Apa yang terjadi terhadap subjek dalam klausa tersebut; (3) Bagaimana keadaan subjek dalam klausa tersebut.

2.1  Tipe I menyatakan tindakan yang terbagi menjadi tiga, antara lain

2.1.1        Pelakunya manusia. Contohnya adalah membaca dan menulis.

2.1.2        Pelakunya manusia dan bukan manusia. Contohnya adalah makan dan minum.

2.1.3        Pelakunya bukan manusia. Contohnya adalah pagut dan patuk.

2.2           Tipe II menyatakan tindakan dan pengalaman. Contohnya adalah bilang, bicara, bentuk, bujuk, ancam, dan kenal. Contoh kalimatnya adalah Lucky membicarakan Mas Bram kepada kami. Dalam kalimat tersebut Lucky sebagai pelaku, membicarakan adalah verba yang menyatakan tindakan atau pengalaman, dan kami merupakan subjek pelaku yang mengalami.  

2.3           Tipe III menyatakan tindakan dan pemilikan. Pelaku berupa nomina berciri makna dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba. Contoh kalimatnya adalah Venti beli mobil dari Bu Wayan. Venti adalah pelaku, sedangkan Bu Wayan adalah pemiliknya. Contoh lainnya adalah minta, beri, pinjam, sewa, dapat, terima, dan bayar.

2.4           Tipe IV menyatakan tindakan dan lokasi (tempat). Contoh kalimatnya adalah Delmarrich pergi ke toko bangunan. Contoh lainnya adalah kata kembali, datang, masuk, pulang, naik, turun, lari, pindah, jatuh, dan taruh.

2.5           Tipe V menyatakan proses. Contoh kalimatnya adalah Bunga itu layu. Kata layu termasuk verba proses sebab. Contoh lainnya adalah kata tumbuh, terbit, dan pecah.

2.6           Tipe VI menyatakan proses-pengalaman. Contoh kalimatnya adalah Rupanya kau semakin cinta kepadaku. Cinta adalah proses verba pengalaman. Contoh lainnya adalah kata cemas, bimbang, was-was, ingat, sadar, ragu, dan kagum.

2.7           Tipe VII menyatakan nomina yang mengalami suatu proses atau kejadian memperoleh atau kehilangan (kerugian). Contoh kalimatnya adalah Persebaya menang 2-0 atas Real Madrid. Contoh lainnya adalah kata dapat, punya, dan memiliki.

2.8           Tipe VIII menyatakan proses-lokatif. Contoh kalimatnya adalah Pesawat itu baru tiba dari Surabaya. Contoh lainnya adalah kata berangkat, pergi, sampai, maju, dan mundur.

2.9           Tipe IX menyatakan keadaan. Contohya adalah kalimat Wajah Lucky selalu cerah. Contoh lainnya adalah kata kering, ramai, rusak.

2.10       Tipe X menyatakan keadaan pengalaman. Contohnya adalah kalimat Venti memang takut kepada Pak Tubi. Contoh lainnya adalah kata cemas, gugup, iri, jengkel, malu, dan berani.

2.11       Tipe XI menyatakan keadaan yang menyatakan memiliki, memperoleh, atau kehilangan sesuatu. Contohnya kalimatnya adalah Pak Ali sudah memiliki istri. Contoh lainnya adalah kata ada, berhasil, berwarna, dan beruntung.

2.12       Tipe XII menyatakan keadaan-lokatif. Contohnya adalah kalimat Pak Vito hadir di sana. Contoh lainnya adalah kata diam, mengalir, berhenti, bermimpi, dan menanjak.

3.      Kategori Ajektival

Kategori ajektival terdiri atas leksem yang dapat diawali kata ingkar tidak, dapat diawali kata pembanding paling, dan dapat direduplikasikan serta diberi imbuhan se-nya.

3.1  Tipe I  menyatakan sikap, tabiat, atau perilaku batin manusia. Contohnya ramah, galak, baik, jahat, berani, dan takut.

3.2  Tipe II            menyatakan keadaan bentuk, seperti bundar, bulat, lengkung, bengkok, dan lurus.

3.3  Tipe III menyatakan ukuran, seperti panjang, pendek, tinggi, dan gemuk.

3.4  Tipe IV menyatakan waktu dan usia, seperti lama, baru, muda, dan tua.

3.5  Tipe V            menyatakan warna, seperti merah, kuning, hijau, dan biru.

3.6  Tipe VI menyatakan jarak, seperti jauh, dekat, dan sedang.

3.7  Tipe VII menyatakan kuasa tenaga, seperti kuat, lemah, tegar, dan segar.

3.8  Tipe VIII menyatakan kesan atau penilaian indra, seperti sedap, pahit, cantik, dan tampan.

4.      Kategori Pendamping

Kategori pendamping terdiri atas leksem-leksem tertentu yang mendampingi nomina, verba, ajektif, dan juga klausa untuk memberikan keterangan tertentu yang bukan menyatakan keadaan atau sifat.

4.1  Pendamping Nomina

4.1.1 Pengingkaran yakni kata bukan yang ditempatkan di muka nomina tersebut, seperti bukan buku, bukan guru, bukan mereka, dan sebagainya.

4.1.2        Kuantitas atau jumlah untuk menyatakan jumlah, antara lain:

4.1.2.1  Beberapa yakni untuk menyatakan jumlah yang tidak banyak, seperti beberapa orang, beberapa rumah.

4.1.2.2  Semua yakni untuk menyatakan jumlah keseluruhan tanpa terkecuali, seperti semua orang, semua kendaraan, dan semua murid.

4.1.2.3  Seluruh yakni untuk menyatakan satu bagian kesatuan, seperti seluruh Indonesia, seluruh kampung.

4.1.2.4  Sejumlah yakni untuk menyatakan jumlah yang tidak tentu, seperti sejumlah orang, sejumlah anggota parlemen.

4.1.2.5  Banyak untuk menyatakan jumlah yang tidak sedikit, seperti banyak murid.

4.1.3        Pembatasan, leksemnya adalah hanya dan saja. Hanya ditempatkan di muka nomina sedangkan leksem saja di belakang nomina, misalnya hanya air putih, kopi saja.

4.1.4        Tempat berada, leksem yang digunakan adalah di dan pada. Misalnya di kelas, pada suatu hari.

4.1.5        Tempat asal, dapat berarti asal tempat, asal bahan, dan asal waktu, leksem yang digunakan adalah dari, misalnya dari Bali, dari gula, dari tadi.

4.1.6        Tempat tujuan atau arah sasaran, leksem yang digunakan adalah ke dan kepada, misalnya ke kampus, kepada rektor.

4.1.7        Hal atau perkara, leksem yang digunakan adalah tentang, mengenai, perihal, dan masalah. Contohnya berdiskusi mengenai nilai-nilai sastra.

4.1.8        Alat, leksem yang digunakan adalah kata dengan, misalnya dengan pensil (menulis).

4.1.9        Pelaku, leksem yang digunakan adalah kata oleh yang ditempatkan di muka nomina, misalnya oleh pemerintah.

4.1.10    Batas tempat dan batas waktu, leksem yang digunakan adalah kata sampai dan hingga yang ditempatkan di muka nomina, contohnya sampai Jakarta, hingga tengah malam.

4.2 Pendamping Verba

4.2.1        Pengingkaran yakni leksem tidak ditempatkan di muka verba. Misalnya, tidak makan. Sedangkan leksem bukan hanya digunakan di muka verba dalam suatu klausa yang dikontraskan dengan klausa lainnya. Misalnya, Dia bukan menangis karena sedih melainkan karena gembira.

4.2.2        Berbagai aspek, antara lain aspek selesai (perfektif) dengan leksem sudah, telah, pernah dengan contoh Kami sudah makan. Aspek belum selesai (imperfek) dengan leksem masih dan lagi dengan contoh Dia masih menyanyi. Aspek baru mulai (inkoatif) dengan leksem mulai dengan contoh Kakak mulai membaca.

4.2.3        Berbagai modalitas, antara lain leksem belum, sedang, akan, boleh, dapat, harus, wajib, mesti, dan jangan. Contoh: Kita wajib membantu mereka; Kamu mesti menuruti perintahnya.; Kalian jangan duduk di sini.

4.2.4        Kuantitas, antara lain leksem sering, seringkali, acapkali, jarang, banyak, kurang selalu, dan sebagainya. Contoh: Bagus sering bolos.; Kami banyak membaca buku pelajaran.; Delma acapkali menjoget.; Vito jarang pulang.

4.2.5        Kualitas, antara lain leksem sangat, agak, cukup, paling, dan sekali. Contoh: Bu Wayan sangat menyayangi mahasiswanya.; Berita itu cukup menggemberikan hati mereka.

4.2.6        Pembatasan, antara lain leksem saja dan hanya. Contoh: Dia makan saja.; Mereka hanya mengeluh.

4.3      Pendamping Ajektiva

4.3.1        Pengingkaran yakni leksem yang digunakan adalah kata tidak dan bukan. Misalnya tidak baik, tidak gemuk, bukan buruk, bukan merah.

4.3.2        Kualitas adalah leksem yang digunakan adalah kata sangat, cukup, agak, paling, sekali, maha, dan serba. Misalnya, agak datar, cukup baik, mahabesar, pandai sekali, serba canggih.

4.4      Pendamping Klausa

4.4.1        Kepastian, leksem yang digunakan pasti, tentu, dan memang. Contoh: Dia pasti hadir.; Dia memang pandai sejak dulu.

4.4.2        Keraguan, leksem yang digunakan adalah kata barangkali, mungkin, boleh jadi. Contoh: Barangkali dia suka padaku.; Kami mungkin akan datang.; Boleh jadi tugas ini sangat mudah.

4.4.3        Harapan, leksem yang digunakan adalah kata moga-moga, semoga, mudah-mudahan, hendaknya, sebaiknya, dan seharusnya. Contoh: Moga-moga mereka sadar perbuatannya.; Kalian hendaknya tidak perlu bertanya.

5.      Kategori Penghubung

Kategori penghubung terdiri atas leksem-leksem tertentu yang bertugas menghubungkan, baik kata dengan kata, frase dengan frase, klasa dengan klausa, maupun kalimat dengan kalimat secara koordinatif maupun secara subordinatif.

5.1  Penghubung Koordinatif

5.1.1        Penggabungan, leksem yang digunakan adalah dan untuk menyatakan penggabungan biasa antara dua buah kata,dua buah frasa, atau duah buah klausa. Contoh: Ibu dan ayah tidak ada dirumah

5.1.2        Pemilihan, leksem yang digunakan adalah kata atau. Contoh: Bola ini kau beli atau kau curi dari anak itu?

5.1.3        Mempertentangkan atau mengontraskan, leksem yang digunakan adalah tetapi. Contoh: Dia memang bodoh tetapi hatinya jujur.

5.1.4        Mengoreksi atau membetulkan, leksem yang digunakan adalah melainkan dan  hanya. Contoh: Yang diperlukan dewasa ini bukan pemuda - pemuda yang pandai bicara, melainkan juga mau bekerja.

5.1.5        Menegaskan, leksem yang digunakan adalah bahkan, itupun, malah, lagipula, apalagi, padahal dan jangankan. Contoh: Jalan – jalan di Surabaya seringkali macet apalagi pada jam – jam sibuk.

5.1.6        Pembatasan, leksem yang digunakan adalah kecuali dan hanya. Contoh: Soal – soal itu dapat diselesaikan dengan baik hanya soal nomor 5 yang aku ragukan jawabannya.

5.1.7        Mengurutkan, leksem yang digunakan adalah lalu, kemudian, selanjutnya dan setelah itu. Contoh: Dia mengambil sebuah buku lalu duduk membacanya.

5.1.8        Menyamakan, leksem yang digunakan adalah yaitu dan yakni. Contoh: Tugas kami yaitu belajar.

5.1.9        Kesimpulan dari yang sudah dibicarakan sebelumnya, leksem yang digunakan adalah jadi, karena itu, oleh sebab itu dan dengan demikian. Contoh: mereka adalah orang - orang yang sering berlaku curang oleh sebab itu kita harus berhati – hati menghadapinya.

5.2  Penghubung Subordinatif

Menghubungkan dua konstituen yang kedudukannya tidak setingkat.

5.2.1        Penyebab, leksem yang digunakan adalah sebab, karena, lantaran, dan berhubung. Contoh: Kami tidak datang sebab kami tidak diundang.

5.2.2        Akibat, leksem yang digunakan adalah hingga atau sehingga, sampai dan sampai – sampai. Contoh: Copet itu dihajar masa sampai mukanya babak belur.

5.2.3        Syarat atau kondisi yang harus dipenuhi, leksem yang digunakan adalah jika, jikalau, kalau, bila, bilamana dan asal. Contoh: Bila dia datang kita segera berangkat

5.2.4        Pengandaian, leksem yang digunakan adalah andaikata, seandainya dan andaikan. Contoh: Andaikata ibuku masih ada tentu ia akan bangga.

5.2.5        Penegasan, leksem yang digunakan adalah walau (walaupun), biar (biarpun), meski (meskipun), kendati (kendatipun), sungguhpun dan sekalipun. Contoh: Sungguhpun kami hidup melarat kami tidak akan mencuri.

5.2.6        Perbandingan, leksem yang digunakan adalah seperti, sebagai, laksana, seolah-olah dan seakan-akan. Contoh: Sorot matanya begitu tajam seolah-olah kami ini betul-betul bersalah.

5.2.7        Tujuan, leksem yang digunakan adalah agar, supaya, untuk, buat, bagi dan guna. Contoh: Dia berangkat pagi-pagi supaya tidak terlambat tiba di kampus.

5.2.8        Waktu, leksem yang digunakan adalah ketika, sewaktu, tatkala, sementra, selama, sambil, sejak, semenjak, sebelum, sesudah, setelah, sehabis. Contoh: Sementara saya mandi, bapak membaca koran.

5.2.9        Penjelasan, leksem yang digunakan adalah bahwa. Contoh: Ayah berkata bahwa hari ini dia akan ke Bogor.

5.2.10    Keadaan atau cara, leksem yang digunakan adalah dengan dan tanpa. Contoh: Dengan berbisik-bisik, obat terlarang itu ditawarkannya kepada mahasiswa.


PENUTUP

Makna leksikal adalah makna yang secara inheren dimiliki oleh setiap bentuk dasar (morfem dasar atau akar). Menurut Abdul Chaer, kategori leksikal terbagi menjadi lima: nominal, verbal, ajektival, pendamping (nomina, verba, ajektiva, klausa), dan penghubung (koordinatif dan subordinatif). Sejauh ini, pengategorian tersebut digunakan sebagai acuan dalam kajian semantik bahasa Indonesia.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

___________. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

___________. 2010. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.

 

 

 

 

 

1 Komentar

1. ditha

pada : 05 January 2019

"kalau kata benda bukan orang, tidak bernyawa dan tidak terhitung masuk kmana ya? misalnya debu, atau rasa"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    84.316