Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Eksistensialisme Perempuan dalam Novel Nayla

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 07 September 2014
di Apresiasi Sastra - 0 komentar

Novel Nayla (2005) karya Djenar Maesa Ayu bercerita tentang seorang perempuan yang terkekang hingga akhirnya berhasil memilih jalan hidupnya sendiri. Selain menggunakan sudut pandang yang berbeda-beda, alur yang digunakan juga bervariatif. Alur yang fragmentatif dan banyak menggunakan bentuk-bentuk pesan dalam surat, catatan harian, dan melalui media komunikasi lain selain dialog verbal, menjadi variasi bentuk penceritaan dalam novel ini.

Diceritakan bahwa semenjak kecil Nayla hidup bersama ibunya tanpa sosok seorang ayah. Ibu Nayla mendidiknya dengan sangat keras, hingga terlihat semacam bentuk penyiksaan yang tidak seharusnya dilakukan oleh ibu kepada anak kandungnya. Sangat jelas bahwa Djenar mengangkat kisah kekerasan rumah tangga yang banyak dialami di kehidupan nyata.

Salah satu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh ibunya pada Nayla adalah menusuki vaginanya dengan peniti, didasari karena meski sudah berumur sepuluh tahun, Nayla tidak dapat berhenti mengompol. Disebutkan pada suatu bab apologi ibunya, “Percayalah kepadaku, anakku. Tak ada seorang ibu yang tidak mencintai anaknya. Jika aku harus menghukummu, itu karena terpaksa. Aku yakin, Tuhan akan memaklumi semua tindakanku sejauh Ia tahu bahwa tak ada sedikitpun niatanku untuk menyiksa. Semua yang kulakukan adalah untuk kebaikanmu.” (hlm 8).

Selain hukuman fisik, Nayla juga mengalami penderitaan mental sejak kecil. Ia sudah menjadi korban pemerkosaan oleh pacar ibunya yang bernama Om Indra. Saat ibu Nayla sedang tidak ada di rumah, Om Indra kerap menyetubuhi Nayla dan mirisnya ibu Nayla tidak pernah tahu akan hal ini. Kisah ini mengukuhkan  Nayla sebagai novel yang tidak lepas dari isu-isu seksualitas, yang sangat dekat kaitannya dengan masalah kemanusian, Djenar tentu ingin menyuarakan suara-suara yang terbungkam dari perempuan yang terpinggirkan melalui novel ini.

Penderitaan yang dialami Nayla semakin lama semakin menyiksa sehingga membuat Nayla ingin bertemu dengan sosok ayahnya. Nayla mencari dan akhirnya bertemu dengan ayahnya yang ternyata sangat mengerti dan mencintainya. Nayla merasakan hangatnya kasih sayang hanya dengan jarak waktu yang sangat singkat yaitu dua bulan sebelum ayahnya meninggalkannya dan meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.

Setelah ayahnya meninggal, Nayla diasuh oleh ibu tiri Nayla yang tidak lain adalah istri dari almarhum ayahnya. Ibu tiri Nayla tidak mencintainya dengan sepenuh hati. Nayla semakin terpuruk dengan itu semua. Ia sering tertawa-tawa sendiri, berperilaku aneh, dan tidak wajar. Melihat tingkah lakunya yang aneh dan tidak wajar, ibu tiri Nayla mengira Nayla memakai narkoba, sehingga memasukkan Nayla ke Rumah Perawatan Anak Nakal dan Narkotisme. Tanpa bukti yang jelas, Nayla mendekam di rumah perawatan yang persis seperti rumah tahanan itu selama tiga bulan. Pada bulan ke tiga, Nayla berhasil kabur dari tempat itu. Setelah bebas, Nayla sering melakukan tindak kriminal dan juga sering keluar-masuk kantor polisi. Namun, Nayla berhasil bebas untuk kesekian kalinya karena uang tebusan dari orang tua teman-teman Nayla.

Selepas menjadi gelandangan dan pada saat umurnya tiga belas tahun, ia bekerja di sebuah tempat diskotek sebagai juru lampu dan penari latar. Gemerlapnya dunia malam menjadi latar yang mendominasi. Kebenciannya terhadap kaum lelaki membuatnya menyukai sesama jenis. Ia berpacaran dengan Juli, seorang juru musik di diskotek tersebut. Nayla menjalani kehidupannya sebagai seorang lesbian dan hidup dengan Juli. Juli adalah sosok yang sangat berjasa bagi Nayla, “mendadak Juli ingin melindungi Nayla, mendadak Juli ingin memperbaiki kehidupan Nayla.” (Hlm.64). Meski demikian, Juli muak terhadap tingkah laku Nayla yang tidak pernah bisa menjaga hatinya karena sering bersama lelaki lain, lalu Juli mengakhiri hubungannya dengan Nayla. Nayla terpuruk dan teramat sangat sedih setelah ditinggal pergi Juli. Perlahan Nayla mulai berusaha beranjak bangkit dan mengubah hidupnya.

            Sejak kecil, Nayla memiliki hobi menulis diary dan cerpen. Bakat penulis sudah ada di dalam dirinya semenjak ia belia. Nayla kecil sering membuat cerpen dan dimuat di koran sekolah. Di beberapa kesempatan, Djenar menuliskan surat-surat Nayla yang ditujukan kepada ayah dan ibunya, ia bercerita panjang lebar tanpa pernah mengirim surat tersebut. Namun di dalam surat tersebut dapat dianalisis bahwa Nayla masih menyayangi kedua orang tuanya tanpa sedikit pun menyimpan dendam.

Di usianya yang ke-25 tahun, Nayla melanjutkan lagi hobinya dengan membuat cerpen dan mengirimkannya ke koran agar dimuat di sana. Kehidupan Nayla terus melaju dan menjadi lebih baik. Di usianya yang dewasa, ia memiliki pacar yang bernama Ben. Banyak pertegkaran dan permasalahan di kehidupannya yang baru dengan Ben. Hingga akhirnya ia harus pisah dengan Ben dan Nayla kembali menyandang status lajang.

Kecintaannya terhadap tulisan memberikan angin segar di hidupnya. Ia menekuni profesi barunya sebagai penulis. Dengan profesinya sebagai penulis, Nayla bergaul dengan komunitas penulis dan ia banyak belajar dari mereka. Karya pertamanya ditolak oleh redaksi koran, tempat ia mengirimkan cerpennya. Tetapi, hal ini tidak menyurutkan semangat Nayla untuk berkarya lagi. Nayla terus berusaha hingga suatu saat cerpennya berhasil dimuat di koran. Hal ini menjadi batu loncatan baginya. Ia terus mengembangkan bakatnya hingga ia berhasil meluncurkan sebuah novel yang diambil dari kisah hidupnya selama ini.

Nayla menjadi terkenal dan namanya menjadi topik yang hangat dibicarakan masyarakat. Karier Nayla semakin menjulang dan ibu Nayla mengharap Nayla kembali ke pangkuannya. Nayla tidak mempedulikan hal itu dan langkahnya pun semakin pasti. Novel yang ia lahirkan saangat terkenal sehingga diajadikannya sebuah film yang diangkat dari novel karyanya. Nayla mendulang kesuksesannya dan ia terus menjalani hidupnya tanpa tahu apa yang terjadi di hari-hari berikutnya.

Novel Nayla dapat dimaknai sebagai eksistensialisme seorang perempuan yang mengukuhkan keberadaannya dengan perjuangan yang tidak mudah. Djenar juga sedikit menyinggung kaum lesbian yang memiliki alasan tersendiri dalam memilih pasangan sesama jenisnya. Tokoh utama Nayla dibesarkan dengan cara yang tidak wajar dan memilih hidup yang anomali menjadikan seseorang terpinggirkan. Meski demikian tidak lantas menyurutkan kegigihan untuk bertahan hidup, dan membuktikan bahwa hal tersebut tidak menghentikan untuk seseorang tersebut untuk terus berkarya.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    89.298