Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Menentukan Tema Puisi melalui Apresiasi Sastra

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 07 September 2014
di Apresiasi Sastra - 0 komentar

Herman J. Waluyo (1987) berpendapat bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa, dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

Maka salah satu cara untuk mengetahui tema dalam suatu puisi adalah melalui pendekatan struktur fisik, yakni mengkaji unsur-unsur yang membangunnya. Struktur fisik puisi meliputi diksi (pemilihan kata), makna kias (metafora), pengimajian (kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan), versifikasi (meliputi rima, ritma, metrum), dan tipografi (bentuk visual puisi). Berikut analisis penentuan tema puisi:

 

Kelompok 1

Tawamu seperti gerimis yang tiba-tiba lenyap.

Pagi ini, aku tak menjumpaimu, bahkan matahari siap mengantar pada halaman baru yang tak beratap lingkar lagi.

Aku resah menikmati hidup sendiri, engkau kini lenyap tak beratap.

Kelompok 1 melalui puisinya menggambarkan suasana hati orang pertama (si aku) yang gundah karena tidak lagi dapat menjumpai seseorang yang sangat berarti baginya (si kamu). Pengimajian di baris pertama menunjukkan betapa keceriaan si kamu membawa kebahagiaan tersendiri untuk si aku. Namun pada baris selanjutnya, si aku tidak lagi dapat menjumpainya. Pemilihan kata “atap” sesuai dengan makna leksikal katanya adalah pelindung sebuah bangunan, maka si kamu dimetaforakan sebagai pelindung si aku. Pada baris terakhir puisi ini, secara eksplisit si aku mengakui keresahannya karena kehilangan si kamu.

 

Kelompok 2

Bumi memekat tak berarti gelap.

Aku melihat yang tak terlihat.

Samar, tak tereja dan tak teraba.

Pemilihan kata memekat, gelap, tak terlihat, samar, tak tereja, dan tak teraba, merupakan pengimajian yang dihadirkan oleh kelompok 2 untuk menyampaikan suatu pegalaman indrawi. Pada baris pertama kelompok 2 menegaskan suatu penyangkalan mengenai realita yakni digambarkan melalui “bumi memekat tak berarti gelap” yang kemudian didukung oleh “aku melihat yang tak terlihat”. Maksudnya adalah orang pertama dalam puisi ini memiliki kepekaan dalam melihat setiap tanda meski pada baris terakhir disebutkan bahwa tanda-tanda tersebut sekadar samar dan tidak dapat dikatakan atau dijangkau olehnya.

 

Kelompok 3

Di dalam palung yang pekat.

Aku bertemankan jarum jam.

Menanti himpitan dia yang bersayap.

Puisi ini menceritakan tentang si aku yang sedang berada dalam tekanan, diperkuat dengan diksi “palung yang pekat” yang dimaknai sebagai kondisi yang sudah tidak memungkinkan untuk si aku bertahan hidup. “Jarum jam” menjadi simbol usia hingga pada akhirnya si aku hanya bisa pasrah menanti ajalnya.

 

Kelompok 4

Temaram durja aku terhambat,

rinduku padamu begitu dalam.

Namun, aku terdiam dalam kenangan itu,

kenangan menyakitkan yang pernah kau berikan padaku.

Enyah saja bagaikan benalu.

Kelompok 4 menceritakan sebuah kerinduan yang dirasakan orang pertama (si aku), frasa “temaram durja” mencitrakan nuansa keremangan wajah si aku yang sedang bersedih dikarenakan rasa rindunya terhadap seseorang (si kau). Di kalimat kedua, secara eksplisit dijelaskan bahwa si aku tetap bertahan meski seseorang yang dirindukannya itu telah memberikan rasa sakit padanya di masa lalu. Dan di baris terakhir puisi ini, si aku berharap seseorang itu enyah dari kehidupannya.

 

Kelompok 5

Pendar aura iblis merona di wajahmu.

Untai katamu serupa pesan malaikat maut.

Kau tahu, di atas kepalamu ada lingkaran cincin sekaligus sepasang tanduk?

Kelompok 5 membangun pengimajian sedang berhadapan dengan seseorang (si kau) yang memiliki laku buruk yang dipadatkan menjadi “pendar aura iblis”, diperkuat dengan baris selanjutnya “untaian katamu serupa pesan malaikat maut” yang menyatakan betapa mengerikannya ucapan orang tersebut. Di akhir puisi ini,  dipertanyakan kembali mengapa si kau berlaku buruk padahal masih memiliki hati nurani.

 

Kelompok 6

Kembang kempis rindu meluap.

Melanglang buana di denyut nadi.

Menanyakan satria yang terpatri dalam hati.

Puisi ini mendeskripsikan suatu kerinduan akan seseorang. Di baris pertama, secara gamblang disebutkan adanya gejolak rasa rindu, yang pada baris selanjutnya diperjelas bahwa kerinduan tersebut dirasakan sepenuhnya dengan “denyut nadi” sebagai simbol utuh raga seseorang itu. Di bait terakhir, dimunculkan keraguan akan “satria” yakni seseorang yang dirindukannya dengan segenap jiwa.

 

Kelompok 7

Aku berjalan di lorong gelap,

kulihat lilin membentuk bayangmu.

Lalu kutersenyum malu karena ingatan tentang sepasang mata pangeranku.

Irama dan waktu syahdu, manis semanis madu,

teringat canda dan tawa yang tiba-tiba kelam,

hanya asa yang tersisa bersama tapi tak bersama.

Puisi ini dimulai dengan pengimajian visual yang selanjutnya merujuk pada pikiran orang pertama (si aku) mengenai seseorang. Kemudian secara eksplisit diceritakan bahwa si aku teringat kembali pada kenangan-kenangan indah bersama seseorang tersebut hingga tiba-tiba semuanya musnah karena mereka tidak lagi bersama.

 

Kelompok 8

Dalam benak Sang Gadis berpikir.

Bersama bisikan hati yang bergejolak.

Hingga akhirnya mati rasa.

Kelompok 8 menceritakan sosok yang sedang bimbang antara pikiran dan kata hatinya, hingga akhirnya sosok tersebut tidak lagi peduli dengan keduanya.

 

Kelompok 9

Gemerlap menjauh tanpa tau salahku.

Sorot menurun merangkap hati hanya gelap mendekapku.

Tanpa sisip surat pemberitahuan kepergian jejakmu.

Puisi ini bercerita tentang kepergian seseorang yang sangat berarti bagi si aku. Kepergian tanpa kabar sebelumnya oleh seseorang tersebut membuat si aku merasa terpuruk, “gemerlap” sebagai simbol kebahagiaan pada bait pertama dijelaskan telah meninggalkan si aku. Kemudian di bait kedua, dijelaskan bahwa tidak ada lagi peduli padanya dan diperkuat dengan “hanya gelap mendekapku” yang menyiratkan betapa terpuruknya si aku.

 

Kelompok 10

Lihat anak terlunta meminta-minta; meminta digilas, menenggak cadas, menjadi ampas.

Kami seperti kutub magnet fisika; Bapakku kaya, dia sengsara.

Wedhus, aku ingin mampus!

Puisi ini diawali dengan pengimajian visual yakni “lihat anak terlunta meminta-minta” yang secara realistis memang dimaksudkan untuk merujuk pada anak jalanan yang dilihat oleh orang pertama (si aku), yang kemudian diperjelas dengan gambaran ironis akan nasib anak jalanan tersebut. Baris selanjutnya, perenungan si aku mengnimbulkan kesadaran akan kesenjangan yang terjadi antara si aku sendiri dengan anak jalanan yang dimetaforakan sebagai “kutub magnet fisika”. Di akhir puisi ini, si aku mengumpat pada dirinya sendiri dan ingin mengakhiri hidupnya.

 

Dapat disimpulkan secara garis besar puisi-puisi tersebut melangkah dari tema besar yang sama yakni kepekaan. Namun pada prosesnya, kepekaan itu sendiri telah diinterpretasi dengan cara yang berbeda-beda sehingga menghasilkan tema-tema yang beragam.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    89.295