Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Apresiasi Cerpen Sepotong Tangan Karya Ratih Kumala

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 07 September 2014
di Apresiasi Sastra - 0 komentar

Cerpen Sepotong Tangan karya Ratih Kumala bercerita tentang seorang laki-laki yang tidak bisa hidup tanpa istrinya yang telah dinikahi selama 37 tahun, sehingga pada saat istrinya meninggal ia memotong tangan istrinya untuk digandeng dan dibawa serta saat meminta pertolongan pada adik iparnya. Hal yang diperbuatnya membuat orang-orang menuduh si lelaki sebagai pembunuh istrinya. Sampai pada akhir cerita, terbukti dari hasil otopsi bahwa tangan istrinya memang dipotong setelah istrinya telah meninggal, dan kematiannya ternyata disebabkan oleh kanker stadium akhir.

Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dari segi penokohan, terdapat tiga tokoh utama yakni tokoh suami (seorang lelaki), istrinya, dan seorang gadis kecil (keponakan). Tokoh istri digambarkan sebagai sosok istri teladan yang selalu mengurus rumah tangganya dengan baik. Hal ini diceritakan secara gamblang melalui penarasian pengarang, seperti pada paragraf pertama, “Biasanya, istrinya selalu bangun lebih dahulu. Menyiapkan sarapan, sedikit berdandan, (...)”

Tokoh suami diceritakan sangat bergantung pada istrinya. Dia memiliki kesetiaan yang tulus pada istrinya karena meski tidak kunjung memiliki anak, si suami tetap setia, ditunjukkan pada kalimat, “Mereka sudah melewati tahun-tahun saat perempuan tua itu mengutuki dirinya sendiri atas ketakkunjungan dirinya berbadan dua, (...) Toh lelaki itu tetap membiarkan istrinya menggenggam tangannya, (...) dan lelaki itu justru lebih erat lagi menggenggam tangan istrinya.” Hal ini diperkuat dengan pernyataannya kepada si gadis di akhir cerita, “Karena aku tak bisa hidup tanpa dia, Nak. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat tanpa dia.”

Tokoh gadis kecil yang merupakan anak terkecil adik iparnya yang paling muda (keponakan si suami-istri) memiliki peran penting di akhir cerita. Dengan pertanyaan polos si gadis bertanya kepada tokoh suami mengenai perbuatan pamannya itu. Dan jawaban jujur dari tokoh suami membuat si gadis berkata, “jika aku punya suami kelak, aku ingin yang seperti paman.” Perkataan si gadis sangat menyentuh dan membuat semua orang yang berada dalam ruangan di kantor polisi terharu.

Latar tempat utama hanya berkisar di rumah si suami-istri, depan rumah adik iparnya, dan kantor polisi. Suasana yang dibangun tidak terlalu mencekam walau dikisahkan si suami memotong tangan istrinya, penulis banyak memaparkan kenangan-kenangan indah tokoh suami dengan istrinya.

Alur cerita menggunakan alur maju yakni cerita runut dari awal hingga akhir kisah. Cerita diawali dengan penarasian keadaan hidup si suami dan istrinya hingga konflik dimulai saat si suami menemukan istrinya meninggal. Puncaknya yakni ketika terbukti bahwa si suami tidak bersalah, dan cerita berakhir dengan keterharuan semua orang yang mendengar dialog singkat antara si suami dengan si gadis.

Dari hasil analisis unsur-unsur tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa cerpen Sepotong Tangan mengangkat tema kasih yang tulus, yang direpresentasikan melalui penokohan sepasang suami-istri. Amanat yang yang dapat diambil dari cerpen ini adalah kesetiaan dan cinta yang tulus memang dapat membuat seseorang berbuat di luar logika sehingga pembaca hendaknya selalu bijaksana dalam bertindak.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    84.307