Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Awal Kelahiran dan Karakteristik Sastra Indonesia

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 20 May 2014
di Sastra Indonesia - 1 komentar

Sampai saat ini penentuan awal kelahiran sastra Indonesia serta tolok ukur suatu karya disebut sebagai sastra Indonesia masih menjadi polemik. Sejauh ini para pengamat dan akademisi sastra (humaniora) memiliki pertimbangan yang berbeda sehingga menghasilkan berbagai pendapat yang berbeda pula mengenai awal lahirnya sastra Indonesia. Hal ini disebabkan oleh pemahaman yang berbeda mengenai karakteristik sastra Indonesia, juga belum adanya satu kesepakatan yang dapat digunakan sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.

Sastra hakikatnya adalah sebuah gejala universal yang tidak selalu dipersepsi secara sama sehingga interpretasi tergantung dari mana sudut yang digunakan oleh penikmatnya dalam memahami sebuah karya sastra. Selain itu, pada hakikatnya ilmu sastra memiliki sifat intersubjektif yakni sejauh pendapat tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan berterima, maka pendapat tersebut dianggap “benar”. Hal inilah yang menyebabkan perumusan kesejarahan sastra yang begitu panjang dan penentuan awal lahirnya sastra Indonesia menjadi rumit bahkan berpolemik.

Penyusunan perkembangan karya sastra secara sistematis tidak mudah untuk dilakukan. Mula-mula sejarah sastra juga mempunyai masalah yang sama, karena mencoba menelusuri sejarah sastra sebagai seni, terpisah dari sejarah sosial, biografi pengarang, atau apresiasi karya perorangan (Wellek dan Waren, 2014:315). Perkembangan karya sastra di Indonesia memang tidak dapat dirumuskan secara tepat, namun bila menelisik ke dalam perjalanan perkembangan dan revolusi sastra Indonesia sendiri dapat dirumuskan beberapa titik pemahaman.

Pengenalan masyarakat Indonesia akan karya sastra, dimulai pada tahun 1920 yakni pada lahirnya Balai Pustaka. Balai Pustaka sangat berpengaruh pada perkembangan perpustakaan baru terutama yang tertulis dengan huruf latin (Usman, 1979: 15). Hal itu tercermin dengan berpindahnya pusat perhatian orang-orang yang berminat kepada kesusastraan ke Balai Pustaka (Jakarta) yang berpengaruh pada perkembangan bahasa dari bahasa Melayu Baru (yang banyak dipengaruhi oleh bahasa-bahasa daerah dan bahasa surat kabar), kemudian menjelma menjadi bahasa Indonesia.

Pemakaian bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia, menjadi bahasa pengukuh keyakinan akan persatuan bangsa Indonesia yang pada saat itu masih mengalami pergolakan dan penindasan sebagai negara jajahan. Balai Pustaka dianggap sebagai wadah penampung pemikiran sastra bangsa Indonesia yang mampu melahirkan pandangan yang lebih terang akan suatu “label” karya sastra. Selain pengemasan dengan bentuk cetakan, dihimpunnya tim redaksi sebagai dewan yang memilih karya-karya sastra yang layak diterbitkan, makin mengukuhkan eksistensi sastra Indonesia.

Awal Kelahiran Sastra Indonesia

Mulanya pada tahun 1920, salah satu aktivitas dari pelaksanaan politik etis atau balas jasa oleh Belanda diwujudkan dengan didirikannya sekolah-sekolah. Hal inilah yang mendasari terbentuknya suatu badan yang kemudian bertugas menerbitkan buku-buku yang baik untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat. Di samping itu, badan ini mengusahakan Taman Pustaka atau perpustakaan yang ditempatkan di sekolah-sekolah rakyat. Badan ini diperluas dan diperbesar seiring dengan makin banyaknya tamatan seolah yang memerlukan bahan-bahan bacaan, dan badan inilah yang kemudian disebut Balai Pustaka.

Hal yang menambah keyakinan bahwa Balai Pustaka merupakan awal dari lahirnya sastra Indonesia adalah pada masa penjajahan setelah Belanda, tepatnya kependudukan Jepang (1942-1945) Balai Pustaka masih tetap eksis meski menggunakan nama lain yaitu Gunseikanbo Kokumin Tosyokyoku yang artinya Biro Pustaka Rakyat Pemerintah Militer Jepang.

Munculnya Balai Pustaka ini telah membuka hati para penulis untuk memperlihatkan hasil karyanya yang sebelumnya menggunakan bahasa daerah kemudian beralih menggunakan bahasa Indonesia sebagai ungkapan rasa bangga berbangsa Indonesia. Selain itu, hal ini telah membuka semangat dan kesadaran para penulis untuk mempersatukan daerah-daerahnya demi keutuhan bangsa Indonesia.

Dilihat dari perkembangan karya sastranya, Balai Pustaka memiliki maksud dan tujuan pendirian sehingga menetapkan persyaratan-persyaratan dalam menyaring karya-karya yang masuk dapur redaksinya. Dengan adanya persyaratan-persyaratan tersebut maka menimbulkan berbagai macam pandangan orang terhadap Balai Pustaka. Hal tersebut merupakan suatu kelemahan atau permasalahan tersendiri dari Balai Pustaka yang kurang diperhatikan keberadaannya saat itu. Menurut Sarwadi (1999: 29) permasalahan itu meliputi:

  1. Roman terpenting yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 20an ialah Salah Asuhan karya Abdul Muis. Dalam karya itu pengarang lerbih realistis dalam menyoroti masalah kawin paksa. Selain itu berisi juga tentang pertentangan antara kaum muda dengan kaum tua dalam pernikahan. Yang menjadi permasalahan bagi pengarang ialah akibat-akibat lebih jauh dari pertemuan kebudayaan Eropa yang masuk dalam tubuh anak-anak bangsanya melalui pendidikan sekolah kolonial Belanda.
  2. Novel Belenggu karya Armin Pane pernah ditolak oleh Balai Pustaka karena isinya dianggap tidak bersifat membangun dan tidak membantu budi pekerti, namun kemudian novel ini disadur oleh Pujangga Baru pada tahun 1938, dan dicetak ulang oleh Balai Pustaka.

Selain sebagai tonggak kelahiran sastra Indonesia, pada masa Balai Pustaka pula karya-karya masterpiece dilahirkan. Hal ini terbukti dari beberapa karya Balai Pustaka yang mengalami pencetakan ulang dan penerbitan kembali. Karya sastra tersebut antara lain roman Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar mengalami cetak ulang ke-10 pada tahun 1992, roman Kalau Tak Untung karangan Selasih mengalami cetak ulang ke-12 pada tahun 1992, roman Layar Terkembang karangan S. Takdir Alisjahbana mengalami cetak ulang ke-12 pada tahun 1981, roman Atheis karangan Achdiat K. Mihardja mengalami cetak ulang ke-28 pada tahun 2006, novel Bukan Pasar Malam karangan Pramoedya Ananta Toer yang dinyatakan terlarang pada tahun 1966 dan diterbitkan kembali oleh Bara Budaya tahun 1999 dan Lentera Dipantara tahun 1994, dan roman Surapati karangan Abdul Moeis mengalami cetak ulang ke-10 pada tahun 1995.

Karakteristik Sastra Indonesia

Sejauh ini, suatu karya sastra dapat disebut sebagai sastra Indonesia apabila telah mendapat pengakuan dari berbagai golongan pembaca, baik dari masyarakat umum, akademisi sastra, maupun pengamat sastra. Karakteristik dari sastra Indonesia sendiri bila dirumuskan masih sangatlah remang. Apakah yang disebut sastra Indonesia merupakan karya sastra yang sekadar menggunakan bahasa Indonesia, atau asalkan ditulis oleh sastrawan Indonesia, atau karya sastra yang lahir dan berkembang di Indonesia?

Kami lebih sepakat tidak mempermasalahkan siapa, bagaimana, dan di mana karya sastra tersebut dilahirkan, namun indikator yang perlu dicapai adalah isi kandungan, muatan, ataupun makna yang tersirat dari suatu karya sastra tersebut sehingga layak disebut sebagai sastra Indonesia. Maksudnya, suatu karya sastra layak mendapat predikat sastra Indonesia apabila mengandung suatu unsur yang berkenaan dengan “keindonesiaan”, baik yang merefleksikan kondisi politik dan pemerintahan pada suatu masa di Indonesia, kebudayaan dan kesenian yang berkembang di Indonesia, maupun masalah-masalah hidup lainnya yang secara tidak langsung memiliki “cita rasa” Indonesia. Tentu saja dengan catatan semua karya dilahirkan oleh pengarang setelah melalui proses pengimajian sehingga genre tulisan (fiksi atau nonfiksi) tidak lagi dipermasalahkan.

 

Referensi:

Rosidi, A. 1986. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.

Sarwadi. 1999. Sejarah Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Kurrnia Kalam Semesta.

Teeuw, A. 2002. Sastra dan Ilmu Sastra. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Usman, Zuber. 1979. Kesusastraan Baru Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 2014. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia.

Yudiono. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo.

1 Komentar

1. Federico

pada : 25 March 2017

"each time i used to read smaller articles or reviews that
as well clear their motive, and that is also happening with this paragraph which I am reading at this time."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Goodreads

Pengunjung

    84.295