Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Polemik Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 20 May 2014
di Sastra Indonesia - 0 komentar

Karya sastra selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Adanya perbedaan zaman yang didasari oleh kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat yang berkembang pada waktu tertentu berdampak pada perkembangan karya sastra[1]. Seiring dengan perkembangannya, muncul banyak perdebatan ketika menyusun sejarah kesusastraan. Salah satu rumusan yang (masih) berpolemik adalah rumusan mengenai Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Dalam hal ini kami berusaha menelusuri kelayakan legitimasi angkatan tersebut.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai polemik legitimasi Angkatan 2000, ada baiknya memahami apa yang dimaksud dengan angkatan itu sendiri. Angkatan dapat dipahami sebagai pengelompokan suatu karya sastra dalam rentang waktu tertentu berdasarkan pengarang yang hidup dan karakteristik atau ciri khas dari karya-karya sastranya yang muncul pada rentang waktu tersebut. Berbeda dengan periodisasi yang erat kaitannya dengan pembabakan karya sastra sesuai periode munculnya karya tersebut. Dari kedua istilah tersebut saja sudah menimbulkan banyak perspektif dalam penyusunan sejarah kesusastraan[2]. Kelompok kami lebih sepakat menggunakan periodisasi karena lebih jelas dasarnya. Dalam angkatan, misalnya, kita tidak akan pernah tahu berapa lama seorang penulis hidup ataupun tetap berkarya, sehingga pengelompokan karya sastra melalui perspektif angkatan dirasa kurang tepat.

Terlepas dari istilah periodisasi dan angkatan, pada tahun 2002 muncul wacana pelegitimasian Angkatan 2000 yang dipelopori oleh Korrie Layun Lampan melalui bukunya dengan judul yang sama. Salah satu pengarang yang disebut dalam bukunya adalah Ayu Utami. Melalui Saman, Ayu Utami dikategorikan sebagai Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Saman sendiri sebenarnya telah terbit pada tahun 1998. Bertolak dari hal tersebut, kami mengasumsikan bahwa Angkatan 2000 dimungkinkan ada dan mencakup suatu periode yakni pascareformasi. [3]

Pada masa pascareformasi, kami sepakat bahwa sastra koran memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan karya sastra. Pada masa tersebut karya sastra yang bermunculan seolah-olah lahir dari euforia peristiwa saat itu. Sesuatu yang dianggap tidak layak dituangkan dalam karya sastra pada masa sebelumnya, didobrak oleh sastrawan Indonesia saat itu, dan koran sebagai media publik yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dimanfaatkan untuk menyalurkan ideologi atau aspirasi melalui karya-karya sastra yang dimuat.

Sastra koran yang dapat dikatakan sebagai pencapaian suatu karya, pada faktanya tidak dapat digunakan sebagai acuan suatu karya sastra dianggap baik (berkualitas). Maksudnya, tidak sedikit karya sastra yang dimuat biasa-biasa saja[4]. Dari hal tersebut dapat diasumsikan adanya kontrol media, dalam hal ini koran sebagai wadah publik yang seharusnya “sportif”, ternyata memiliki kecenderungan tertentu. Kecenderungan tersebut dapat disimpulkan ketika kita mengamati karya sastra yang dimuat. Seringkali kita akan menemui karya sastra yang dikarang oleh sastrawan ternama, atau tema karya sastra yang dimuat selalu seragam dengan semangat koran tersebut (seperti realitas atau kritik sosial), dan yang mengecewakan adalah eksplorasi yang cenderung biasa. Selain itu, editor tentu berperan besar dalam memilih karya sastra yang akan dimuat.

Berfokus pada legitimasi Angkatan 2000, kami mengasumsikan bahwa koran Kompas berpengaruh besar dibandingkan dengan koran yang lain, namun bukan berarti koran lokal maupun nasional selain Kompas tidak berpengaruh. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan kami adalah adanya buku kumpulan cerpen Kompas yang sebelumnya telah dimuat di koran tersebut. [5]

Jika diperhatikan, karya sastra untuk genre prosa yang hadir pada masa pascareformasi lebih banyak menggunakan teknik fragmentasi. Selain novel Saman (1998), sebut saja Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (2001) karya Dewi Lestari, dan Dadaisme (2003) karya Dewi Sartika yang merupakan pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta. Untuk cerpen dapat ditemui dalam kumpulan cerpen Sihir Perempuan (2005) karya Intan Paramaditha, dan Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (2010) karya Agus Noor.

Selain karya-karya tersebut, pada perkembangannya, batasan antara sastra serius dan populer tidak lagi jelas atau dikukuhkan. Novel-novel seperti Ayat-Ayat Cinta (2004) karya Habiburrahman El Shirazy dan Laskar Pelangi (2005) karya Andrea Hirata seakan mempelopori munculnya novel-novel yang mengandung tema religius dan inspiratif, namun “kesastraannya” masih diperdebatkan hingga saat ini. Sehingga dapat disimpulkan, meskipun karya sastra di Indonesia telah berkembang dengan adanya variasi eksplorasi, label sastra-nonsastra masih dianggap penting oleh para pembaca, sastrawan, ataupun akademisi sastra.

Dari uraian di atas, kami menyimpulkan bahwa istilah Angkatan 2000 dianggap kurang tepat karena tidak jelas batasan rentang waktu hidupnya seorang pengarang maupun kekhasan atau semangat yang harusnya seragam pada waktu itu tapi malah beragam. Penggunaan istilah periode dirasa lebih tepat, karena dapat mencakup seluruh karya sastra yang muncul pada rentang waktu pascareformasi hingga kini yang karateristiknya tidak lagi ditentukan ataupun seragam, dan tidak mengkategorikan seorang pengarang pada angkatan tertentu karena masa berkarya yang tidak dapat dipastikan.

Menurut kami, saat ini yang terpenting untuk diperhatikan adalah motif pengarang dalam menyusun sebuah buku, apakah demi menghasilkan sebuah karya, atau jangan-jangan sekadar jualan buku (?)



[1] Bahwa karya sastra tidak hadir dalam ruang hampa, yang artinya suatu karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang dipengaruhi oleh lingkungannya. Dapat disebut juga bahwa salah satu hakikat karya sastra adalah lahir dari kesinambungan fakta kemasyarakatan, khususnya fakta sastra.

[2] Beberapa tokoh yang berusaha merumuskan sejarah kesusastraan Sastra Indonesia melalui periodisasi dan angkatan yaitu H.B. Jassin, Boejoeng Saleh, Nugroho Notosusanto, Bakri Siregar, Ajip Rosidi, Yudiono K.S.

[3] Pascareformasi merujuk pada berakhirnya rezim orde baru Soeharto di Indonesia. Pada masa orde baru, banyak terjadi pembredelan media massa sehingga pada masa tersebut  rakyat tidak memiliki kebebasan untuk menyampaikan aspirasinya.

[4] Karya sastra yang dimaksud adalah cerpen dan puisi yang dimungkinkan dimuat dengan kolom yang terbatas. Batasan karakter dalam memuat suatu karya sastra ini merupakan salah satu ciri sastra koran.

[5] Penghargaan Cerpen "Kompas" merupakan aktivitas yang dilakukan Harian Kompas dalam mendukung kesusastraan Indonesia melalui penghargaan yang sudah berlangsung semenjak tahun 1992. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kompas_(surat_kabar))

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    91.907