Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Pengkajian Teks (Sastra) Melalui Dekonstruksi

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 20 May 2014
di Teori Sastra - 0 komentar

Salah satu ciri karya sastra adalah ambiguitas, yakni menawarkan banyak makna. Ketika pembaca merumuskan sebuah makna dan menarik kesimpulan, sering kali teks sastra menorehkan makna lain yang berbeda dari makna yang telah disimpulkan oleh pembaca sebelumnya. Keberadaan makna itulah yang membuktikan bahwa sesungguhnya pemahaman pembaca terhadap sebuah teks tidak pernah tunggal dan memiliki potensi penafsiran baru yang berbeda-beda.

Dekonstruksi sebagai konsep pembacaan kritis timbul dari strukturalisme yang cenderung mengkategorikan sesuatu berdasarkan oposisi biner. Sifat dekonstruksi adalah gagasan kecurigaan terhadap praktik dominasi di segala bidang, sehingga ketika melakukan pembacaan suatu teks hendaknya tidak percaya begitu saja dengan makna yang telah dirumuskan sebelumnya.

Derrida sebagai tokoh yang mencetuskan dekonstruksi meneguhkan pentingnya perbedaan di tengah dunia yang dibayang-bayangi hasrat akan kebenaran yang “utuh” dan “tak retak”. Baginya, dunia ini mengajarkan manusia untuk liyaning liyan, menghormati yang-beda dalam keberbedaannya dan yang-lain dalam kelainannya, sehingga dalam praktiknya sebagai pembaca, kita harus mencurigai tendensi-tendensi tersembunyi dari suatu teks dan menggugat lebih jauh proses pembentukan logika teks (Al-Fayyadl, 2005:88).

Contohnya dalam pembacaan Siti Nurbaya, selama ini kita mengamini bahwa tokoh Samsul Bahri dianggap sebagai pahlawan, konsep ini seakan satu-satunya pembawa pesan teks yang paling benar karena terstruktur. Namun, ketika dilakukan pembacaan dalam rangka kepentingan sosial-politik didapati bahwa justru Datuk Maringgih yang berperan besar sebagai pahlawan. Oleh Derrida, konsep ini disebut dengan différance (penundaan, pembalikkan) yakni menunda hubungan penanda dan petanda, membalikkan hirarki logika biner.[1]

Dekonstruksi bukan kritik, bukan pula kritik terhadap kritik karena dekonstruksi tidak melampaui teks yang dibahas, tidak pula keluar menjorok melebihi teks. Ia merupakan pemikiran dari dalam dan aspirasi utama dekonstruksi adalah menyingkap makna-makna yang dipinggirkan, diabaikan, atau disembunyikan.[2] Contohnya pembacaan kumpulan cerpen Sihir Perempuan, pembaca akan mendapati bahwa kumpulan cerpen ini tidak hadir sebagai teks yang berupaya mendobrak budaya patriarki, melainkan sebagai teks yang mencoba mengusung realitas keperempuanan yang dekat dengan masyarakat.[3]

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam mengkaji suatu teks (sastra) melalui konsep dekonstruksi, pembaca hendaknya bersedia menunda makna hingga tanda-tanda yang tersebar dalam suatu teks telah dikritisi, sehingga dapat menyingkap makna tersembunyi dalam rangka menguak dominasi di segala bidang, khususnya sosial dan politik.

 

 



[1] Al-Fayyadl dalam Derrida (2005:87-88) memaparkan bahwa différance oleh Derrida dianggap sebagai olok-olok terhadap logosentrisme karena différance membayangi setiap teks dengan kemungkinan-kemungkinan yang lain, yang membuat seolah-olah pembaca kehilangan makna.

[2] Setijowati dalam esainya Derrida dan Dekonstruksi: Pemikiran Menggugat Anti Kemapanan memaparkan bahwa dekonstruksi membantu untuk bisa melihat apa yang disembunyikan oleh sejarah atau yang dilarangnya dengan menyusun kembali sejarah melalui unsur-unsur yang ditindas, mengusik apa yang telah disahkan oleh tradisi dan dijaga oleh sejarah, sehingga membuat resah para pemegang kekuasaan.

[3] Bramantio dalam esainya Suara-Suara yang Terbungkam dalam Sihir Perempuan, memaknai tanda-tanda dalam karya tersebut melalui proses konkretisasi dengan perspektif feminisme, sehingga strateginya adalah mencurigai adanya persoalan-persoalan kelompok marjinal (perempuan) dan bertujuan membongkar relasi kuasa dalam struktur patriarki.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    98.353