Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Refleksi Ketimpangan Sosial dalam RT Nol RW Nol

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 13 May 2014
di Sastra Indonesia - 0 komentar

Refleksi Ketimpangan Sosial dalam RT Nol RW Nol

Oleh Lucky Ariatami (121211132041)

Departemen Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Airlangga

2013

 

Bab I

Pendahuluan

Dalam penelitian karya sastra, analisis atau pendekatan objektif terhadap unsur-unsur intrinsik atau struktur karya sastra merupakan tahap awal untuk meneliti karya sastra sebelum melakukan penelitian lebih lanjut. Pendekatan struktural merupakan pendekatan intrinsik, yakni membicarakan karya tersebut pada unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam.

Pendekatan struktural mencoba menguraikan keterkaitan dan fungsi masing-masing unsur karya sastra sebagai kesatuan struktural yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 2003:135). Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan struktural adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang cara kerjanya menganalisis unsur-unsur struktur yang membangun karya sastra dari dalam, serta mencari relevansi atau keterkaiatan unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai kebulatan makna.

Salah satu genre karya sastra adalah drama. Drama adalah kisah tentang konflik hidup manusia yang diproyeksikan di atas pentas dengan mengunakan percakapan dan laku di hadapan penonton. Sehingga drama memiliki kekhususan karena dipentaskan. Namun drama tidak lepas dari teks atau naskah drama yang memiliki unsur-unsur, yaitu tekstur dan struktur drama.

Dalam makalah ini akan dibahas naskah drama yang berjudul RT Nol RW Nol karya seorang sastrawan tahun 1960-an yang lahir di Sibolga pada 18 Januari 1928, yaitu Iwan Martua Dongan Simatupang atau yang lebih dikenal dengan Iwan Simatupang. Saat membaca judul RT Nol RW Nol, pembaca akan mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya tentang makna yang terkandung dalam naskahnya, sehingga kemudian membacanya karena merasa tertarik oleh judulnya yang unik.

Drama ini berkisah tentang beberapa orang yang tinggal di sebuah kolong jembatan. Tempat tinggal yang tidak beralamat inilah yang disebut oleh salah seorang tokohnya sebagai RT Nol RW Nol. Meski para tokohnya diceritakan tidak memiliki tempat tinggal selain kolong jembatan tersebut dan bahkan tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk, melalui dialog-dialog tokohnya terkesan memiliki pandangan kritis terhadap pemerintahan.

Maka untuk dapat mengetahui makna dibalik naskah drama RT Nol RW Nol perlu dilakukan analisis mendalam tentang salah satu unsur struktur teks drama, yaitu kajian terhadap tema dan pesan.

 

Bab II

Isi

Penulis drama bukan semata-mata mencipta, tetapi bersifat ideologis. Penulis menciptakan sebuah drama berdasarkan bentuk pengungkapan ekspresif atau impresif dari pengalaman estetik akibat adanya interkomunikasi estetik, yang kemudian menyuguhkan persoalan kehidupan manusia baik lahir maupun batin dalam naskah dramanya.

Salah satu unsur struktur pembentuk teks drama adalah tema dan pesan. Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama di dalam karya sastra, baik yang terungkap secara tersurat maupun tersirat. Sedangkan pesan adalah amanat dalam drama yang ingin disampaikan pengarang kepada publiknya. Teknik penyampaian pesan tersebut bersifat langsung maupun tidak langsung, atau dapat diungkapkan secara tersurat, tersirat, maupun simbolik. Jadi, jika tema dalam drama merupakan ide sentral yang menjadi pokok persoalannya, maka amanat merupakan pemecahannya.

Untuk dapat mengetahui tema dan pesan dalam naskah drama RT Nol RW Nol yang ditulis oleh Iwan Simatupang pada tahun 1966 ini, baiknya berangkat dari sinopsis sehingga dapat diketahui jalan ceritanya.

2.1 Sinopsis

Dikisahkan beberapa orang tinggal di bawah kolong jembatan di sebuah kota besar: seorang mantan klasi kapal yang dipanggil Kakek, Pincang seorang lelaki dengan kondisi fisiknya yang memang memiliki kaki yang pincang, kakak beradik perempuan bernama Ani dan Ina yang bekerja sebagai  PSK (Pekerja Seks Komersil). Mereka telah lama meratapi kejamnya kota besar sampai suatu hari Ani dan Ina yang telah lama menjalani profesi sebagai PSK memutuskan untuk menikah setelah tertangkap razia polisi. Ani dijanjikan untuk dinikahi seorang laki-laki yang dipanggil Ina sebagai Babah, dan Ina menerima lamaran Bang Becak yang selama ini turut andil dalam pekerjaannya sebagai PSK. Cita-cita Ani dan Ina sempel saja, mereka ingin memiliki Kartu Tanda Penduduk.

Sepeninggal Ani, tersisa Kakek, Pincang dan juga dua orang yang baru datang yaitu Bopeng dan Ati. Ina sempat kembali untuk menceritakan rencana pernikahan dan menyampaikan pesan perpisahannya, kemudian Ina menyebut kolong jembatan tempat tinggalnya sebagai RT Nol RW Nol.

Bopeng adalah lelaki yang juga telah lama tinggal di kolong jembatan sampai pada hari yang sama ketika Ani dan Ina memutuskan untuk pergi, Bopeng telah diterima bekerja sebagai kelasi kapal, yang artinya juga akan meninggalkan kolong jembatan tersebut. Bopeng mengenalkan seorang perempuan yang dijumpainya di pelabuhan bernama Ati. Ati adalah korban penipuan seorang lelaki yang telah menikahinya di kampung halamannya. Ati dijanjikan untuk dibawa ke kampung seberang namun setibanya di pelabuhan kota, lelaki tersebut menghilang dengan membawa serta barang-barang Ati.

Setelah melalui diskusi yang panjang, Pincang setuju untuk mengantar Ati ke kampung halamannya dan akan berusaha mencari pekerjaan di sana. Ati sempat membujuk Kakek untuk turut serta ke kampungnya, namun Kakek menolaknya karena menganggap kolong jembatan tersebut sebagian dari hidupnya, dan Kakek beranggapan kelak akan menjadi pahlawan jika ditemukan mayatnya untuk praktik kedokteran.

2.2 Analisis

Naskah drama RT Nol RW Nol berlatar di kolong jembatan berukuran sedang di suatu kota besar. Iwan Simatupang memulai naskah ini dengan penarasian latar kolong jembatan tersebut sebagai pendukung cerita yang berkisah tentang orang-orang yang tidak mendapatkan tempat yang layak seperti realita atau kenyataan yang terjadi di kehidupan negeri ini.

Topik keseluruhan yang membingkai drama RT Nol RW Nol adalah tentang kisah hidup para gelandangan yang tinggal di kolong jembatan yang harus berusaha keras sepanjang hidupnya untuk mencapai suatu hal yang seharusnya dijamin oleh negara yaitu kehidupan yang layak. Penulis menggambarkan kehidupan para tokohnya tersebut dengan lugas dan tegas. Seperti pada adegan pertama, dalam pernyataan Ani kepada Pincang sebagai berikut:

ANI     : (tolak pinggang di hadapan pincang) “Banyak-banyak terima kasih, bang! Aku sudah bosan dengan labu-siammu yang kaupungut tiap hari dari tong-tong sampah di tepi pasar sana. Labu-siam setengah busuk, campur bawang-prei setengah busuk, campur ubi dan jagung apek, -- bah! Aku bosan! Tidak, malam ini aku benar-benar ingin makan yang enak. Sepiring nasi putih panas, sepotong daging rendang dengan bumbunya kental berminyak-minyak, sebutir telur balado, dan segelas penuh teh manis panas. Dan sebagai penutup, sebuah pisang raja yang kuning emas…”

Sangat jelas bahwa tokoh Ani tengah meluapkan emosi dari pergolakan batinnya, bahwa ia bosan terus menerus hidup dalam kekurangan sehingga mau tidak mau makan dari bahan makanan yang dipungut dari tong sampah. Ini menunjukkan betapa parahnya keadaan kehidupan orang-orang yang biasa disebut dengan gelandangan.

Gelandangan adalah orang yang tidak tentu tempat tinggal dan pekerjaannya sehingga harus lebih keras dalam menjalani hidupnya. Hal ini digambarkan dalam RT Nol RW Nol melalui keadaan dan kisah hidup para tokohnya. Seperti pada pernyataan Ani bahwa nasi dengan lauk daging rendang dan telur balado, juga segelas teh serta sebuah pisang raja, menurutnya adalah menu yang istimewa dan diidamkan oleh para tokohnya. Jelas terlihat bahwa menu yang oleh masyarakat yang mampu dianggap sederhana, oleh mereka menjadi teramat istimewa.  Selanjutnya, dalam adegan kedua yang terdiri atas dialog Pincang dengan Kakek muncul pemikiran sebagai berikut:

PINCANG      : “Semua persoalan ini tak bakal ada, bila kita bekerja, punya cukup kesibukan. Semua kenangan, harga diri, yang Kakek sebutkan tadi, adalah justru masalah yang hanya ada bagi jenis manusia-manusia seperti kita ini: tubuh yang kurang dapat kita manfaatkan sebagaimana mestinya, dan waktu lowong kita bergerobak-gerobak.”

Dapat ditangkap sebenarnya Pincang memiliki pemikiran yang logis dan realistis bahwa untuk hidup layak dirinya harus bekerja, namun pada dialog selanjutnya tersirat bahwa Pincang memiliki mentalitas yang kurang baik: “Mereka anggap kita ini sebagai suatu kasta tersendiri, kasta paling hina, paling rendah.” Ia berkeyakinan bahwa orang-orang di kota tersebut, yang hidupnya lebih layak dari mereka, memiliki prasangka-prasangka terhadap para gelandangan sehingga seberapa keras pun untuk mencari pekerjaan akan sia-sia. Pincang juga berkeyakinan bahwa satu-satunya hal yang dapat menolongnya hanyalah kebetulan dan nasib baik saja. Dilanjutkan dengan kelakarnya dan pendapat lain dari Kakek sebagai berikut: 

PINCANG      : “Mayat kita yang telah busuk, dibawa kuli-kuli kotapraja ke RSUP, lalu ditempeli dengan tulisan tercetak: Tak dikenal. Kita dikubur tanpa upacara, cukup oleh kuli-kuli RSUP. Atau, paling-paling mayat kita disediakan sebagai bahan pelajaran bagi mahasiswa-mahasiswa kedokteran.”

KAKEK           : “Itu masih mendingan. Itu namanya, bahkan dengan mayat kita, kita masih bisa menjadi pahlawan-pahlawan tak dikenal bagi kemanusiaan, lewat ilmu urai untuk mahasiswa-mahasiswa kedokteran. Apa jadinya dengan kemanusiaan nantinya, tanpa kita?”

Dari dialog tersebut memunculkan jalan pikiran kakek yang sama sekali berbeda dengan Pincang. Kakek berpendapat bahwa kelak mayatnya akan menjadi pahlawan tak dikenal bagi kemanusiaan karena bermanfaat bagi ilmu kedokteran. Hal ini memunculkan sudut pandang yang berbeda karena lewat pernyataannya dapat ditangkap bahwa Kakek sebagai mantan kelasi kapal telah memiliki pengalaman lebih sehingga dalam memandang kehidupan pun dapat memiliki pemikiran yang berbeda dengan Pincang meski keduanya sama-sama hidup dalam kekurangan di masa sekarang pada naskah tersebut.

Cerita berlanjut pada adegan tiga yang mengisahkan kedatangan Boperng dan Ati, juga Ani nantinya. Bopeng yang juga penghuni kolong jembatan tersebut datang membawa “nasi istimewa” seperti yang para penghuni kolong jembatan. Bopeng disambut gembira oleh Kakek karena kabarnya Bopeng telah diterima menjadi kelasi kapal setelah sekian lama melamar. Kisah Bopeng ini merepresentasikan bahwa ada kemungkinan untuk orang gelandangan sekalipun bisa mendapatkan pekerjaan asalkan benar-benar besungguh-sungguh dan tekun.

Kemudian, tokoh Ati yang tidak sengaja bertemu dengan Bopeng adalah representasi dari keadaan masyarakat desa yang masih kurang memahami bahwa kian banyak orang menipu demi melanjutkan hidupnya, seperti yang dilakukan seorang lelaki yang menikahi Ati dan menjanjikan hal-hal palsu.

Di tengah suasana yang mencekam karena perseteruan Pincang dan Bopeng mengenai nasib Ati, dihadirkanlah Ina yang juga membawa “nasi istimewa” pada babak keempat. Ina bercerita tentang keputusannya dan Ani untuk menikah setelah tertangkap razia. Ani dijanjikan akan dinikahi oleh seorang laki-laki langganannya, sedangkan Ina memilih untuk menerima lamaran Bang Becak yang selama ini membantunya dalam menjalankan profesinya.

Kakek pun menanggapi kedatangan Ina yang membawa “nasi istimewa” dengan kesedihan mendalam, Kakek enggan memakan nasi pemberian Bopeng maupun Ina karena perasaan sedih akan perpisahan esok hari.

KAKEK           : (Tertawa) “Entah apa rencananya Dewa-Dewa dengan mengirimkan dua kali dalam semalam ini makanan dari jenis yang sekian tahun belakangan ini memimpikannya pun kita, sebagai orang gelandangan, tak berani. Tiba-tiba, malam ini, bintang-bintang di langit, dan rupanya juga roh nenek moyang kita, ingin berseloro dengan kita. Dan sekadar untuk melengkapkan unsur bergurau itu pada pengalaman aneh kita malam ini, selera kita sedikitpun tidak terangsang! Sebab, berkah besar ini secara kontan harus kita bayar dengan berita akan berlayarnya dia (melihat pada bopeng) besok sudah, dan dengan berita lainnya tentang Ani yang tak bakal kemari-kemari lagi. Perasaanku pribadi, entah bagaimana kalian, adalah persis seperti aku beroleh makanan enak-enak dulu sebelum aku digiring ke tiang gantungan.”

BOPENG       : (Tertawa) “Ah, Kakek ada-ada saja. Apa ya separah itu?”

KAKEK           : Kelengangan disebabkan perpisahan, terkadang lebih parah dari kematian sendiri. Mengapa pula kita, manusia-manusia gelandangan, berbuat seolah tak mengerti hal itu?

Dari dialog tersebut dapat ditangkap kembali bahwa Kakek memang berwatak lebih humanis ketimbang tokoh lainnya karena Kakek selalu melihat sesuatu dari cara pandang yang berbeda. Kakek melihat segala suatunya lebih dalam. Kakek merasa berkah melimpah berupa makanan “nasi istimewa” yang selalu diidamkan ini harus dibayar mahal dengan yang perpisahan yang lebih parah dari kematiannya sendiri.

Kemudian dalam kesempatan terakhirnya, Ina mengungkapkan perasaannya kepada Pincang bahwa ia sebenarnya mencintai Pincang, namun Pincang tidak dapat memberinya apapun selain mimpi dan angan-angan.

INA     : “Dan bila aku tadi menerima lamaran bang becak itu, maka itu berarti, bahwa belum tentu aku mencintainya; itu berarti, bahwa pada hakekatnya aku masih tetap pengagum kata-katamu yang dalam-dalam maknanya itu. Tapi juga, Bang, bahwa aku lebih gandrung akan kepastian, kenyataan dan kejelasan. Bukannya aku tak sadar, apa dan bagaimana nasib seorang isteri dari seorang bang becak. Mungkin aku bukan isterinya satu-satunya. Mungkin aku akan berhari-hari tak melihat dia, tak menerima uang belanja. Mungkin tak lama lagi aku bakal jadi perawat dia yang sudah teruk dan tak kuat lagi menarik becaknya, batuk-batuk darah. Tapi, itu semuanya rela kuterima, Bang, demi – dapatnya aku memiliki sebuah kartu penduduk! (Menangis) Kartu penduduk, yang bagiku berarti: berakhirnya segala yang tak pasti.”

Demikianlah pengakuan Ina bahwa sesuatu yang diinginkannya hanyalah kepastian, kenyataan dan kejelasan, yang kesemuanya tidak Ina dapatkan dari Pincang sehingga Ina memilih untuk dinikahi Bang Becak meski nasibnya tetap saja akan sengsara karena harus mengurus suaminya kelak. Namun Ina rela melakukan apapun demi Kartu Tanda Penduduk yang menurutnya sumber dari segala sumber kepastian. Dalam perkataan terakhirnya tercetuslah sebutan RT Nol RW Nol :

INA : (Melihat Kearah Datangnya Bunyi Lonceng Becak) “Selamat tinggal, Erte-Nol / Erwe-Nol -ku…” (Matanya Berlinang-Linang)

Setelah kepergian Ina, Pincang akhirnya setuju untuk mengantarkan Ati kembali ke desanya dan akan berusaha mencari pekerjaan di sana. Ati sempat membujuk Kakek untuk turut serta namun Kakek menolaknya:

KAKEK           : “Ah, kau tak tahu apa arti kolong jembatan ini dalam hidupku. Sebagian dari hidupku, kuhabiskan di sini. Memang, dia milik siapa saja yang datang kemari karena rupa-rupanya memang tak dapat berbuat lain lagi. Ia milik manusia-manusia yang terpojok dalam hidupnya. Yang kenangannya berjungkiran, dan tak tahu akan berbuat apa dengan harapan-harapan dan cita-citanya. Yang meleset menangkap irama dari kurun yang sedang berlaku. (KEMBALI MENGUAP) Pada diriku,  semuanya yang kusebut tadi itu terdapat saling tindih menindih, berlapis-lapis, dan sebagai selaput luarnya yang makin keras: usiaku yang semakin tua! Semakin tua kita, semakin lamban kita, semakin keluar kita dari rel… dan akhirnya: dari tuna karya, kita jadi tuna hidup. Selanjutnya, tinggallah lagi kita jadi beban bagi kuli-kuli kotapraja yang membawa mayat kita ke RSUP. Apabila kita mujur sedikit, maka pada saat terakhir mayat dan tulang-tulang kita masih dapat berjasa bagi ilmu urai kedokteran, menjadi pahlawan-pahlawan tak dikenal bagi kemanusiaan. (MENGUAP) Ah, selamat malam…

Dari dialog yang diutarakan Kakek tersebut dimunculkan kembali pemikiran Kakek yang memaknai hidupnya sebagai suatu yang sederhana. Kakek ingin hidupnya yang dimulai dari kolong jembatan berakhir pula di kolong jembatan tersebut. Tokoh Kakek merepresentasikan sebagai orang yang telah sampai pada penghujung hidupnya dan menyadari kesalahannya di masa muda, meski demikian Kakek berpikir positif dengan berharap kelak mayatnya dapat berguna sehingga ia menjadi pahlawan tak dikenal bagi kemanusiaan.

Menurut uraian di atas dapat ditangkap bahwa masing-masing tokoh dalam naskah ini memiliki pandangan dan perjuangan hidupnya sendiri meski tinggal dalam satu kolong jembatan. Kerasnya hidup yang dialami oleh para tokoh memaksa mereka untuk membenci pemerintah karena menganggap bahwa nasib buruk yang mereka terima karena ulah pemerintah juga. Bahkan, mereka dengan lantang melanggar peraturan pemerintah tanpa rasa takut.

Iwan Simatupang secara tidak langsung mengungkapkan bahwa yang ada dalam benak seorang gelandangan hanyalah bisa makan enak keesokan harinya dengan cara apapun, sekalipun harus merampok. Ia secara implisit seolah berpikir bahwa uang telah membuat manusia menjadi gelap mata.

Seperti pada tokoh kakak beradik Ani dan Ina yang datang membawa membawa kabar bahwa mereka akan dinikahi oleh pria yang menjadi langganan mereka. Akhirnya mereka meninggalkan kolong jembatan yang menjadi tempat mereka tinggal. Iwan Simatupang di sini jelas mengatakan bahwa uang mampu mempermainkan logika seseorang untuk melakukan suatu hal yang tidak lazim dan masuk akal untuk diterima.

Salah satu gaya penceritaan yang berbeda dari Iwan Simatupang yang ingin ditonjolkan adalah ia mengambil latar tempat kolong jembatan sebuah kota metropolitan yang besar penuh dengan kemewahan, namun ia justru menceritakan tokoh-tokoh yang terasing dan mungkin sama sekali tidak dianggap keberadaannya oleh sebagian besar orang.


Bab III

Penutup

Hal-hal yang telah dijelaskan dalam analisis tersebut memperkuat naskah drama dalam menyampaikan permasalahan ketimpangan sosial yang ingin diungkapkan oleh Iwan Simatupang. Ketimpangan adalah hal yang tidak sebagaimana mestinya, adanya ketidakadilan atau ketidakberesan. Jadi ketimpangan sosial merupakan ketidakadilan yang disebabkan oleh suatu hal sehingga berdampak pada kehidupan suatu masyarakat.

Selanjutnya, dalam naska ini Iwan Simatupang mengambil begitu banyak sisi yang berbeda dari para tokoh yang dihadirkannya, mulai dari Kakek yang dulunya seorang mantan klasi kapal, Pincang dengan kondisi fisiknya yang kurang namun telah mencari kerja kemana-mana dan tidak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan karena tentunya sulit sekali lapangan pekerjaan yang mau menerima orang cacat sepertinya. Kemudian Ani dan Ina, kakak beradik yang bekerja sebagai  PSK (Pekerja Seks Komersil), Bopeng seorang laki-laki yang berhasil diterima menjadi kelasi kapal, Ati perempuan desa yang polos. Juga dari tokoh yang dihadirkan secara tidak langsung seperti Bang Becak, Babah dan suami Ati.

Para tokoh dalam drama tersebut diceritakan tidak mempunyai tempat tinggal sehingga memilih tinggal di kolong jembatan. Mereka bahkan tidak mempunyai Kartu Tanda Penduduk sehingga dengan kata lain, sebenarnya mereka tidak diakui sebagai penduduk sebuah negara.

Sebuah penggambaran yang benar-benar realistis diantara ingar bingarnya kehidupan perkotaan yang menyediakan banyak sekali kemewahan namun sama sekali tidak dirasakan oleh tokoh-tokoh yang secara jelas digambarkan oleh pengarang lewat drama ini. Iwan Simatupang dalam RT Nol RW Nol seolah mengerti bagaimana pergolakan batin para tokoh yang diceritakannya, bahwa sebenarnya para gelandangan tersebut juga ingin diakui oleh pemerintah sebagai bagian dari sebuah negara. Hal ini terlihat dari percakapan tokohnya yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dan tempat tinggal yang layak untuk dihuni, mempunyai alamat tetap, dan tentu saja mempunyai Kartu Tanda Penduduk.

Dalam drama ini, ditekankan situasi dan suasana sosial kaum gelandangan dan tunawisma yang tersingkir karena tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan tetap. Oleh sebab itu, dalam dialog naskah drama ini banyak mengungkap tentang pemikiran-pemikiran kaum gelandangan yang sebenarnya sangat mengharapkan adanya pengakuan dari pemerintah, salah satunya direfleksikan kepada tokoh Ina yang menginginkan kepastian, kenyataan dan kejelasan hidup.

Dari naskah drama RT Nol RW Nol dapat disimpulkan bahwa drama yang diangkat oleh Iwan Simatupang sangat dekat dengan dunia keseharian dalam realita kehidupan, yaitu banyak sekali ditemui kaum gelandangan yang hidup dengan tidak layak di bawah kolong jembatan. Drama ini merupakan drama yang mengandung kritik tajam terhadap ketimpangan sosial sehingga RT Nol RW Nol merupakan refleksi ketimpangan sosial.

Pesan yang disampaikan kepada pembaca yaitu manusia harus selalu berusaha dan berjuang dalam menjalani hidup, tanpa ada keputusasaan dalam hidup. Namun naskah ini juga menyampaikan pesan bahwa kita harus lebih peduli dengan kaum yang tersingkir seperti gelandangan karena mereka hidup seperti itu pun bukan sebab inginnya mereka, melainkan sistem pemerintahan yang membuat nasib mereka sengsara dan bahkan membuat mereka gelap mata demi mencapai suatu hidup yang layak.

Hendaknya sebagai pembaca dapat menangkap makna dari refleksi ketimpangann sosial yang telah dihadirkan Iwan Simatupang dalam karyanya ini sehingga dapat lebih mensyukuri hidup dan senantiasa berperingai baik. Drama ini juga menghimbau pembaca agar turut serta dalam pembangunan negara sehingga semua warga negara bisa mendapatkan kehidupan yang layak, serta yang terpenting adalah tidak terjadi ketimpangan sosial.

 

Daftar Pustaka

Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

http://www.lokerseni.web.id/2011/04/naskah-drama-rtnolrwnol.html diakses dan diunduh pada tanggal 12 Juni 2013 pukul 08.51.

http://id.wikipedia.org/wiki/Iwan_Simatupang diakses pada tanggal 12 Juni 2013 pukul 08.51.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    91.917