Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Rectoverso: Kesadaran Sederhana dalam Memaknai Cinta

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 13 May 2014
di Sastra Indonesia - 0 komentar

Rectoverso: Kesadaran Sederhana dalam Memaknai Cinta

Oleh Lucky Ariatami (121211132041)

Departemen Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Airlangga

2013

 

Rectoverso: Kesadaran Sederhana dalam Memaknai Cinta

Dewi Lestari Simangunsong mulanya lebih dikenal sebagai penyanyi sebelum dikenal sebagai seorang penulis dengan nama penanya, Dee. Sebagai penulis, Dee memang lebih produktif dalam menerbitkan karyanya yang berbentuk prosa seperti novel dan kumpulan cerita pendek. Berbeda dengan novel maupun kumpulan cerita pendeknya yang lain, dalam kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Rectoverso, Dee tidak hanya menghadirkan beberapa cerita pendek saja, melainkan juga beberapa lirik  yang merupakan bagian lain dari cerita pendek tersebut.

Pada tiap cerita pendek (cerpen) dalam Rectoverso terdapat lirik yang dilagukan oleh Dee sendiri. Menurut situs online Kamus Besar Bahasa Indonesia, lirik lagu termasuk dalam genre sastra karena lirik adalah karya sastra, yaitu termasuk dalam puisi, yang berisi curahan perasaan pribadi. Jadi, lirik merupakan salah satu kategori puisi sehingga dapat dikaji sesuai dengan hakikat puisi.

Menurut situs wikipedia, Rectoverso adalah pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan: saling melengkapi. Sehingga maknanya sangat dalam dan dianggap Dee mewakili isi dari kumpulan cerpen dan puisinya. Meski fokus dalam buku ini adalah memuat sebelas cerpen, sebelas puisi di dalamnya memiliki peran penting karena sesungguhnya juga dapat diapresiasi sendiri terlepas dari cerpennya.

Sebelas puisi dalam buku ini memiliki tema yang serupa yaitu cinta dan rasa kasih. Meski dalam kesebelas puisinya Dee menghadirkan kisah peristiwa sehari-hari yang menyangkut perasaan cinta manusia, puisi-puisi tersebut memiliki kisah yang berbeda-beda karena dalam cinta itu sendiri terdapat konflik, pengorbanan, dan bahkan pengkhianatan. Hal ini menjadikan kesebelas puisi dalam buku Rectoverso sangat unik dan patut dianalisis. Namun puisi yang dianalisis secara khusus dalam makalah ini adalah Curhat buat Sahabat, Malaikat Juga Tahu, Grow a Day Older, Cecak di Dinding, dan Peluk karena dirasa puisi-puisi tersebut yang dapat memberikan corak-corak masalah analisis puisi secara struktural.

*

Slametmuljana dalam Pradopo (2005:51) mengatakan bahwa alat untuk menyampaikan perasaan dan pikiran sastrawan adalah bahasa. Baik tidaknya tergantung pada kecakapan sastrawan dalam mempergunakan kata-kata. Sastrawan berperan penuh dalam segala bahasa yang dituangkan dalam puisinya sehingga penggunaan bahasa, gaya, serta bentuk memiliki hubungan yang erat dengan penyair.

Gaya bahasa merupakan sarana sastra yang turut menyumbangkan nilai kepuitisan atau estetik karya sastra, bahkan seringkali nilai seni suatu karya sastra ditentukan oleh gaya bahasanya (Pradopo, 2005:263). Ada beberapa penyair yang menggunakan kata-kata penuh nilai estetika sehingga pembaca memerlukan berbagai alat bantu untuk memaknai arti puisi tersebut. Ada pula beberapa penyair yang dalam pembuatan puisinya tidak memerlukan bahasa yang penuh imajinasi dan sulit dimengerti, atau hanya menggunakan bahasa yang umum dan erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari namun sudah cukup merangkum dan menggantikan pemikiran penyair yang penuh makna. Dee memilih yang kedua.

Pemilihan kata atau diksi dalam puisi-puisi Dee menggunakan bahasa umum yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan dapat ditangkap dengan mudah oleh pembaca, namun tidak berarti memiliki makna yang dapat begitu saja dipahami. Medium pengucapan maksud yang hendak disampaikan penyair adalah bahasa dalam kata dan pada umumnya bersifat khas. Satuan arti yang menentukan struktur formal linguistik karya sastra adalah kata (Pradopo, 2005:48). Kata-kata dalam puisi terlahir dari pengalaman-pengalaman jiwa penyair, yaitu jiwa yang sudah diberi suasana tertentu oleh penyair. Tampak dalam puisinya Dee menggunakan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti pada bait puisi:

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku

Menanti seorang yang biasa saja

Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit

(Curhat buat Sahabat)

 

 

Hal ini disebabkan bahasa sehari-hari dirasa sudah cukup untuk dapat melukiskan apa yang dialami jiwa Dee sebagai sang penyair. Penyair berusaha membuat pembaca dapat turut merasakan dan mengalami seperti apa yang dirasakan dan dialami penyair. Maka dari itu, penyair menyederhanakan pemakaian kata di dalam puisinya. Penggunaan kata-kata bahasa sehari-hari dapat memberi efek gaya yang realistis, sedang pengunaan bahasa atau kata-kata nan indah dapat memberi efek romantik (Pradopo, 2005:53).

Kosakata yang dipakai dalam puisi-puisi Dee menggunakan kata-kata umum yang mudah dimengerti. Meskipun memberikan efek kejelasan secara langsung, terasa bahasanya sangat indah dengan kepuitisan yang khas. Kata-kata dalam kehidupan sehari-hari diberi makna baru oleh penyair. Dalam pemilihan kata-kata, di samping penyair memilih berdasarkan makna yang akan disampaikan dan tingkat perasaan serta suasana batinnya, juga dilatarbelakangi oleh faktor sosial budaya penyair, sehingga suasana perasaan penyair merupakan hal yang paling berpengaruh dalam menentukan pilihan kata.

**

Puisi Curhat buat Sahabat, Malaikat Juga Tahu, Grow a Day Older, Cecak di Dinding dan Peluk, kesemuanya merupakan monolog si aku kepada orang yang dikasihinya. Untuk dapat memahami makna puisi-puisi tersebut diperlukan diberikan parafase dari masing-masing puisi baru kemudian proses analisis yang menuju penafsiran makna sajak (Pradopo, 2005: 127-128). Parafrasenya sebagai berikut.

Curhat buat Sahabat merupakan monolog si aku kepada seorang sahabatnya yang selalu ada untuknya. Melalui sajaknya si aku berkisah tentang keputusannya untuk berhenti mencari sosok kekasih. Si aku akhirnya hanya ingin menanti seseorang yang biasa saja dan selalu ada untuknya, dan orang itu sesungguhnya adalah sahabatnya, seperti pada bait:

“Telah lama, kumenanti

Satu malam sunyi untuk kuakhiri

Dan usai tangis ini, aku kan berjanji…

Untuk diam, duduk di tempatku

Menanti seorang yang biasa saja

Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit”

Malaikat Juga Tahu mengisahkan seorang yang selalu ada di dekat orang yang dikasihinya namun orang yang dikasihinya tidak pernah sedikitpun mencintai si aku meski ia membutuhkan si aku. Hal ini merepresentasikan cinta yang bertepuk sebelah tangan:

“Kau selalu meminta terus kutemani

Dan kau s’lalu bercanda andai wajahku diganti

Melarangku pergi karena tak sanggup sendiri”

Si aku yang sungguh mencintai orang tersebut dengan tulus dan tanpa pamrih percaya diri bahwa kasihnya sungguh-sungguh, namun orang yang dikasihinya tidak kunjung sadar akan kesetiaan cinta yang nyata dari sosok si aku.

“Namun tak kau lihat

Terkadang malaikat tak bersayap,

Tak cemerlang, tak rupawan

Namun kasih ini, silakan kau adu

Malaikat juga tahu

Aku kan jadi juaranya”

 

Dalam Grow a Day Older, si aku berkisah tentang kisah persahabatannya dengan orang yang dikasihinya, hingga si aku dan orang yang dikasihinya sadar bahwa keduanya memiliki perasaan yang lebih dari sekadar bersahabat. Sampai pada akhir bait puisinya si aku memilih untuk berpasrah kepada takdir.

“If everything has been written down, so why worry, we say

It’s you and me with a little left of sanity”

 

Cecak di Dinding berkisah tentang cinta yang tulus dari si aku kepada orang yang jelas-jelas tidak mungkin dapat diraihnya, sehingga si aku ingin menjadi cecak agar dapat selalu menemani orang yang dikasihinya. Sosok cecak menjadi simbol kesetiaan dan ketulusan cinta si aku, sesuai analoginya bahwa cecak senantiasa menjaga manusia dari nyamuk. Sehingga puisi ini merepresentasikan cinta yang tak sampai.

“Ku ingin jadi cecak di dindingmu

Cecak di dindingmu

Hanya suara dan tatapku menemanimu

Dan kumenyadari tanganku

tak kan mampu meraihmu

(…)

Cecak di dindingmu…

Melekat, menemani, membelai dinding jiwamu...”

Peluk, menghadirkan monolog seseorang yang mengungkapkan kejujuran dari hatinya bahwa ia tidak lagi mencintai kekasihnya, tergambar dalam bait:

“Tetapi apalah arti bersama, berdua

Namun semu semata”

Apa yang ingin disampaikan si aku adalah rasa pedih karena tidak lagi saling mencintai dan keputusan berpisah yang harus diterima oleh si aku dan kekasihnya, namun itulah kenyataan perasaan yang dialami si aku. Si aku ingin dipeluk sekali saja sebelum berpisah. Hal ini menimbulkan rasa ketentraman bagi pembaca karena meski akan berpisah, dikisahkan keduanya telah saling merelakan.

“Tak juga kupaksakan

Setitik pengertian

Bahwa ini adanya

Cinta yang tak lagi sama

Dan kini kuharap kudimengerti

Walau sekali saja pelukku”

Pengalaman jiwa yang diungkapkan dalam kata berupa gambaran konkret tentang cinta dan perasaan yang ditimbulkan. Juga pengalaman itu dihubungkan dengan konflik-konflik yang berbeda. Sekilas terasa kepuitisan sajak ini terletak pada kepadatannya karena hanya melukiskan apa yang penting dari apa yang dilihatnya sehingga dapat memberikan suasana yang dimaksud dan memberikan kejelasan, namun perlu dikaji lebih mendalam agar dapat memahami makna sebenarnya yang terkandung dalam puisi-puisi tersebut.

***

Dalam lingkup akademik, segala hal yang diistilahkan harus didefinisikan dengan jelas sehingga puisi berusaha didefinisikan dalam rumusan, yaitu bahasa yang dipadatkan, bersifat personal, dan kecenderungan estetika dominan. Puisi bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna, oleh karena itu puisi perlu dikaji sebagai struktur yang bermakna dan bernilai estetis. Menurut Aftarudin (1990:68), setiap sajak menuntut empat hal dari pembacanya yaitu:

  1. mengenal bahasa puisi sebagai karya seni yang imaginatif
  2. memiliki persiapan batin tentang pengalaman seni yang mensifat puisi
  3. menempatkan diri seperti penulisnya
  4. mengetahui persoalan yang dihadapi penulisnya

Sehingga interpretasi suatu karya ikut ditentukan oleh situasi pembaca (Teeuw, 2003:149). Namun bukan berarti tidak objektif karena dalam pemberian makna pembaca harus berdasarkan data faktual dalam karya tersebut.

Sebelumnya telah dijelaskan parafrase dari masing-masing puisi, namun untuk dapat menganalisis makna di balik puisi-puisi Dee, harus diketahui terlebih dahulu simbol-simbol yang digunakan dalam melukiskan atau menyampaikan suatu maksud pada puisi-puisinya tersebut.

Pradopo (2005:120)  mengatakan bahwa puisi sebagai salah satu karya sastra merupakan sebuah struktur. Struktur fisik dapat disebut juga struktur kebahasaan. Menurut Herman J. Waluyo (1987:25), puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Sehingga untuk memahami puisi diperlukan analisis terkait struktur fisik dan struktur batinnya seperti berikut.

Dalam Curhat buat Sahabat, terdapat metafora pada “Telah jauh, kumendaki/ Sesak udara di atas puncak khayalan” dan “Telah jauh, kuterjatuh/ Pedihnya luka di dasar jurang kecewa”. Terungkap bahwa si aku telah mengalami jatuh bangun dalam mencari orang yang layak mendapatkan cintanya. Kalimat pertama mempresentasikan keadaan si aku yang pernah berjuang mencapai keinginannya untuk menemui sosok yang dicintainya, namun dalam kalimat kedua nampak berkebalikan yaitu si aku sadar bahwa sosok tersebut bukanlah orang yang patut dicintai. Sehingga pada akhirnya si aku mendapatkan kesadaran bahwa sosok yang selama ini mencintainya dengan sungguh adalah sahabatnya, namun si aku memilih pasrah menanti cintanya. Dee membuat puisi ini tidak terasa bagai pertemuan melainkan kesadaran.

Salah satu karakteristik puisi adalah adanya ambiguitas yang disebabkan oleh bahasa puisi itu memiliki arti ganda. Kegandaan arti itu bisa berupa kegandaan arti sebuah kata, frase, ataupun kalimat. Dalam Malaikat Juga Tahu, ambiguitas terdapat pada kalimat “Melarangku pergi karena tak sanggup sendiri”. Kalimat ini menimbulkan pengartian ganda karena siapa yang tidak sanggup sendiri tidak diketahui, apakah si aku atau orang yang dikasihinya. Selain itu, malaikat yang memiliki citra sebagai makhluk yang baik direpresentasikan sebagai si aku yang ingin mengatakan bahwa tidak ada makhluk yang sempurna dalam kalimatnya “Namun tak kau lihat/ Terkadang malaikat tak bersayap,/ Tak cemerlang, tak rupawan” menjelaskan bahwa untuk melihat seseorang tidak dapat melalui fisiknya saja melainkan melalui kebaikan dan ketulusan hatinya. Di sini terlihat betapa kesungguhan cinta si aku untuk membuktikan cintanya meski jelas bertepuk sebelah tangan.

Dalam Grow a Day Older, terdapat kalimat “If everything has been written down, so why worry, we say/ It's you and me with a little left of sanity/ If life is ever changing, so why worry, we say/ It's still you and I with silly smile as we wave goodbye” yang menujukkan bahwa si aku dan sahabat dikasihinya tidak khawatir dengan apa yang akan terjadi karena semua telah ditakdirkan dan kehidupan akan terus berubah. Si aku tetap merasa bersyukur dan berserah dengan apapun yang akan terjadi pada hubungannya dengan sahabatnya:

“Having you close to my heart as I say a little grace
I'm thankful for this moment cause
I know that you”

Sehingga didapatkan pemaknaan bahwa dalam puisi Grow a Day Older ini cinta dipasrahkan kepada takdir dan tidak ada yang salah akan hal tersebut. 

Suatu pemikiran yang filosofis terdapat pada simbol cecak dalam puisi Cecak di Dinding. Cecak dimaksudkan Dee sebagai hewan yang setia meski tidak dipedulikan oleh manusia sehingga cecak merepresentasikan sebagai manusia yang ingin menjaga orang yang dikasihinya dengan setia tanpa mengharapkan balasan:

“Kuingin jadi cecak di dindingmu

Cecak di dindingmu

Hanya suara dan tatapku menemanimu

Dan kumenyadari tanganku

tak kan mampu meraihmu

Walau cinta, katanya, takkan lelah memberi”

Meski demikian, dalam  kalimat “Walau cinta, katanya, takkan lelah memberi” terdapat kata “katanya” yang merepresentasikan bahwa sebenarnya si aku sedang mengalami dilema karena cintanya yang tidak berbalas tersebut. Kesetiaan cinta yang tak sampai dalam Cecak di Dinding ini konsep sedehana namun tetap dalam yang ditawarkan oleh Dee.

Dalam perpisahan cinta di peristiwa sehari-hari mungkin yang terbayang adalah penghianatan, namun Dee dalam puisinya Peluk, menghadirkan konflik ini dengan tuturan metaforis pada bait sebagai berikut:

“Tiada yang tersembunyi

Tak perlu mengingkari

Rasa sakitmu

Rasa sakitku”

Yaitu berarti si aku dan kekasihnya sama-sama merasakan rasa sakit yang sama sehingga keduanya sudah tidak lagi perlu menyembunyikan dan mengingkari perasaannya. Sehingga terlihat jelas Dee menonjolkan sebuah perpisahan dalam Peluk tanpa membuatnya seperti sebuah perpisahan melainkan kesadaran, sisi kerelaan cinta.

Dari analisis struktur puisi Curhat buat Sahabat, Malaikat Juga Tahu, Grow a Day Older, Cecak di Dinding dan Peluk diketahui Dee dapat menyelipkan makna yang dalam pada tiap puisinya meski menggunakan kata-kata bahasa sehari-hari yang sederhana. Konflik yang diangkat masing-masing puisi mengacu pada makna cinta yang dihadirkan berdasarkan kesadaran sederhana sosok si aku dalam puisi-puisinya tersebut, membuatnya terasa nyata dan tidak dibuat-buat. 

****

Seperti yang dikatakan Pradopo (2005:53) bahwa penggunaan kata-kata bahasa sehari-hari dalam puisi dapat memberi efek gaya yang realistis, dan pengunaan bahasa atau kata-kata nan indah dapat memberi efek romantik. Dalam puisi Curhat buat Sahabat, Malaikat Juga Tahu, Grow a Day Older, Cecak di Dinding dan Peluk, dapat disimpulkan bahwa Dee memberi efek gaya yang realistis dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang terkesan sederhana namun juga memperhatikan keindahan kata-katanya sehingga menimbulkan efek romantik: bahasanya sangat indah dengan kepuitisan yang khas.

Meski menggunakan bahasa yang sederhana, Dee dapat menyelipkan makna yang dalam pada puisi-puisinya. Dalam mencari makna dari puisi-puisi tersebut tidak dapat langsung terungkap, melainkan melalui parafrase kemudian analisis struktur sehingga akan didapatkan makna yang tidak menyimpang dari puisi-puisi tersebut. Dee membuat suasana dalam puisi-puisi cintanya tidak seperti perpisahan, bukan juga perjumpaan, melainkan sebuah kesadaran. Sehingga sebagai pembaca dalam menghayati puisi-puisinya dapat merasakan kepasrahan yang Dee tonjolkan dalam tiap puisinya.

Dee menghadirkan perasaan kedamaian karena segala sesuatunya telah diserahkan kepada pembaca untuk menjalani kelanjutan dari kisah cinta dalam puisi-puisinya yang memuat berbagai macam konflik: kesadaran seseorang yang memilih pasrah menanti cintanya dalam Curhat buat Sahabat, kesungguhan cinta meski jelas bertepuk sebelah tangan dalam Malaikat Juga Tahu, kisah cinta yang dipasrahkan kepada takdir dalam Grow a Day Older, kesetiaan cinta yang tak sampai dalam Cecak di Dinding, dan kerelaan cinta dalam Peluk.

Konflik cinta yang dekat dengan peristiwa sehari-hari yang diangkat masing-masing puisi Dee mengacu pada makna cinta yang dihadirkan berdasarkan kesadaran sederhana sosok si aku sehingga membuatnya terasa nyata dan tidak dibuat-buat.

  

Daftar Pustaka

Aftarudin, Pesu. 1990. Pengantar Apresiasi Puisi. Bandung: Angkasa.

Lestari, Dewi. 2013. Rectoverso. Yogyakarta: Penerbit Bentang.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

http://dee-idea.blogspot.com/2008_09_01_archive.html diakses pada tanggal 19 Juni 2013 pukul14.30.

http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Lestari diakses pada tanggal 19 Juni 2013 pukul14.30.

http://kbbi.web.id/ diakses pada tanggal 19 Juni 2013 pukul 14.00.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    98.359