Lucky Ariatami

I am the luckiest person in the whole wide Me.

Semantik = Ruwet (?)

diposting oleh ariatamilucky-fib12 pada 22 April 2014
di Linguistik - 0 komentar

Semantik adalah cabang linguistik yang meneliti arti atau makna (Verhaar, 2010: 385). Verhaar (2010:385) memaparkan bahwa makna atau arti hadir dalam tata bahasa (yakni morfologi dan sintaksis) maupun leksikon sehingga semantik dibagi menjadi semantik gramatikal dan semantik leksikal. Semantik leksikal yang menyangkut makna leksikal inilah yang kemudian menyelidiki makna yang ada pada leksem-leksem dari suatu bahasa. Leksem sendiri merupakan istilah yang lazim digunakan dalam ilmu semantik untuk menyebut satuan bahasa bermakna.

Salah satu hal yang menjadi perbincangan banyak orang dan kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari yakni anggapan dan kenyataan (yang memang sering terjadi) bahwa persoalan makna merupakan sesuatu yang rumit, sulit, bahkan ruwet. Hal ini diakui oleh Chaer (2002:27) bahwa persoalan makna memang sangat sulit dan ruwet karena, walaupun makna adalah persoalan bahasa, tetapi keterkaitan dan keterikatannya dengan segala segi kehidupan manusia sangat erat. Segi-segi kehidupan manusia itu sendiri sangat kompleks dan luas sehingga persoalan makna menjadi sulit. Untuk dapat menelusuri hal tersebut, baiknya memahami terlebih dahulu konsep bahasa yang berkaitan erat dengan makna, sehingga akan diketahui penyebab timbulnya persoalan makna dalam kaitannya dengan segi kehidupan manusia.

Bahasa sebagai alat komunikasi yang dapat menyampaikan ide, konsep, gagasan, emosi, kehendak, dari seorang manusia (selaku penutur) kepada manusia yang lainnya, masih mempunyai persoalan dan hambatan. Menurut Chaer (2002:28), persoalan ini dapat bersumber dari bahasa itu sendiri atau sebagai akibat dari kemampuan berbahasa dan bernalar penuturnya yang kurang. Maksudnya, bersumber dari bahasa itu sendiri yakni apabila ada lambang-lambang bahasa yang bisa melambangkan dua konsep atau lebih, misalnya dalam bahasa Indonesia kata bisa dapat berarti ‘mampu’ atau ‘dapat’ dan juga berarti ‘zat racun’.

Perlu diingat bahwa sebagai alat komunikasi verbal, bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang tidak memiliki hubungan wajib (bersifat arbitrer) antara lambang sebagai hal yang menandai yang berwujud leksem dengan benda atau konsep yang ditandai[1]. Sifat inilah yang menyebabkan kerancuan karena kesepakatan suatu bahasa dalam suatu masyarakat berbeda dengan masyarakat yang lain. Selain itu, makna sebuah kata bergantung pada nuansa yang dihadirkan oleh penuturnya, sehingga makna secara tidak langsung  berkaitan erat dengan latar belakang budaya, pandangan hidup, dan status sosial penuturnya.

Persoalan makna juga dapat diakibatkan oleh kemampuan berbahasa dan bernalar penuturnya yang kurang, sehingga seringkali sebagai penutur tidak dapat membedakan apa yang disebut informasi dan maksud. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep makna, informasi, dan maksud, perlu dipahami agar tidak mengalami kerancuan dalam berbahasa. Chaer (2002:34) menjelaskan bahwa makna adalah gejala dalam ujaran, sedangkan informasi adalah gejala luar ujaran. Dicontohkan leksem ayah dan bapak memang memberi informasi yang sama yaitu ‘orang tua laki-laki’ tetapi maknanya tidak sama persis karena bentuknya berbeda.

Selain informasi, ada istilah maksud. Kalau informasi merupakan sesuatu di luar ujaran dilihat dari segi objeknya, maksud dilihat dari segi pengujar, orang yang berbicara, atau pihak subjeknya (Chaer, 2002:35). Maksud banyak digunakan dalam bentuk ujaran yang berupa metafora, ironi, litotes, dan bentuk-bentuk gaya bahasa lainnya, contohnya ujaran seorang ayah kepada anaknya setelah memeriksa nilai rapor yang kurang memuaskan, “Rapormu bagus sekali, Nak,” jelas yang dimaksud ayahnya bukanlah pujian melainkan teguran.

Uraian mengenai penyebab persoalan makna tersebut menjadikan ilmu semantik sebagai ilmu yang penting, karena sebagai manusia kita tidak mungkin hidup tanpa berkomunikasi. Peran bahasa (dan segala sesuatu yang terkait dengan persoalan makna) sebagai alat komunikasi penting untuk dipahami oleh setiap individu agar tidak mengalami kerancuan. Dapat disimpulkan bahwa semantik sebagai ilmu yang meneliti makna telah berhasil menjembatani anggapan kebanyakan orang yang berpendapat bahwa persoalan makna sangatlah rumit, buktinya, dalam studi semantik kita dapat memahami persoalan makna tersebut.

 

 

Daftar Pustaka:

Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Verhaar, J.W.M. 2010. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.



[1] Berkaitan dengan segitiga semantik Ogden dan Richard (dalam Chaer, 2002:31) yakni symbol, reference, dan referent. Hubungannya adalah symbol melambangkan reference, dan reference merujuk kepada referent. Maksudnya, sebuah leksem mengandung makna atau konsep yang bersifat umum, sedangkan sesuatu yang dirujuk bersifat tertentu.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

Arsip

Goodreads

Pengunjung

    97.167